Showing posts with label Bunsay IIP Batch #4. Show all posts
Showing posts with label Bunsay IIP Batch #4. Show all posts

Tuesday, September 25, 2018

Aliran Rasa Game Level 1 Bunda Sayang (Komunikasi Produktif)

Bismilahirrohmanirrohim,

Bagi saya yang baru sekali mengikuti kelas Bunda Sayang, menjalani game level 1 ini rasanya campur aduk. Terutama dalam hal aturan pengerjaan tugas. Awalnya saya bingung dengan sistemnya. Namun lama-kelamaan asik juga.

Mengerjakan tugas Bunda Sayang ternyata rasanya seperti menulis buku harian. Kalau ada rasa sebel, bisa segera redam karena hal yang membuat mengganjal tumpah semua di tulisan. Selebihnya saya rasa semua tulisan yang dikumpulkan bisa difungsikan sebagai memoar diri. Suatu hari nanti bisa menjadi memori yang mungkin membuat senyum-senyum sendiri. Saya jadi teringat lagu milik Tulus yang berjudul Monokrom.
"Lembaran foto hitam putih. Aku coba ingat lagi warna bajumu kala itu. Kali pertama dihidupku. Manusia lain memelukku.
Lembaran foto hitam putih. Aku coba ingat lagi wangi rumah di sore itu. Kue cokelat balon warna-warni. Pesta hari ulang tahunku."

Mungkin ketika saya kembali membuat tulisan yang saya buat, saya jadi teringat suasana rumah kala itu. Suasana kejar-kejaran menulis tugas karena kuatir Azka segera bangun dari tidur siangnya. Suasana ketika dalam waktu bersamaan ada tugas diklat pengurus IP yang harus dituntaskan. Celoteh batin yang terus mengingatkan bahwa sekarang sedang berlangsung tnatangan.

Untuk itu meskipun saya mengumpulkan tugas dengan link dari Gdocs, namun semua tulisan itu juga saya salin ke blog ini. Selain bertujuan mengukir keabadian, saya berharap tulisan saya bermanfaat bagi banyak orang.

Untuk komunikasi produktif sendiri, saya menganggapnya sebagai alarm ketika emosi. Ketika lelah melanda dan semua orang seperti membuat ulah, hati saya berdering, "Hayo! Komunikasi produktif lho!" Akhirnya tidak jadi marah-marah dengan panjang dan lebar. Ketika ingin berbincang dengan suami, alarm saya kembali berdering, "Hayo! Ingat komunikasi produktif!" Sehingga saya menunda membanjiri suami dengan kalimat bertubi-tubi apabila saya melihatnya lelah setelah seharian penuh bekerja.

Semangat terus untuk game level selanjutnya! Saya mohon didoakan ya :)

Saturday, September 15, 2018

Komunikasi Produktif Hari Ke-10

Sepertinya tanggal 13 September 2018 ini diawali pagi yang bisa disebut dengan kegagalan dalam komunikasi produktif. Mengapa? Karena saya terpancing emosi. Sebetulnya hari ini adalah jatah libur bagi suami. Artinya, Azka dan papinya bisa bermain bersama seharian penuh.

Biasanya, ketika hari libur tiba maka kami akan membersihkan rumah bersama. Atau, yah tetap saya sendiri yang membersihkan namun bebas tanpa gangguan. Terkadang saya juga menyanggupi masak menu rumit di hari-hari ini. Intinya, saya bisa mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga tanpa harus ada yang menarik-narik ujung baju. Pagi ini terasa berbeda. Azka dan papinya bermain di semua sudut dan meninggalkan kekacauan yang sulit saya toleransi. Dan sepertinya bagi mereka, kekacauan ini terasa biasa saja.

Contohnya, ketika Azka saya minta mandi. Dia menolak ditemani papinya. Baiklah, seperti biasa. Saya yang melakukannya. Tapi mengapa saat keluar kamar mandi, tidak ada satu pun barang yang kembali ke tempat semula. Suami saya hanya duduk-duduk dan seperti saya katakan sebelumnya. Kekacauan ini tidak masalah bagi dirinya. Begitu pula Azka. Masalah ini hanya milik saya sendiri.

Awalnya memang saya pendam. Mengingat menekan emosi adalah PR bagi saya. Namun, lama-lama saya mulai menebarkan amarah dengan mengatakan, “Duh kenapa sih, di sini berantakan. Di sana berantakan. Belum dibereskan yang sini, di sana sudah kacau.” Sebuah kalimat yang entah pangkalnya berada di mana, sehingga maksudnya pun sulit dijangkau. Sulit untuk papinya, apalagi anaknya yang masih balita.

Saya sedikit melirik suami. Dia tak menyadari lirikan saya. Saya merasa dia sedikit berpikir dan sepertinya dalam hatinya berkata, “Iya deh nanti dibantuin. Gitu aja pake marah-marah.”

“Mami marah?” kata Azka.

“Iya.”

“Nanti kita bersihkan ya,” suami saya ambil suara.

Setelah itu kami pergi ke minimarket yang tak jauh dari rumah. Sebelumnya, kami mampir sebentar ke ATM. Saya rasakan gejala sakit lambung. Deg! Bukan, ini bukan sakit lambung biasa. Ini gejala penyakit hati!

Saya tertekan karena saya punya masalah. Masalahnya adalah masalah saya bukan masalah bagi orang lain. Dan orang lain itu adalah keluarga saya. Orang terdekat saya. Saya makin tertekan. Namun…sejenak saya melakukan analogi-analogi.

Ini seperti kita sedang berada di sebuah pasar. Semua orang bergembira dan tertawa meskipun bau, berisik, becek, dan kotor. Lalu, kita datang membawa pemikiran bahwa pasar adalah mall yang bersih, dingin, diiringi musik, dan harum. Kita mengeluh. Mengapa pasar tidak seperti mall. Mengapa pasar harus berbau? Padahal mall bisa harum. Mengapa pasar becek? Padahal lantai mall selalu bisa bersih dan mengkilat. Dan sebagainya.

Apakah tempatnya salah? Apakah orang yang tertawa dan bergembira itu aneh? Jawabannya pastilah tidak. Kita menempatkan raga di tempat yang jauh dari pemikiran. Pikiran kita saja yang tidak berpadu dengan raga. Menghasilkan kekecewaan karena merasa apa yang dilihat tidaklah seharusnya.
Itulah yang saya renungkan selama perjalan pulang. Di atas motor sembari membawa galon Aqua. Mungkin saya memang butuh Aqua.

Sebelum motor tepat masuk ke dalam garasi, sakit lambung saya mereda. Saya paham, bahwa tidak mengapa sedikit bersantai dengan rumah yang berantakan. Toh suami sedang liburan dan tidak ada satupun protes keluar dari lisannya. Azka pun sedang bahagia menikmati waktu dengan papinya, yang sehari-hari selalu sibuk bekerja.

Muka saya lebih ceria. Dan saya turun tangan membereskan kekacauan. Namun, baru saja tangan ini akan memungut mainan dari lantai. Sudah ada suami yang lebih dulu membereskan. Semuanya. Ah senangnya.

Mengapa tadi saya harus marah-marah? 


Komunikasi Produktif Hari Ke-9

“Mami, mainan kota salju lagi yok,” kata Azka sembari menarik-narik tangan saya. Ini masih pukul 06.15. Sarapan untuk dirinya pun belum terhidang. Masa rumah sudah mau berantakan?

Pagi ini komunikasi produktif saya hampir gagal. Intonasi saya hampir meninggi. Hampir. Kalau saja benak saya tidak berbisik, “Hayo lagi BunSay.” Pasti saya sudah gagal betulan.

Ketika Azka menarik-narik saya itu bukan masalah. Namun masalahnya adalah jika sepagi itu rumah sudah berantakan, lantas siang hari nanti akan seperti apa?
Akhirnya, saya turuti permintaannya bermain kota salju dengan satu syarat. “Nanti Azka yang bereskan gabusnya ya.”

“Iya.”

Saya memasak sarapan sembari bolak-balik ke ruang tamu karena di sanalah Azka menumpahkan imajinasinya. Termasuk menumpahkan dua toples remah-remah gabus yang digunakannya sebagai tiruan salju. Bayangkan itu. Remahan gabus tentunya sangat ringan. Hembusan angin yang halus, sudah cukup membuatnya menyebar kemana-mana.

“Ayok! Sebelum makan, saljunya sudah dimasukkan toples ya.”

Ketika memasak, sedikit saya melirik ke belakang. Azka benar-benar memasukkan gabus ke tempatnya semula. Dia berlagak seperti ekskavator yang sedang memasukkan lumpur ke dalam dump truck.

“Sudah, Mi,” katanya sambil menunjukkan salah satu toples yang sudah separuh terisi.

“Belum itu. Tadi sebelum main kan penuh, sekarang dipenuhin lagi dong.”

Tanpa menjawab, dia meneruskan kerjanya. Alhamdulillah. Walaupun akhirnya saya turun tangan juga, namun Azka tidak langsung kabur. Dia tetap ikut membersihkan remahan gabus dengan ruas-ruas jarinya yang masih kecil.

Setelah itu, kami sarapan bersama. Semua berjalan menyenangkan. Tidak ada anak yang tantrum dan ibu yang emosi. Ketika matahari mulai sangat terik Azka berkata, “Ayo, Mi. Kita ke kebun cari ulat.”

“Hayo lagi BunSay,” sekali lagi benak saya berbisik.

Komunikasi Produktif Hari Ke-8

Hari ini tanggal 11 September 2018. Di saat yang lain merasakan hari libur atau malah libur akhir pekan super panjang, lain halnya dengan kami. Suami tidak libur dan seperti biasa saya hanya berdua dengan Azka.

Sama seperti kemarin, Azka terbangun ketika adzan subuh berkumandang. Dia langsung berteriak minta diajak ke masjid. Satu hal yang saya lihat perubahannya sekitar satu bulang belakangan. Azka selalu bisa terbangun dengan adzan dan dia seperti geragapan ketika bangun karena was-was sudah ditinggal ke masjid oleh papinya. Syukurlah hari ini ayah dan anak bisa bersama menuju masjid.

Sakit radang tenggorokan saya mulai membaik sejak memutuskan menemui dokter semalamnya. Setelah satu minggu bertahan mengusir penyakit dengan apa yang ada. Gagal. Harusnya dari dulu saja ya ke dokternya. Satu lagi masalah saya. Untuk penyakit, saya sering menganggap enteng. Seperti beberapa tahun lalu, saya sadar telinga sakit. Seperti berdengung dan ditekan kuat-kuat. Saya anggap itu hanyalah sakit biasa. Ternyata, saluran di telinga saya ada yg menutup. Untung bisa diobati dengan rawat jalan. “Dicoba obat ini dulu ya, kalau belum membaik harus operasi,” kata dokter sembari menulis resep. Tanpa memandang saya sama sekali. Saya juga tidak memandang beliau sebenarnya. Lebih tertarik dengan lampu yang melingkar di kepalanya. Mengingatkan tentang susur gua yang tidak pernah jadi.

Penyakit yang telah membaik, memudahkan saya untuk berkomunikasi dengan Azka. Yang harus selalu saya ingat bahwa emosi tidak menyelesaikan masalah. Pilih bahasa yang tepat. Tekan intonasi ke tempat yang seharusnya. Atur bahasa tubuh yang menarik serupa badut di pesta ulang tahun. Sisanya? Bersenang-senang.

Menjaga mood Azka adalah yang utama. Namun, ada hal yang sebenarnya lebih utama yaitu menjaga mood diri sendiri. Bagaimana kita bisa membahagiakan orang lain, sedangkan kita tidak berbahagia. Sebaliknya. Jika kita sudah bahagia, maka kebahagiaan itu sebenarnya sudah menjalar dengan sendirinya ke orang-orang di sekitar kita. Komunikasi produktif yang saya ceritakan hari ini berpusat pada diri saya sendiri.

Saya mengatur mood hari ini dengan memasak makan malam sesuai jadwal menu yang sudah saya susun. Balado terong yang baru saja dipetik dari kebun tetangga. Lauknya simple. Sate bakso. Berhubung bumbu halus selalu tersedia, sehingga tugas saya hari ini tinggal meracik. Tidak lebih dari lima menit, semua beres.

Alhasil, saya dan Azka bisa bermain kota salju. Dengan ruang tamu yang masih berserakan butiran gabus, kami pindah ke kamar Azka. Bernyanyi dan menari. Tertawa bersama. Hingga tiba waktu makan siang.

Sembari memasak makan siang, Azka bermain di halaman belakang. Dia menemukan seekor burung terluka. Dengan inisiatif sebisanya, dia menyelamatkan hewan malang itu. Diberinya makan pisang. 

“Kok nggak mau ya, Mi?” keluhnya.

“Coba ini ada beras,” kata saya sembari mengulurkan segenggam beras ke tangannya.

“Nggak mau juga, Mi.”

“Coba nanti Mami lihat setelah selesai masak ya.” Azka setuju. Tanpa reaksi perlawanan. Mood kami berdua terjaga. Itu alasannya kami bisa dengan mudah bekerja sama.

Ternyata betul adanya. Lelah adalah sumber masalah. Jika sudah lelah, seluruh teori komunikasi yang telah dipelajari bisa menguap di telan bumi. Tidak heran banyak orang yang terpancing emosi selepas pulang bekerja. Karena apa? Karena dia lelah. Terkadang di saat itu, seseorang merasa bahwa harus ada yang disalahkan. Malangnya, anak-anak berada di posisi terlemah. Menjadi objek sasaran kemarahan. Padahal sebenarnya, kita saja yang tidak tahu bagaimana cara mengusir lelah.

Satu lagi tugas untuk diri saya. Menjaga diri dan hati dari lelah. Jika mencuci piring adalah pekerjaan yang menguras waktu, maka masak menu sederhana dengan peralatan yang bisa digunakan berulang-ulang sebelum dicuci. Jika waktu sudah mepet dan belum terhidang makanan, ya beli saja. In sya Allah diberi Allah rizki untuk membelinya. Jika rumah berantakan, tentukan waktu pembersihannya. Jika baju basah belum dijemur, maka jemur saja malam harinya. Ketika anak sudah we time dengan ayahnya. Kata orang bijak, “hidup ini sederhana, samapai kita membuatnya menjadi rumit.”

Memang benar. Kebahagiaan ibu itu penting. Keluarga yang bahagia dimulai dari ibu yang bahagia, bukan?

Komunikasi Produktif Hari Ke-7

Qadarullah hari ini sakit yang saya kira sudah sembuh ternyata makin menjadi. Radang tenggorokan. Sakit sepele memang, tetapi efeknya luar biasa. Menelan susah, berbicara pun sama susahnya. Namun, apakah ini yang dinamakan tantangan? Ketika titik terlemah saya ada pada emosi dan Allah seketika memberi saya rasa sakit ketika berbicara.

Sedikit bercerita. Saya memiliki ayah yang terbiasa jika mengungkapkan rasa marahnya dengan panjang dan lebar. Bahasa kasarnya “ngomel-ngomel”. Saya tidak tahu pasti perasaan beliau bagaimana. Yang saya tahu sebagai pendengar tentunya saya merasa risih. Dua jam. Tiga jam. Bahkan berhari-hari satu topik bisa dibahas. Nah, masalahnya adalah saya menyadari bahwa saya tidak jauh dari beliau. Sehingga setelah menikah, saya selalu ingat untuk tidak memperpanjang rasa amarah. Sulitnya bukan main. Apalagi setelah memiliki anak. Terkadang sifat jelek ini keluar lagi dan saya harus segera sadar untuk menghentikannya. Semoga momen BunSay ini membuat niat saya untuk berubah menjadi sebuah kebiasaan yang tak lagi pudar hingga akhir hayat.

Azka hari ini bangun lebih lagi. Sebelum adzan subuh. Artinya, dia jelas tidak mau ketinggalan untuk ikut papinya shalat berjamaah di masjid. Saya kira, dia akan mengantuk lagi. Mengingat semalamnya pun baru terlelap pukul 22.00. Namun, kenyataan berkata lain. Azka justru bangun seharian dan melalaikan tidur siangnya.

Keterbatasan saya dalam berbicara membuatnya makin aktif dalam mencari perhatian. Eksperimen kesana-kemari. Menggaruk-garuk gabus dengan pinset menghasilkan serpihan serupa salju. Menghambur di sekitaran kasur dan semua pasti tahu kan bagaimana sulitnya membersihkan kekacauan ini? Toples makanan dibersihkan di kamar mandi. Tidak hanya bersih. Dia membawa toples keluar dengan bangga karena di dalamnya sudah ada pengharum ruangan. Memasukkan banyak benda padat ke dalam mesin cuci dan mencoba memutarnya. Percayalah, suaranya mirip ledakan. Dan sebagainya.

Satu-satunya cara adalah “membiarkannya”. Mau bagaimana lagi. Tenggorokan sakit bukan main. Andalan saya hanyalah tangan dan kepala. Menggeleng untuk melarang dan mengacungkan jempol untuk memuji. Alhamdulillah akhirnya hari ini bisa dilewati tanpa tantrum (kejadian yang sering terjadi akhir-akhir ini). Walaupun hampir sempat terpancing emosi sekitar pukul 15.00.  Sakit pada tenggorokan mengingatkan saya untuk tidak marah. Batal niat saya untuk marah panjang-panjang. Toh tidak akan berguna.

Komunikasi Produktif Hari Ke-6

Kalau boleh menamai hari ini dengan satu kalimat, maka tanggal 9 September 2018 ini akan saya namakan dengan “Hari harap sabar ini cobaan” mengapa? Karena kesabaran saya seakan diuji seiring dengan tantangan komunikasi produktif di kelas BunSay.

Awalnya, pagi ini terasa seperti biasa. Azka bangun pagi sekitar pukul 05.45 WITA. Lalu beraktivitas seperti biasa. Hanya saja tumben sekali dia meminta dibikinkan permainan yang dulu pernah saya buatkan namun saya buang karena sudah lusuh.

Azka meminta dibuatkan gambar pohon lengkap dengan buah apel yang bisa dipetik, lalu dimasukkan dalam gerobak Pak Tani. Gayung bersambut, saya mengiyakan.

Permainan ini hanya terbuat dari kertas hvs bekas dan sampul majalah bekas. Kertas hvs putih ditempelkan ke kertas sampul majalah agar tebal, lalu digambar pohon dan diwarnai layaknya sungguhan. Kemudian di beberapa titik dedaunan, saya lubangi untuk dimasukkan sedotan yang sudah dipotong-potong dan direkatkan menggunakan selotip di sebaliknya. Dengan sisa kertas sampul majalah, saya membuat gambar apel yang ranum merah sekali. Seperti sudah sangat siap panen. Saya juga menggunakan kertas amplop bekas untuk membuat bentuk gerobak pertanian.

Dulu, ketika permainan serupa ini saya buat tujuannya adalah untuk melatih motorik halus. Caranya dengan meminta Azka memasang atau melepas apel dari sedotan. Lubang yang saya buat di gambar apel tidak lah terlalu besar. Sehingga membutuhkan usaha khusus baginya untuk memasang dan melepas. Cara lain adalah dengan memasukkan apel yang sudah dipanen ke dalam gerobak pertanian.
Sekarang, saya ada ide lain. Apel tersebut saya buat sepuluh buah. Masing-masing apel saya tulis huruf alfabet “kecil”. Azka sudah sangat lancar membaca huruf kapital. Namun, untuk huruf “kecil” masih banyak yang terlewat. Maka dengan permainan ini, saya meminta Azka untuk memanen apel dan memasukkannya ke gerobak yang memiliki huruf yang sama.

Membuat permainan dadakan dengan bahan seadanya membutuhkan waktu. Memang saya sudah tidak melihat kesempurnaan. Namun rasanya bagi Azka menunggu saya mungkin serasa seribu tahun lamanya. Sembari menunggu, dia membuka semua barang-barang yang terlihat seperti terbungkus. “Unboxing!” katanya. Sabar pertama.

Kemudian, hati saya sedikit lega karena Azka mendadak mau turun tangan dan ikut mewarnai. Di tengah kesibukannya mewarnai dengan pantat yang tidak bisa menyentuh lantai, alias gerak kesana-kemari. Gelas berisi air sebagai perlengkapan mewarnai pun tumpah tersenggol lututnya. Sabar kedua.

Melihat hal itu, saya memintanya dengan halus untuk mengambilkan kain pel. Otak saya sudah sadar bahwa saya harus lulus tantangan komunikasi produktif. Mau tidak mau harus menekan emosi. Karena disitulah letak kelemahan saya. Mungkin karena output diri saya yang tidak terbawa emosi, menyebabkan Azka mau mengerjakan permintaan saya. Langsung!

Belum selesai air dibersihkan, dibukanya semua penutup sofa yang bahan kainnya seperti sprei. Padahal sofa kami berat bukan main. Terdiri dari beberapa busa pula. Tapi Azka berhasil mencopotnya. Semua! Ya Allah. Belum tepat pukul 11.00 pagi saya sudah mendapat sabar ketiga.

Daripada marah maka saya berpikir, mungkin ini saatnya mencuci penutup sofa setelah lama terundur. Alhamdulillah, tapi sambil elus-elus dada.

Jam sudah lewat dari pukul 11.00 namun saya belum menyiapkan makan siang dan malam. Bergegas lah. Menggunakan celemek, mengeluarkan seluruh amunisi. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk membuat semuanya menjadi siap dihidangkan. Seiring sejalan, tak lama juga bagi Azka untuk menumpahkan air karena dia sedang berusaha memasukkan air ke dalam botol. Sabar keempat ya, Saudara-Saudara.

Sebelum makan, saya meminta Azka untuk BAK namun berakhir dengan tantrum. Lamaaaaa sekali. Teriak-teriak, menjerit, berguling-guling di kasur, dan menolak memakai baju sendiri. Karena ini sudah sabar kelima dan takutnya saya gagal, maka disela tantrumnya saya langsung sholat.
Setelah sholat berjalan lancar. Hati sudah lebih dingin. Azka sudah mau memakai bajunya sendiri dan menghabiskan makanannya. Lalu, saya terasa ini hari pertama saya datang bulan. Artinya harus siap kram perut, lemas, dan sakit kepala.

Setelah makan, saya meminta Azka untuk tidur siang. Dia malah bermain kesana-kemari sampai hilang sendiri rasa kantuknya. Di sisi lain perut saya makin sakit, namun Azka masih terlihat aktif cerah berseri. Untuk itu saya namakan detik ini dengan sabar keenam.

Berhubung waktu sudah menujukkan pukul 14.30 artinya sudah tiga puluh menit lewat dari target waktu mulai bersih-bersih, saya langsung berkata pada Azka bahwa saya harus mulai menyapu dan mengepel. Hampir tantrum, namun dia meredakan sendiri emosinya dan mulai membantu saya membersihkan. Mulai dari memasukkan mainannya dan menyapu serta mengepel semampunya. Setelah selesai bersih-bersih, saya minta Azka untuk mandi lalu mengajaknya kembali tidur siang di pukul 15.30.

Ketika tulisan ini dibuat, dia baru saja tertidur kemudian saya menyadari satu hal. Benar bahwasannya jika sebelum beramal kita wajib berilmu. Dengan rentetan guncangan ujian kesabaran, satu-satunya cara adalah dengan ilmu. Otak kita akan menyadari secara penuh bahwa ini bukan sesuatu yang harus diselesaikan dengan meledak-ledak. Namun sebaliknya. Harus tenang dan tahu titik di mana harus bertindak. Coba jika tidak ada ilmu. Maka tantrum anak berujung murka orang tua. Padahal, murka orang tua akan sejalan dengan murkanya Allah. Naudzubilahimindzalik.

Semoga saya dan semua ibu terhindar dari rasa emosi yang menyebabkan lisan dan batin kita terbalik dari fungsinya semula. Aamiin.

Komunikasi Produktif Hari Ke-5

Setelah materi BunSay ini, saya menjadi sangat yakin. Bahwasannya kegagalan ikhtiar komunikasi produktif saya ada pada pendeknya batas kesabaran saya. Dari kecil saya menyadari bahwa sesuatu yang tidak berjalan baik maka akan mengacaukan satu hari penuh. Misa ketika saya masih duduk di bangkh kuliah. Pagi saya awali dengan sangat teratur dan rapi. Semua tugas sudah dikerjakan, pakaian sudah disetrika, dan kamar sudah tertata. Saya anggap itu sempurna bagi seorang gadis. Ketika berkendara menuju kampus, ada orang yang membunyikan klakson keras-keras. Entah karena memang saya salah atau memang dia yang sedang terburu-buru,tetap saja hal ini membuat saya menilai bahwa hari ini sudah tidak bisa sempurna. Di otak saya tergambar kata “sempurna” yang ditimpa garis tebal. Sempurna coret, istilahnya.

Ternyata, kebiasaan saya ini tidak baik dipertahankan ketika haris mengasuh anak secara penuh dan sebagian besar dilakukan sendirian. Karena mau sampai kapan saya harus marah-marah dan mengeluh jika memang dunia ini Indah justru karena pengertian kita terhadap ketidaksempurnaan. Iya kan? Maka demi membiasakan komunikasi produktif, saya harus menekan standar sempurna bagi diri saya sendiri. Agar skala kesabaran saya bisa memanjang. Efeknya, tidak lagi mudah terpancing emosi.

Nah! Hari ini Sabtu tanggal 8 September 2018 dari awal saya sudah menawarkan kegiatan apa yang ingin dijalankan oleh Azka. Di sisi lain saya juga menyampaikan kegiatan yang harus saya selesaikan. Seperti mencuci piring, membersihkan rumah, dan menjemur baju di halaman belakang. Biasanya kami menjemur baji di teras depan. Hanya saja, jemuran di tempat itu penuh. Sehingga harus menumpang sejenak di jemuran pemilik kontrakan supaya sprei berlembar-lembar yang saya cuci sejak pagi bisa kering.

Azka menyampaikan bahwa ingin mandi lalu sarapan kemudian main. Mandi dan sarapan telah terlewati. Walaupun nafsu makannya belum juga kunjung datang. Sedih. Lalu, Azka mengajak saya ke kamarnya. Saya berinisiatif membawa beberapa majalah Bobo dan Mombi. Meskipun majalah ini sudah ada sejak tahun lalu, namun masih banyak aktivitas yang belum dikerjakan. Maka saya simpan. Menunggu sampai Azka meminta sendiri untuk mengerjakannya. Pagi ini, dengan mood terjaga dan kesadaran bahwa saya haris menahan emosi membawa keberhasilan dalam menemani Azka mengerjakan berlembar-lembar aktivitas. Di sela-sela menulis, saya berdongeng. Azka terlihat sangat senang.

Siang harinya, ketika matahari sangat terik saya mulai menjemur di halaman belakang. Azka yang tidak bisa membantu karena kabel jemuran yang sangat tinggi, memilih untuk bermain-main di pasir. Dia membawa ekskavator andalannya dan juga hotwheels Silverado favoritnya. Bermain mengangkut pasir tanpa rewel meminta perhatian saya. Mungkin dia tahu, bahwa saya yang ada di sampingnya ikut memperhatikan imajinasi serunya. Setelah saya selesai menjemur, saya hanya menemaninya main tanah sembari membaca buku.

“Mami, ayo buat rumah-rumahan”

“Dari apa?”

“Dari batu bata”

Dalam hati saya berkata, “Oke, hari ini jatahnya Azka memimpin permainan tanpa intervensi dan interupsi.”

Dimulailah aktivitas membangun rumah-rumahan dari batu bata sesuai dengan perintahnya. Masing-masing dari kami mengangkut batu bata dark halaman belakang menuju tangga yang bersandingan dengan pintu belakang rumah. Semua tatanan batu bata Azka yang mengatur. Tidak ada intervensi dari saya. Dia pun mulai menjelaskan yang mana atap, yang mana kamar, dan yang mana garasi. Lengkap.

Selesai bermain, saya memintanya untuk mengembalikan batu bata ke tempat semula. ya, meskipun mengembalikannya tidak sempurna, tapi belasan batu bata diangkutnya ke tempat semula.

Komunikasi Produktif Hari ke-4

Setelah hari kamis yang berjaya, tibalah hari Jumat yang tak terduga. Mungkin memang seperti ini lah hidup ya. Banyak rasanya, hehehe.

Azka bangun pagi, sekitar pukul 05.45 WITA tepat setelah papinya berangkat kerja. Dia yang biasanya bisa “dadah-dadah” terlambat. Duh! Saya kira dia akan marah. Ternyata tidak.

Hari ini kondisi badan saya masih lemas, namun harus tetap semangat!! Saya ingat terus tiga tahapan itu. Saya hanya perlu menjaga mood Azka agar tidak tantrum. Hmmmm…justru baru menginjak pukul 10.00 WITA tantrum kembali mengudara.

Ceritanya, setelah mandi dan sarapan serta ngobrol sejenak, Azka meminta video call dengan oma alias ibu saya. Ketika awal, tidak masalah. Menuju pertengahan mulailah ada ulah. Azka tidak memperbolehkan saya bicara dengan ibu. Dia sendiri menolak untuk berbicara. Namun, telpon tidak boleh ditutup. Aneh kan? Iyaaa, aneeh Pak Eko.

Lalu, berhubung ibu juga ada kegiatan maka saya tutup telpon itu. Menangisnya makin menjadi-jadi. Berteriak, marah-marah, berguling di kasur. Mungkin jika ada orang di luar mendengar, mengira bahwa Azka sedang disiksa. Dengan berbagai kesepakatan, akhirnya saya menelpon ibu kembali.

Saat video call kedua ini, Azka hanya meneruskan tangisannya. Bahkan menambahkan wajah memelas. Ya namanya cucu pertama dan pernah sangat dekat, omanya kasihan. Di sinilah titik saya diuji. Ketidakkompakan antar individu di lingkungan anak menyebabkan anak mudah menjadi tantrum. Begitu lah yang saya baca. Sehingga, saat itu saya meminta untuk mengakhiri saja sesi video calling aneh ini.

Seperti sebelumnya, Azka meraung-raung kembali. Bahkan tidak berbeda sampai saya kuatir dia kelelahan. Lalu, Allah menunjukkan jalannya. Sembari mendengar raungan, tangisan, jeritan saya membuka lagi buku Bunda Sayang: 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak. Langsung terbuka tulisan oleh Bunda Gita Louvusa. Tulisan beliau di blog pribadinya sudah sering saya baca. Di buku ini beliau menceritakan tentang aktivitas mendongeng untuk anaknya, Cha.

Bunda Gita dan Cha sering bercerita tentang gambar yang mereka buat sendiri. Bundanya menggambar pohon kelapa, lalu Cha menambahkan ada kakak di atas pohon. Bunda Gita, menggambar kura-kura, lalu Cha menceritakan ada pak polisi gendut yang jatuh di atasnya. Mereka berkisah sambil menggambar. Sederhana katanya, namun membuat ketagihan.

Keluar lah saya dari kamar. Azka makin berteriak, mengira saya meninggalkannya. Saya pergi ke rak buku yang berada di ruang tamu. Lalu mencari bolpen andalan di ruang tengah. Dan kembali ke kamar dengan senyuman.

Azka bingung, teridam sejenak. Saya melihatnya melirik dua benda yang saya bawa. Lalu, saya duduk di sebelahnya menggambar sebuah pantai. Dengan kemampuan menggambar yang mengharukan tentu saja.

“Ini ada pantai, bagus sekali. Kira-kira di pantai ada apa lagi ya?” saya melirik ke arah Azka yang sudah berhenti tantrum. Tangan kanan saya menyodorkan bolpen. Memberi tanda kepadanya untuk ikut  serta menggambar.

Dia mengambil bolpen tersebut, “Ada ulaaaaaaar.”

“Waaaa…mengerikan. Kalau haus di pantai biasanya Mami minum es kelapa muda. Nggambar pohon kelapa aaaah.”

“Ngambilnya gimana?”

“Nih ada bapak-bapak yang bawa tongkat ujungnya sabit,” kata saya sambil menggambar orang.

“Tapi orangnya dimakan buayaaa,” kata Azka sembari menggambar buaya di lautan.

Kemudian Azka meminta saya menggambarkan kapal lalu saya bertanya, “Kapal ini untuk apa?”

“Kalau malam-malam untuk berlayar nyari ikan.”

Wow, ternyata dongeng saya tentang angin kemarin masuk ke otak dia. Alhamdulillah.

Kegiatan menggambar dan bercerita ini berlanjut sampai ada buaya makan nelayan, lalu dimuntahkan lagi layaknya Nabi Yunus. Kemudian orang yang dimuntahkan tersebut dibawa ke rumah sakit dan sehat. Dia bisa kembali bertemu dengan keluarganya. Namun nahas, satu keluarga yang sudah bahagia itu harus menelan pil pahit. Karena mereka kompak dimakan hiu. Untungnya, dimuntahkan kembali. Hiu masih lapar, sehingga memakan bangunan. Termasuk Rumah Sakit.

“Lah Mi, ini orang yang lagi di Rumah Sakit jadi gimana?” tanya Azka kepada skenario yang dibuatnya sendiri.

“Lah gimana?”

“Ya udah muntahin lagi aja.” Hidup anak-anak memang indah ya.

Setelah banyak bercerita dan kertas sudah penuh dengan oret-oretan. Saatnya saya memasak. Namun, tiba-tiba ada yang menggenggam tangan saya dan berkata…

“Mami tolong ambilkan kertas kosong lagi dong!”

Benar saja. Kegiatan ini membuat ketagihan :)

Komunikasi Produktif Hari ke-3

Memasuki kuliah Bunda Sayang saya mulai melirik rak buku. Oh iya, ternyata pernah dapat hadiah buku Bunda Sayang: 12 Ilmu Dasar dalam Mendidik anak. Masih tersegel rapi padahal sudah dihadiahkan mungkin hampir satu tahun yang lalu.

Saya buka daftar isinya dan yang pertama memang tentang komunikasi produktif. Kisah pertama yang saya baca adalah komunikasi produktif sebagai solusi mengatasi tantrum pada anak. Pas sekali. Memasuki usia hampir empat tahun, Azka mulai lebih sering tantrum. Di kisah tersebut, anak yang diceritakan usianya juga empat tahun. Sedikit memberikan ketenangan batin karena perubahan besar ini memang wajar. Benar kata ibu saya beberapa pekan lalu, “Anak mau umur empat tahun memang gitu, sering marah.” Sekali lagi saya tulis, ibu saya tidak pernah belajar apapun tentang parenting tetapi perkataannya tentang perubahan pada anak hampir selalu benar. Mungkin itu yang dinamakan experience is the best teacher.

Nah, berhubung semalamnya sudah membaca cara menangani tantrum. Maka, saya berniat pada hari Kamis, 7 September 2018 mempraktekannya. Dalam buku tersebut dituliskan bahwa menangani tantrum terdiri dari tiga bagian: 1) mencegah terjadinya tantrum, 2) menangani anak ketika tantrum, 3) menangani anak pasca tantrum. Berarti saya harus melaksanakan dulu bagian pertama. Menjaga mood Azka sehingga terhindar dari tantrum.

Pagi menjelang. Qodarullah, saya kena radang tenggorokan. Namun,bl berhubung sudah berniat. Bismillah kita jalankan.

Alhamdulillah, dengan terbatasnya kemampuan bicara saya dan saya akui hari ini kurang produktif karena demam. Namun saya berusaha menjaga mood Azka. Syukuurlah, tetap berjalan lancar. Saya bacakan buku-buku sesuai permintaannya. Lalu, untuk makan siang saya beli saja di luar. Sehingga Azka pun bisa ditemani bermain lego.

Bersyukurnya lagi, komunikasi yang saya lakukan bersama suami sehari sebelumnya sangat membantu. Ketika beliau pulang kerja, langsung terlibat menjaga mood Azka walaupun sampai harus membalas chat pekerjaan di kamar mandi agar tidak terlihat mengacuhkan.

Azka tidur cepat, in sya Allah dengan bahagia. Tidak ada rengekan ini dan itu. Alhamdulillah.

Lalu, bagaimana kah hari selanjutnya??

Ada di lembar yang lain ya :)

Komunikasi Produktif Hari ke-2

Seperti janji saya pada tantangan hari ke-1. Saya akan menceritakan ikhtiar komunikasi produktif kami berkaitan dengan minum puyer.

Sebenarnya, Azka tergolong anak yang sangat mudah meminum obat. Hampir tanpa masalah. Hanya saja belakangan ini, indra pengecapnya terlihat makin peka dengan berbagai rasa. Sehingga membuat saya agak deg-degan. Jangan-jangan baru sekali langsung kapok dan tidak mau minum lagi.
Sarapan dengan bubur dan telur berakhir dengan kekecewaan. Saya sudah membuatkannya bubur encer sekali supaya langsung telan, namun tidak berhasil meningkatkan nafsu makannya. Sabar…sabar…sabar.

Daripada emosi, lebih baik diikhlaskan. Sudah lah belum mau makan, coba nanti berikhtiar membeli makanan kecil siapa tau Azka mau memakannya. Tibalah minum puyer. Ternyata, dengan mengikhlaskan kekecewaan tentang sarapan, membuat saya berpikiran lebih tenang. Lebih wajar dan tidak berlebihan.

Karena saya tidak emosi, Azka pun tidak membuat ulah. Dia malah meminta untuk membuka puyer dan menaruhnya di sendok. Sebenarnya saya takut obat itu tumpah, namun saya mencoba mempercayainya. Alasannya lagi-lagi, supaya tidak terpancing emosi.

Azka melakukan tugasnya dengan baik. Dia menunangkan tanpa tumpah dan membawa sendok berisi puyer ke dekat dispenser. Saya membantunya melarutkan puyer dan dia meminumnya sendiri.

“Weeek, rasanya aneh. Azka nggak suka!” kata dia sembari menutup mata dan menjauh dari dispenser.

“Minum,” saya memintanya minum air putih yang disambut hangat.

“Mami, obat ini rasanya aneh banget. Pahit. Azka nggak suka.”

“Obat memang pahit. Kita nggak bisa meminta obat jadi manis. Karena yang manis itu gula.”
Sepertinya keluar dari kaidah KISS ya, hahaha. Tapi Alhamdulillah Azka mengerti dan siang harinya, ketika tiba jadwal minum obat lagi. Dia mau bekerja sama.

Komunikasi Produktif Hari ke-1

Bismillahirohmanirohim,

Catatan ini dibuat berdasarkan kegiatan hari Selasa, 4 September 2018. Tepat hari pertama dibagikannya materi mengenai komunikasi produktif.

Qodarullah anak kami, Azka (3y 8m), sedang sakit. Begitu pula dengan ayahnya. Sudah sejak tanggal 2 September 2018 sebenarnya. Berhubung sudah tiga hari, badan saya rasanya sakit semua, hahaha. Hari Senin saya sempat terpancing emosi. Krn cucian piring numpuk tak karuan. Mainan dimana-mana dan tidak ada lagi yang membereskan kecuali saya. Karena satu-satunya asisten (suami.red) juga sedang sakit. Belum lagi hidung Azka yang mulai berdarah dan ditambah dia menjadi susah makan. Tapi ada satu momen di hari itu yang akhirnya mengurangi emosi saya.

“Ayo Nak, makan!”

“Gak mau, kenyang.”

“Lah tadi makan apa? Belum makan apa-apa kok sudah kenyang?” kata saya dengan intonasi tinggi dan dibarengi dengan omelan yang agak panjang. Sebenarnya saya ngomel untuk diri saya sendiri tapi karena bersuara otomatis Azka mendengar.

Melihat saya marah, dia berkata, “Kok kemaren ketawa?”

“Siapa yang ketawa?” masih emosi.

“Padahal kemaren Mami sama Azka ketawa lho. Kok sekarang marah.”

Hening.

Ibu manapun di dunia ini mendengar kalimat iti pasti langsung menyesal. Kemudian saya peluk dia dan menciumnya. Saya baru tersadar. Emosi seperti apapun tidak ada gunanya. Tidak merubah dia menjadi sembuh atau mengembalikan nafsu makannya. Saya pu lanjut dengan menjelaskan mengapa saya ingin dia makan.

Daripada terpancing emosi lagi, akhirnya sejak Senin malam saya sudah berniat membeli makan saja untuk hidangan keesokan harinya.

Sejak pagi saya sudah memesan makanan yang bisa dimakan dari siang hingga malam. Hanya tinggal menambah masak mendoan saja yang mudah dan cepat. Saya bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan Azka karena tidak diselingi racik-meracik, masak-memasak, atau cuci-mencuci. Namun, sejak bangun tidur di Selasa pagi Azka menunjukkan ibu jari kanannya seperti melepuh. Seingat saya dia tidak main yang panas-panas.

“Lho ini kenapa Nak? Kemarin pegang panci panas itu kah?”

“Bukan...bukan…sini Azka ceritain.”

Lalu dia membawa saya ke depan sebuah kayu, yang sejak kemaren lusa diambilnya dari salah satu polybag tanaman kami ke dalam rumah.

“Waktu Azka pegang ini, terus kayunya nusuk ini.” dia menunjuk kayu lalu menyodorkan ibu jarinya.
Segera saya tekan luka itu namun tidak terlihat ada kayu halus yang tertinggal. “Sakit kah rasanya?” tanya saya. Azka membalasnya dengan anggukan.

“Oke nanti malam setelah Papi pulang kita ke dokter.”

“Nanti jari Azka dipotong, trus dikeluarin kayunya, terus dijahit lagi?”

“Nggak lah. Mungkin nanti dokter ngeluarin nanah ini terus Azka dikasih salep,” saya memegang ibu jarinya sambil memeragakan ccara dokter melakukan tindakan.

“Sakit nggak?”

“Sakit. Tapi sebentar saja. Itu satu-satunya cara supaya Azka nggak kena infeksi. Dulu waktu mami kecil, Mami pernah main di sungai. Besoknya kaki mami bengkak. Ternyata ada batu kecil masuk. Oma akhirnya bawa Mami ke UGD. Kulit kaki Mami dibuka sedikit untuk diambil batunya. Sakit sedikit. Tapi sembuh.” Karena saya pernah mengalami hal yang sama, maka saya bisa bercerita bahwa memang rasa sakitnya sebentar.

Ibu saya, yang tidak pernah belajar parenting pernah berpesan sejak saya masih gadis. “Sama anak itu harus jujur. Bilang kalau disuntik sakit, tapi kalau mau sembuh memang harus disuntik. Bilang kalau obat memang pahit, tapi ini yang membantu menyembuhkan. Mama kayak gitu sama anak-anak mama. Makanya nggak ada satupun yang takut dokter atau obat. Kalau mau anaknya jujur,orang tuanya nggak boleh bohong” Pesan itu saya ingat terus-menerus. Jujur!

Ibu saya juga pernah bercerita, “Mama dulu membiasakan ke semua anak-anak kalau ngomong harus jelas. Nggak sambil nangis apalgi merengek. Kecuali sedang kesakitan. Kalau lagi ngomong ditunggu, didengerin walaupun belum jelas. Habis itu ditanggepin. Akhirnya semua nggak ada yang cengeng. Dan bisa menceritakan kejadian yang dialami dengan urut.”

Saya juga mengingatnya. Berbicara yang jelas, mendengarkan, dan menanggapi. Mungkin ikhtiar itulah yang menyebabkan Azka bisa menceritakan sebab luka di ibu jarinya dengan sangat jelas. Masya Allah. Malam harinya, kami pun pergi ke dokter. Benar saja, untuk mengeluarkan nanah dokter harus melakukan tidakan dengan menusukkan jarum kecil ke luka Azka.

Saya diminta memegangi kepalanya dengan arah berlawanan dari posisi berdiri dokter. Suami diminta memegangi kakinya. Dan satu perawat diminta memegangi lengan kirinya. Saya tahu bahwa Azka tertekan dengan kondisi dipegangi seperti ini. Mengingatkannya pada pemasangan infus yang sudah tiga kali dialaminya sejak usia 3,5bulan.

“Tadi di rumah Mami sudah bilang kan. Lukanya harus ditusuk supaya sembuh.”

Azka mengintip sedikit curiga kepada dokter.

“Yak sudah selesai. Hebaaat. Diem aja ya tadi. Tuh lihat, lukanya sidah nggak ada kan?”

Azka memandangi ibu jarinya, matanya terlihat takjub. Seperti melihat hal ajaib. Lalu dia memandang dokter dengan bingung. Lagi, dia melihat ibu jarinya. Kemudian melihat dokter. Berulang sampai tiga kali.

Azka diberi obat salep dan atibiotik untuk luka di tangan dan hidungnya. Hidung kanannya juga penuh luka garukan karena gatal akibat pilek. Obat lainnya adalah puyer untuk mengobati pileknya. Sambil menunggu obat, kami pun saling bercerita. Azka mengungkapkan bahwa memang sakit tapi hanya sebentar. Dia sangat senang ibu jarinya sudah tidak bengkak lagi.
Namun, tantangan selanjutnya adalah….

Minum puyer! Saya tulis di tantangan hari ke-2 ya.

Terima kasih :)

Friday, August 31, 2018

Lembar Aktualisasi Diri



Setelah belasan tahun tidak pernah mencetak kartu nama, hari ini saya resmi membuat kartu nama lagi. Horeee!!! Kalau bukan berkat Komunitas Ibu Profesional, hal semacam ini dibayangkanpun tidak.

Selain data diri yang sudah jelas peruntukannya, ada dua yang ingin saya narasikan dalam lembar ini.

Pertama
Saya  sengaja menghilangkan title akademik di belakang nama saya. Alasannya bukan karena ilmunya tidak digunakan lagi, melainkan saya sendiri sudah canggung melihat title tersebut. Sejak pertama kali menerima ijazah Master yaitu ketika wisuda, jiwa saya terasa sudah melayang jauh dari lembaran kertas dalam map itu. Saya ingat sekali, yang saya pikirkan ketika wisuda adalah anak saya di rumah belum makan siang. Maka, sesampainya di rumah saya langsung meletakkan ijazah lalu dengan baju kebaya saya menyiapkan makan siang untuk Azka. Dan beberapa saat kemudian saya baru sadar ijazah studi yang saya tempuh mati-matian karena diselingi menikah, hamil, melahirkan, dan menyusui diselamatkan ibu saya. Saya lupa sudah pegang ijazah. Disitulah momen saya memantapkan diri untuk bekerja di ranah domestik.

Awalnya, yang mendukung hanya satu orang. Suami. Beliau malah senang bukan main karena memang sudah sejak lama menyampaikan bahwa beliau lebih senang memiliki istri yang bekerja di rumah. Namun berkat satu orang terdekat saya itu, saya sudah tidak peduli dengan bisikan-bisikan semacam ,"Kok nggak sayang sama ijazahnya?" atau "Duh, kalau aku di rumah bosen. Mau ngapain coba? Aku kan orangnya nggak bisa ya cuma diem nggak mengerjakan apa-apa." Berkat dukungan satu orang terdekat, saya tidak pernah merasa useless sebagai pekerja ranah domestik. Saya masih bisa mencoba ini dan itu kemudian sibuk dengan ini dan itu bahkan tetap merasa bahwa hari berjalan dengan sangat cepat.

Terlebih lagi setelah berkenalan dengan Komunitas Ibu Profesional. Mungkin orang di luar sana tidak tahu bahwa disamping membersihkan rumah, melayani suami, mengasuh anak, menjaga gizi keluarga, saya tetap mengerjakan tugas-tugas bertenggat waktu. Dan saya pun memang tidak berniat memberi tahu karena beginipun saya sudah bahagia. Alhamdulillah.

Berkat dukungan satu orang terdekat, saya diijinkan untuk turun tangan menunaikan misi komunitas "Berbagi dan Melayani" menjawab pertanyaan besar saya beberapa tahun lalu, "Jika jadi ibu rumah tangga, lantas bagaiman caranya bermanfaat untuk sesama?" Alhamdulillah.

Tidak masalah title akademik ditiadakan, ilmunya tetap ada di otak dan memang ilmu kan tujuan kita belajar?

Kedua
Awalnya kata "nama keluarga" terdengar aneh di telinga saya. Keluarga kok bernama? Berkat IP lama-kelamaan saya paham bahwa nama adalah bagian dari doa yang bisa mendarah daging dalam jiwa pemiliknya. Maka dengan diskusi bersama suami kami memikirkan apa nama yang pas untuk keluarga kami.

Kami merancang misi keluarga dan harapan-harapan serta mimpi ke depan. Semua dituangkan dan dituliskan. Diotak-atik kata. Pindah sana-sini. Sayang, tidak ketemu. Namun, berkat membagi ide ini kepada salah satu kawan IP, akhirnya kami mendapat saran akronim nama yang bagus. AKAR GUNA. 

Agama, KARya, GUNA adalah misi inti keluarga kami. Jika dilebarkan lagi akan menjadi seperti ini:
- Agama mencerminkan kami keluarga yang in sya Allah ingin selalu taat pada agama Allah yaitu Islam.
- Karya berasal dari agawe karyo yang artinya keluarga yang selalu haus dalam menciptakan karya-karya sepanjang sisa hidupnya.
- Guna berasal dari migunani tumraping liyan yang artinya bermanfaat bagi sesama

Sementara, penggunaan kata "Trah" diambil dari bahasa jawa yang artinya hubungan yang memiliki pertalian darah, namun belakangan ini mengalami pemekaran nama menjadi kelaurga besar. Artinya menantu yang tidak ada pertalian darah pun masuk ke dalam anggota trah. Kata Trah ini selalu dipakai untuk menamai sebuah perkumpulan keluarga dan tetap digunakan meskipun sang pembuat nama trah telah tiada seratus tahun lamanya.

Kami berdoa bahwa tiga value di atas tidak terhenti pada keluarga inti kami saja. Namun meluas kepada menantu, cucu, cicit, dan seterusnya. Aamiin.

Semoga logonya bisa segera dicetak dan terpampang jelas di rumah :)

Tuesday, August 28, 2018

Hal-Hal yang Membuat Saya Bersyukur Adalah...

Seharusnya namanya jurnal dibuat setiap hari ya. Namun sering terkendala kegiatan lain khas emak-emak sehingga hanya dibicarakan dalam batin terus-terusan. Semoga tidak menjadikan saya orang yang kufur akam nikmat-Nya. Aamiin.

Hal-hal yang membuat saya bersyukur antara lain adalah:
1. Kehidupan finansial membaik
Pasang-surut kondisi finansial adalah hal yang biasa. Namun, dikeluarga kami kejadian surut lebih banyak dibanding pasangnya, hahaha. Saya tidak tahu sebab utamanya mengapa orang tua saya hampir sepanjang hidupnya diliputi kesulitan ekonomi. Pernah menduga-duga, namun saya lupakan begitu saja. Bikin penyakit hati!
Dalam hati saya dulu, saya berkeras harus memperbaiki hidup. Sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Saya tidak mau lagi makan tulang ayam yang digoreng kering dan dikasih kecap. No more! Disitulah saya berusaha untuk apa pun supaya bisa menstabilkan kondisi ekonomi setidaknya untuk saya dulu. Ketika saya sudah kuat, maka bisa menguatkan lainnya.
Qadarullah, setelah menikah suami suka kalau saya di rumah. Alhamdulillah Allah tidak hanya mengabulkan keinginan saya untuk memperbaiki kondisi finansial. Namun Allah juga membebaskan saya dari bekerja keras di luar rumah. Dan Alhamdulillah semua kebutuhan lebih dari cukup. Biaya kesehatan dengan kualitas sangat baik bisa terjamin. Anak kami tidak perlu mengalami nasib sama seperti saya. Demam sangat tinggi tapi tidak bisa pergi ke dokter karena tidak memiliki uang.

2. Memiliki sifat yang tangguh
Kejadian di nomor satu membuat saya tidak bisa menjadi perempuan yang manja-manjaan. Kalau manja mana bisa sekolah, mana bisa punya uang saku, mana bisa menghadapi cemoohan orang karena mencari beasiswa.
Saya bersyukur didik dengan orang tua yang tidak memanjakan. Tidak mengabulkan semua keinginan saya. Sebaliknya, mewajibkan saya berjuang untuk mendapatkannya. Walaupun terkadang caranya yang keras. Bahkan terkadang dengan pukulan. Saya sudah mengikhlaskan kejadian itu terjadi, in sya Allah. Dan setiap saya dipukul, saya selalu berkata, "Besok aku tidak akan seperti ini ke anakku." Alhamdulillah, kalau sekarang emosi ke anak, saya malah bawaannya mau cium dan peluk-peluk terus, hahaha.

3. Dikaruniai anak yang sehat
Saya orang yang mudah alergi. Tidak terhitung berapa kali masuk UGD karena saya tidak tahu bahwa makanan yang saya makan ternyata ditolak tubuh.
Alhamdulillah sejauh ini anak kami belum pernah menunjukkan gejala alergi padahal semua makanan dimakannya dengan lahap. Alhamdulillah.

4. Suami pekerja keras
Saya banyak melihat laki-laki yang memilih di rumah, sementara istrinya bekerja keras. Mungkin para istri kuat seperti itu, bisa bertahan. Namun, saya pasti sudah lelah hati duluan melihat pasangan hidup yang hanya di rumah padahal masih kuat dan sehat.
Alhamdulillah, suami saya pekerja keras. Bahkan tidak pernah membolehkan saya mencari tambahan dana. Kecuali untul hal-hal yang saya suka dan tidak dipedulikan berapa dana yang didapat. Intinya yang penting saya menyukainya.

5. Diberi keleluasaan menyalurkan hobi
Saya memiliki hobi menulis. Dulu, ketika jaman "susah" saya tidak berani mengikuti kelas menulis. Waktu itu kelas menulis jarang yang gratis.
Sekarang, Alhamdulillah ada sponsor tetap yang membiayai saya ikut kelas menulis. Sedikit demi sedikit hasilnya ada. Walaupun naskah masih sering ditolak. Tidak masalah. Setiap ditolak, saya anggap kejadian tersebut mengurangi jatah kegagalan saya. Sampai akhirnya menua dengan penuh keberhasilan. Aamiin.

Alhamdulillah. Afirmasi saya di masa lampau diijabah oleh Allah.
Allah baik sekali terhadap saya.

Dulu saya berafirmasi memiliki kehidupan yang lapang finansial. Allah kabulkan.

Dulu saya berafirmasi sering naik pesawat. Nenek saya menyarankan untuk supaya menjadi pramugari. Saya tidak mau. "Maunya jadi penumpang di pesawat, bukan pegawainya," kata saya. Alhamdulillah diijabah. Yang saya tidak tahu ternyata terlalu sering naik pesawat ada perasaan was-was yang timbul ketika berguncang terlalu lama, hahaha. Tetapi in sya Allah semua saya syukuri. Anak kami yang belum genap 4 tahun sudah tidak terhitung berapa kali naik pesawat dan berapa maskapai yang pernah dicobanya. Alhamdulillah. Apalagi pernah seorang teman berkata, "Tapi gak tau nih anakku kapan bisa ngrasain naik pesawat."

Sekarang...

Saya berafirmasi semoga saya bisa menjadi orang yang bermanfaat.

Saya berafirmasi untuk memiliki kehidupan yang rukun, adem, ayem, lan tentrem dalam berkeluarga. Sehingga bisa membersamai anak-anak dengan rasa bahagia.

Saya berafirmasi bersama suami, mendidik anak-anak menjadi mandiri di usianya yang ke-15.

Saya berafirmasi bahwa Allah melimpahkan saya kesabaran seluas samudra, sehingga "sesendok garam" masalah tidak akan merubah rasanya.

Saya berafirmasi untuk tidak berkata-kata kasar bahkan melayangkan pukulan. Karena saya tahu bahwa tidak ada kekerasan yang akan membawa sebuah kebaikan.

Saya berafirmasi bahwa kami semua bisa menjalankan kegiatan sesuai rencana. Jikapjn tidak, maka Allah akan mempertemukan jalan lain yang lebih baik sebagai penggantinya.

Lalu...

Saya berafirmasi bisa hidup menua dengan kemandirian dan dilingkupi dengan kasih sayang. Aamiin.

Mohon didoakan ya :)

Friday, August 24, 2018

NHW - Adab Menuntut Ilmu Pra Bunda Sayang

Bismillahirrahmanirrahim,

Baru tahu ada diskusi di grup Bunda Sayang Kalimantan 4 setelah lewat satu malam dan ternyata ada tugas. Mari kita kerjakan. Huhah!

1. Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu Buda Sayang?

Alasan terkuat saya adalah saya merasa masih sangat kurang ilmu baik dari segi produktivitas diri dan segi membersamai keluarga. Di dunia maya memang banyak tersebar informasi terkait hal tersebut, namun saya menghindari tsunami informasi. Sehingga, saya pun memilih perkuliahan resmi Bunda Sayang ini sebagai lahan belajar. Ada fasilitatornya, ada materinya, ada teman-teman seperjuangan pula. Lengkap!

2. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan Anda rencanakan di bidang tersebut?

In sya Allah saya tetap menggunakan skala prioritas. Dimana prioritas pertama adalah pekerjaan domestik termasuk di dalamnya mengasuh anak dan melayani suami. Jika urussan tersebut telah tunai dikerjakan, maka saya beralih ke prioritas kedua yaitu mengikuti kelas pengembangan diri dan berlatih dalam menulis sebagai usaha menempuh 10.000 jam terbang.

Untuk kelas pengembangan diri, saat ini saya hanya mengikuti kelas Bunda Sayang. Ada satu tugas yang masih tersisa di kelas Diklat Pengurus IP dan in sya Allah selesai bulan depan.

Khusus untuk jam online, berhubung jam online saya kalau tidak pagi sekali, ya agak sore yang mana beda dengan jam online kebanyakan ibu-ibu, maka pagi hari saya prioritaskan untuk memanjat obrolan di grup. Semoga tidak ada yang tertinggal, in sya Allah.

3. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?

Kebetulan saya sudah akrab dengan dunia karya ilmiah sejak duduk di bangku SMA. Dari situ saya paham bahwa menulis sesuatu dengan mengutip buah pemikiran orang lain maka wajib disertakan sumbernya. Alhamdulillah, sampai kelas matrikulasi pun saya mengusahakan untuk selalu hati-hati semoga tidak ada plagiasi yang saya lakukan. Walaupun kadang kuatir juga ada plagiasi di luar kesadaran dan bisa menimbulkan konflik di belakang. Meskipun sejauh ini belum pernah terjadi.

Yang benar-benar saya perbaiki setelah banyak berkecimpung di grup pembelajar adalah saya tidak lagi asal "left group" pada suatu grup. Setidaknya pamit dengan satu atau dua kalimat baru meninggalkan tempat. Jujur saja, dulu ketika HP sudah mulai melemah kinerjanya saya langsung main "left group". Terima kasih ilmunya ya para fasil dan semua tim di dapur IIP :)

4. Sikap seorang pembelajar terhadap fasilitator

- Bagi saya fasilitator adalah guru dalam proses belajar. Sehingga sama seperti hasil diskusi bahwa pembelajar wajib hormat dan menghargai pra fasilitatornya. Apalagi mengingat bahwa beliau semua benar-benar harus mengatur ritme kerjanya yang terkadang susah sekali dicari waktu longgarnya.

- Sedikit banyak mempelajari karakter fasilitator karena kemungkinan ada yang tidak suka jika diinterupsi di tengah penjelasannya. Walaupun sejauh ini saya belum menemukan fasilitaro yang demikian. Semuanya seru ketika masuk diskusi dua arah.

5. Ketika fasilitator menyampaikan jawaban yang kurang tepat

Kesalahan adalah wajar bagi setiap manusia, maka bagi seorang teman belajar menurut saya wajib memakluminya. Selama kesalahan tersebut tidak melanggar hukum (negara dan agama) dan norma yang berlaku.

Sebagai pembelajar yang memiliki hak untuk bersuara, maka kita bisa menyanggahnya dengan cara yang sopan dan tidak melanggar CoC. Supaya meminimalkan konflik besar dalam suatu hubungan yang sudah terjalin dengan baik.

Pada akhirnya, ditemukan jawaban yang pas dan tidak ada sakit hati di antara kedua belah pihak. Untuk itu maka perlu menerapkan pesan dari Bu Septi: The True Leader, No Baper.

6. Jadwal diskusi telah ditetapkan, materi telah diposting di GC, dan review diskusi telah tersedia. Apa yang dilakukan mahasiswi yang beradab baik?

Mencatatnya sebagai catatan pribadi dengan media sesuai kebutuhan masing-masing. Intinya adalah pada kemudahan untuk membaca lagi materi tersebut agar ilmunya tidak "menguap".

7. Disetiap level akan ada T10. Mana yang lebih bermartabat, membuat setoran asal-asalan agar tepat waktu, atau mengatur waktu dengan baik sehingga dapat membuat setoran berlualitas dan tepat waktu?

Mengatur waktu dengan baik sehingga dapat membuat setoran berlualitas dan tepat waktu. Dengan metode start from finish line yaitu memetakan apa tujuan akhir kita, lalu membreakdown menjadi kegiatan-kegiatan kecil sehingga mempermudah kita dalam menjalankan T10 nantinya.

8. Materi yang disampaikan dirasa sangat bermanfaat. Cara publikasi mana yang dirasa lebih bermartabat?

Menulis hikmah dan pengalaman saat mendapat materi dan menulis review. Jika pun mengambil materi yang sudah ada di media sosial, maka wajib mencantumkan sumbernya.

9. Mendapatkan tawaran untuk mengisi materi yang berkaitan dengan bunda sayang, apa yang anda lakukan?

Pertama, melihat kemampuan diri yang didasarkan pada skala prioritas. Jika tidak sanggup, maka bisa menolak dengan cara yang halus. Jika sanggup, maka kita dapat berperan aktif. Dengan mengisi materi maka sebuah ilmu akan lebih merasuk ke dalam kalbu: learning by teaching.

Kedua, kita bisa memberikan ilmu yang kita miliki, namun materi yang disampaikan saat kita jadi narasumber tidak boleh sama persis dengan materi bunda sayang.Contoh kita mengisi materi  komunikasi produktif, maka kita bisa review materi bunda sayang (dengan mencantumkan sumber) dan menambahkan literatur lain.

10. Kegiatan di ranah domestik dan publik semakin padat, tidak memungkinkan mengikuti perkuliahan. Cuti dan pengunduran diri diperbolehkan. Bagaimana etika mengajukan cuti atau pengunduran diri?

Tentunya diawali dengan konsultasi dengan fasilitator mengenai masalah yang sedang kita hadapi dan memberikan alasan mengapa masalah tersebut harus menghentikan langkah kita dalam kelas bunda sayang. Lalu kita harus mengikuti prosedur yang sudah ditentukan karena ada administrasi yag harus diselesaikan sebelum cuti/pengunduran diri. Baik dari fasilitator, di tim dapurnas, maupun regional.

11. Kuota Bunda Sayang terbatas. Banyak IPers yg ingin mengikuti perkuliahan tapi tidak mendapatkan kuota. Sementara ada peserta yang sudah terdaftar, namun mundur ditengah jalan. Bagaimana menurut anda mengenai konsekuensi yang sebaiknya diberlakukan?

Jika alasannya jelas dimaklumi, namun kosekuensi tetap berlangsung yaitu bagi yang mundur dari kelas bunsay batch #4 maka tidak boleh mengikuti kelas bunsay batch #5 namun harus menunggu sampai dibukanya kelas bunsay #6.

Untuk saya pribadi, sebenarnya saya tidak mau mundur ataupun cuti mengingat materi matrikulasi yang sangat bermanfaat bagi kehidupan saya dan keluarga, apalagi kelas bunsay yang istilahnya setingkat di atas matrikulasi. Namun, dari awal mendaftar saya tahu bahwa ada kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan pada akhir tahun ini. Hanya sebentar saja, namun tidak bisa disela dengan membuka laptop untuk mengerjakan NHW. Kesalahan saya adalah saya tidak tanya-tanya dulu sistem bunsay yang ternyata harus mengumpulkan 17 tugas tiap bulannya dan dikumpulkan per hari. Keburu was-was tidak mendapat kuota pendaftar, huhuhu. Semoga bisa menjalani keperluan dengan sebaik-baiknya tanpa harus cuti dari kelas bunsay. Saya mohon didoakan ya :)