Showing posts with label review buku. Show all posts
Showing posts with label review buku. Show all posts

Sunday, September 2, 2018

Review Buku HOP! Produksi Rabbit Hole ID

Halo,

Mungkin di sini sudah banyak yang punya buku produksi PT. Lubang Kelinci Indonesia, saya sih baru punya satu dan itu dikirim oleh adik ipar dari Jogja (((GRATISAN)))

Sebenarnya sudah lama tertarik sama buku-bukunya, namun harganya yang mencapai lebih dari 100ribu per buku membuat saya tarik ulur untuk membelinya. Karena bisa mendapat beberapa buku  konvensional dengan harga yang sama, hehehe

Sampai suatu hari adik ipar tanya kalau Azka mau dikirimin apa. Langsung saya jawa: BUKU!! Dan dikirimlah buku dari @rabbitholeid yang berjudul HOP!.

Buku ini menceritakan siklus hidup manusia dan hewan. Seperti, dulu ayah dan ibu juga pernah menjadi bayi, anak kecil, orang dewasa, lalu menikah. Ada juga siklus hidup ikan yang berasal dari telur, ikan kecil, ikan "remaja", dan ikan dewasa. Di halaman lain tertulis bahwa kupu-kupu asal mulanya adalah ulat yang berubah menjadi kempompong, baru lah menjadi kupupu. Ada juga siklus hidup monyet.

Tidak ada yang luar biasa dari ceritanya, hanya keunggulan produk rabbit hole ini adalah tampilannya. Selain merupakan board book dengan tinta yang awet, bukunya dilengkapi fitur dorong-tarik-putar-geser. Sehingga anak-anak bisa menggeser-geser yang tandinya anak cewek setelah fiturnya digeser berubah jadi laki-laki.


Alhamdulillah Azka tertarik buku, hanya saja fitur di buku ini membuatnya tertarik terus, bahkan sesaat setelah bangun di pagi hari. Ini dia senyumnya. Masih memakai baju tidur, belum mandi, yang dicari buku @rabbitholeid. Yang penasaran, sila buka instagramnya saja. Sepertinya sudah banyak reseller di berbagai kota. Ngirit ongkir, hehehe



Salam hangat,

Astri




Friday, December 15, 2017

Review Buku! Rainbow "The Miraculous Stories of Single Moms"

Halo Teman-Teman,

Akhirnya mengisi blog lagi sebelum jamuran, hehe.

Kali ini saya akan review buku yang beberapa saat lalu sudah selesai saya baca.

Judul: Rainbow "The Miraculous Stories of Single Moms"
Penulis: 20 ibu tunggal yang tergabung dalam komunitas Shalihah Single mom Community
Tebal: 460 halaman
Penerbit: Writerpreneur Club (diterbitkan secara indie)
ISBN: 978-602-6719-38-6

Awalnya saya melihat buku ini dari postingan seorang kawan yang merupakan salah satu penulisnya. Saya, yang suka mengkhayal, tertarik sekali melihat gambar di sampulnya. Seorang ibu menggandeng dua anak yang masih kecil, berjalan menjauh. Namun, perjalanannya menuju pelangi. Bagaikan seorang yang ingin mengakhiri kesedihan dan mengejar kebahagiaan. Saya pun membelinya secara online (karena buku indie). Ternyata isinya sungguh mengesankan. Mengharu biru, namun menambah wawasan. Terutama dalm hal keimanan.



Di dalamnya terdapat 20 kisah para ibu tunggal. Satu diantaranya diisi semacam soft selling tentang STIFIn, sementara 19 lainnya murni pengisahan singkat cerita mereka sebelum hingga setelah menjadi ibu tunggal. Pada awal dan akhir ada pemaparan tentang pengetahuan agama yaitu "Mendesain Taqdir Sendiri", "Inspiring Shobiyah Zainab binti Jahsy", dan "Inspiring Shobiyah Al-Khansa RA".

Ketika kita berbicara tentang kehidupan, maka siapapun dapat membuat kita belajar. Tak terkecuali para ibu tunggal ini. Mereka bukan peraih nobel, bukan pula orang terkenal. Mereka adalah manusia yang diijinkan Allah untuk mencecap pahitnya perpisahan. Baik karena perceraian maupun karena sang suami dipanggil mendadak oleh-Nya.

Cerita-cerita di dalamnya sungguh menyentuh. Ada yang ditinggal suami karena kecelakaan pesawat tempur. Ada yang diceraikan setelah sebelumnya mengalami tindakan kekerasan (bahkan kekerasan seksual oleh suami sendiri). Ada pula yang ternyata dinyatakan hamil setelah sebulan kematian sang suami. Banyak lagi kisah yang sungguh saya tidak akan pernah tahu bahwa ada orang yang diijinkan Allah untuk melalui kehidupan sepahit itu.

Berdasarkan kisah di buku ini, saya tahu bahwa Allah tidak akan sembarangan memilih hamba-Nya. Para ibu tunggal ini, masih bisa mengambil hikmah kebaikan untuk dirinya. Setelah diterjang badai kehidupan. Tanda-tanda bahwa mereka sudah naik kelas dalam hal keimanan.

Menurut saya penting bagi kita untuk membaca buku yang menuliskan sisi lain pernikahan. Untuk mensyukuri apa yang telah kita miliki. Untuk belajar dari ketegaran orang lain. Untuk belajar lagi lebih dekat dengan Allah. Untuk tidak mendiskreditkan para orang tua tunggal (terutama yang dikarenakan perceraian). Buku ini membuat kita bisa belajar tentang hal-hal tersebut.

Walaupun bukan ditulis oleh penulis profesional, tapi Anda akan kaget bahwa sebagian besar tulisan di dalamnya bukan tulisan "Kentang". Ditulis secara apik dan urut, dengan diksi yang cukup kaya.

Ya masih ada sih typo di dalamnya. bukan cuma satu dua, tapi agak beberapa, hehehe. Bukan hal yang parah sih kalau kita lebih mengedepankan ilmu yang ingin disampaikan.

Tambahan dari saya pribadi, tulisan ini memang hanya ditulis oleh Si Ibu. Bukan dari kedua sisi. Jadi peristiwa-peristiwa seperti pengkhianatan, pengabaian, dan kekerasan ditonjolkan dari satu sisi. Tanpa membenarkan perlakuan mantan suami mereka yang tak bertanggung jawab, mungkin ada baiknya jika nanti dibukukan juga tulisan dari para pria yang pernah berpisah. Walaupun alasan mereka berbuat seperti itu pasti tak pernah diungkapkan :)

Sekali lagi, buku ini baguuuuuus banget untuk dibaca sebagai penambah wawasan dan penambah rasa syukur dari kehidupan kita yang indah.




Salam hangat,

Astri

Thursday, November 9, 2017

Langkah-Langkah Belajar Agama dengan Anak

Halo Teman-teman,

Sepertinya blog ini sudah kosong beberapa hari, hehe. Kali ini saya ingin share beberapa buku terkait agama Islam yang baru saja kami baca bersama anak.

Jadi ceritanya, beberapa bulan lalu ketika awal-awal bergabung di sebuah komunitas Homeschooling (HS) saya mendapat apa istilahnya, antara "tamparan" atau "pencerahana" gitu. Banyak orang tua yang sudah menjalankan HS untuk beberapa anaknya selalu memiliki rutinitas kegiatan khusus tentang agama. Baik di sela-sela waktu bermain atau saat jam materi khusus malam hari maupun menjelang tidur. Yang mereka lakukan antara lain mengaji bersama, menghafal Al-Qur'an, Muroj'aah, meneladani kisah Rasulullah, menceritakan tentang Kulafaur Rasyidin, membahas cerita Amirul Mu'minin, mengajarkan hadist, dan sebagainya. Seperti yang diduga ya, saya memang belum melakukan sebagian besarnya. Terutama masalah hadist.

Alasannya simple sih. Bagaimana saya bisa mengajarkan hadist, sedangkan saya sendiri tidak paham dengan hadist. "Bagaimana bisa, bisa, bisa", suara pun menggema sampai seluruh wilayah Sangatta, haha. Iya, membahas hadist ini baru di kehidupan saya. Tidak pernah saya lakukan waktu kecil pun saya enggan belajar ketika sudah dewasa. Saat sudah berkeluarga dan memiliki anak, kena batunya!

Di dunia yang semakin mudah ini banyak media-media pembelajaran yang bisa kita terapkan di rumah. Salah satunya dengan membaca buku. Khusus untuk hadist sendiri, memang mempelajarinya tidak bisa hanya dengan membaca buku praktis. Apalagi jika ingin membahas lebih dalam mana hadist shahih, mana hadist lemah, dan mana hadist palsu. Hal ini juga merujuk ke perawih-perawih dan sejarahnya. Kepada siapa beliau-beliau beguru dan kapan beliau berguru. Apakah ketika berguru, keadaan guru beliau sedang sehat atau sakit . Panjang lah ceritanya. Jika saya menunggu sempurna mempelajarinya, malah jadi batal terus belajarnya.

Untungnya sekarang banyak buku praktis yang ditulis untuk segmen anak-anak. Buku dengan tampilan gambar full color dan membahas hadist untuk kegiatan yang sering dijalankan sehari-hari. Namun, jika ingin mendalami tiap hadist yang ditulis dalam buku ini, kita harus mengusahakan lebih dalam mencari informasi. Berikut dua buku yang sedang kami baca bersama anak:

1. Aku cinta Rasulullah SAW
Buku dengan hard cover dan full color ini membahas keseharian Rasulullah mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Sebagaimana diketahui, Rasulullah sudah mengamalkan seluruh isi dalam Al-Qur'an, Subhanallah. "Sungguh dalam diri Rasulullah itu terdapat suri tauladan yang baik" (QS. al-Ahzab:21).
 

Keuntungan mempelajari buku ini adalah, gambarnya dan warnanya menarik bagi anak-anak dan haidist yang dituliskan memang keseharian yang kita sering lakukan. Berikut adalah keseharian Rasulullah yang dituliskan dalam buku ini:
  • tidur
  • bangun tidur
  • mandi
  • berpakaian
  • rambut Rasulullah
  • berbicara
  • makan dan minum
  • bercanda dan tertawa
  • bersin dan menguap
  • masuk rumah
  • keluar rumah
  • memakai sepatu dan sandal
Trik kami agar isinya mengena di hati anak dan kami sendiri tentunya sebagai orang tua adalah dengan membaca buku ini sebelum melangsungkan kegiatan. Yang paling mudah adalah sebelum tidur. Kita bisa membaca berulang-ulang agar melakukan kegiatan yang dicontohkan Rasulullah sebelum tidur seperti membersihkan tempat tidur, tidak tidur terlarut malam, membaca doa, mematikan lampu, berwudhu, dan sebagainya. Jika anak (dan kami tentunya) sedang malas dalam mengerjakan itu, tinggal bilang deh, "Nabi Muhammad kalau sebelum tidur membersihkan tempat tidur dulu lho", semangat lagi deh, hehe.

2. 50 Wasiat Nabi Sehari-hari
Seperti tag line dalam buku ini, "Belajar hadist tak selalu harus di majelis". Yak betul, kita bisa membaca buku ini untuk mengetahui hadist-hadist yang menyertai keseharian kita. Beda dengan buku pertama, buku ini diilustrasikan dengan komik. Halaman bagian kiri ilustrasi permasalah sehari-hari dengan komik, halaman bagian kanan penjelasan hadist yang terkait. Contohnya, ada komik yang menceritakan tentang orang yang suka diliput media ketika memberikan bantuan, nah contoh hadistnya adalah sebaiknya kita bersembunyi ketika bersedekah.
Bagus juga, bisa untuk belajar anak dan tentunya kita sebagai orang tuanya tanpa harus membaca tulisan panjang, namun tetap mengena. Bisa segera mengajarkan ke anak dan melaksanakannya.

_____________________________________OO___________________________________________

Nah buku lain yang sudah saya baca adalah Seri Perempuan Penghulu Surga. Ada empat buku dalam seri ini tetapi saya baru membacanya dua. Keempat seri tersebut adalah Khadijah, Asiyah, Maryam, dan Fatimah. Di buku ini diceritakan mulai dari kelahiran, kehidupan sebelum Islam, bagaimana beliau-beliau mulai mengimani Allah, cobaan yang didapat, hingga meninggal.

Buku ini sebenarnya diperuntukkan bagi anak perempuan, namun ketika saya kecil belum pernah membaca buku ini. Kalau membaca buku untuk orang dewasa pasti tebalnya bukan main, maka buku anak-anak adalah solusi yang dapat diambil.

1. Khadijah binti Khuwailid
Dulu, apalagi sebelum menikah saya nge-fans banget sama Taylor Swift. Udah cantik, kakinya bagus, badannya super, suaranya indah, main musiknya mengagumkan. Tetapi setelah dipikir-pikir, kok kayaknya ada yang lebih relevan untuk saya idolakan dalam hidup ini. Yak betul, Khadijah. Ketika lebih banyak mendengar tentang ajaran agama, saya jadi terkagum-kagum dengan Khadijah. Kuat, hebat, dermawan, dan istri yang sungguh setia. Pantas ya menjadi perempuan pemimpin surga. Kalau saya mah cuman perempuan yang mudah lelah hayati.


Membaca cerita dalam buku ini mengingatkan saya pada buku "Soekarno, Kuantar Kau ke Gerbang" karya Ramadhan K.H. yang menceritakan perjuangan bu Inggit mendampingi suaminya Pak Soekarno dalam meraih kemerdekaan Indonesia. Tapi ya jelas antara Rasulullah dan Khadijah dengan Inggit dan Soekarno memiliki awal dan akhir kisah yang sungguh, sungguh, sungguh berbeda.

2. Asiyah
Siapa ingat cerita Nabi Musa yang dihanyutkan di Sungai Nil untuk menghindari kekejaman Fir'aun? Yak, Asiyah yang merupakan istri dari Fir'aun ini adalah yang menyelamatkan beliau. Orang yang sungguh memiliki ketetapan di dalam hatinya. Melawan suaminya sendiri untuk beriman kepada Allah. Rela dihukum demi menjaga keimanannya dan meninggal di saat mempertahankan keimanannya. Dikurangi jatah makanannya, disiksa, dijemur berhari-hari di gurun pasir yang panas, dan ditindih batu besar, beliau tetap bertahan. Dan itu dilakukan oleh suaminya sendiri, namun beliau tidak bergeming. Luar biasa. Memang tidak mudah ya cobaan bagi para pemimpin surga.


Yang sungguh menampar saya adalah, beliau hanya melawan menggunakan do'a. Dan Alah memang Maha Mendengar seluruh hamba-Nya. Dan saya???? T.T

Sekian review buku dari saya, semoga kita semangat terus dalam mempelajari agama. Karena tidak ada yang indah selain menjadi penghuni surga. Aamiin.




Salam hangat,

Astri

Wednesday, November 1, 2017

Teach Like Finland: Pentingnya Mengistirahatkan Otak

Halo Teman-teman,

Saat ini saya sedang membaca sebuah buku berjudul Teach Like Finland yang ditulis oleh Timmothy D. Walker (Tim). Saya baru saja merampungkan satu bagian, sehingga tulisan ini adalah poin-poin yang saya rasa penting pada bagian pertama.


Seperti tertulis pada sampulnya, buku ini mendapat predikat best seller karena sudah dicetak sebanyak empat kali sejak edisi pertama bulan Juli 2017. Jika Anda belum membacanya, sedikit saya terangkan latar belakang ditulisnya buku ini.

Tim merupakan seorang yang berprofesi sebagai guru di Amerika Serikat (AS). Secara umum kehidupan para guru di AS rupanya terlampau melelahkan. Hal ini disebabkan karena mereka mendapat sugesti bahwa guru profesional yang berkompeten adalah mereka yang bekerja hingga larut sore. Tidak hanya sebagai pengajar di depan kelas, namun mereka harus berkutat dengan rencana pembelajaran kreatif, menata ruang kelas, dan melakukan segala hal agar anak didik mereka terlihat fokus, cerdas, serta dapat melampaui tuntutan dalam hal pencapaian akademik.

Tugas yang berat menjadi seorang pendidik, membuat Tim menjadi tertekan. Ia mudah merasa cemas, gelisah, selalu berpikir bahwa ada yang salah dan kurang dari pekerjaannya, mengurangi jam tidur agar tiba lebih awal di sekolah, serta tidak ada jeda waktu untuk bercengkerama dengan keluarga. Bahkan, ditahun pertama ia mengajar Tim selalu muntah-muntah. Hingga istrinya, Johanna, seorang warga negara Finlandia mulai sangat khawatir.

Johanna menuturkan bahwa di negaranya guru sama sekali tidak dibebankan pekerjaan seberat itu. Menurutnya, di Finlandia, para guru memiliki istirahat yang cukup dan selalu ada waktu untuk keluarga. Awalnya Tim merasa bahwa hal itu bisa terjadi karena pendidikan di Finlandia belum begitu baik. Namun dugaannya salah ketika ia mempelajari bahwa remaja Finlandia umur 15 tahun secara konsisten menunjukkan performa yang baik dalam serangkaian tes internasional bernama PISA (Programme for International Student Assesment). Singkat cerita, Tim meninggalkan pekerjaan gurunya di AS dan kemudian berpindah ke Finlandia dan menjadi guru di sana. Pengalamannya ini ditulis dalam sebuah blog berjudul Taught by Finland yang kemudian dibukukan dengan judul Teach Like Finland.

Buku ini lebih seperti berbagi tips untuk para guru dalam mengajar berdasarkan pengalaman Tim mengajar di sekolah dasar Helsinki. Namun, sepertinya di Indonesia, pembaca tidak hanya dari kalangan guru sekolah, melainkan juga guru di rumah seperti saya. Memang betul, Tim menulisnya dengan sangat apik walaupun di negara kita belum tentu bisa dilaksanakan sama persis yang ditulis olehnya.
Pentingnya Mengistirahatkan Otak
Perbedaan yang mencolok dari sekolah-sekolah di Finlandia dengan AS (dan banyak negara di dunia) adalah jam sekolah yang singkat serta banyak waktu istirahat. Setelah melangsungkan pelajaran selama 45 menit, para murid diberikan jeda istirahat selama 15 menit. Hal ini berulang hingga mereka pulang pukul 14.00. Kebijakan ini dilakukan agar baik para murid dan guru bisa menyegarkan otak lagi, harapannya mereka lebih fokus dan bersemangat ketika pelajaran berikutnya.

Pengalaman saya pribadi ketika Sekolah Dasar sungguh bertolak belakang. Saya harus berangkat pukul 05.20 karena ikut mobil antar-jemput sekolah (orang tua tidak bisa mengantar) dan harus tiba di sekolah sebelum pukul 06.40. Jika terlambat, maka kami akan mendapat hukuman dikunci dari dalam, sehingga kami harus menunggu di teras sekolah sampai pukul 07.30. Setelah dibukakan, kami harus mendapat hukuman kedua. Berdiri di depan dan menyampaikan kepada seluruh isi kelas alasan datang terlambat. Memberi efek jera dengan mepermalukan.

Belum lagi, setelah pulang sekolah puku 13.30, kami harus melanjutkan pelajaran tambahan yang disebut dengan "pengayaan" yang saya pribadi merasakan bukan menambah kaya wawasan, namun hanya memperkaya rasa lelah. Belum lagi kami diwajibkan membawa minimal empat buku untuk setiap pelajaran. Satu buku paket, satu buku catatan, satu buku tugas, dan satu buku ulangan harian. Seingat saya per harinya kami menerima enam mata pelajaran. Bisa dibayangkan betapa beratnya tas kami. Satu buku saja tertinggal atau belum diberi sampul, maka siap-siap menerima hukuman. Kedisiplinan ditekankan dengan hukuman sebagai konsekuensinya.

Saya bisa sampai di rumah sekitar pukul 16.30 dan ketika kelas enam masih harus lanjut les di lembaga bimbingan belajar hungga pukul 19.30. Setelah pulang, masih harus mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR). Setiap mata pelajaran selalu memberikan PR. Luar biasa!! Alhasil setiap pagi, orang tua selalu marah-marah karena saya malas-malasan bangun pagi dan selalu belum siap ketika mobil antar-jemput datang, hahaha.

Berbeda dengan murid Finlandia yang tetap mendapatkan PR, namun dengan jumlah yang tidak begitu banyak. Para guru pun memastikan bahwa PR yang mereka berikan dapat diselesaikan oleh murid-muridnya dalam waktu yang singkat. Sehingga, mereka dapat mengisi waktunya dengan kegiatan sesuai minatnya.

Di Findlandia, kesejahteraan merupakan sesuatu yang diperhatikan dalam belajar mengajar. Setelah kesejahteraan utama terpenuhi (sandang, pangan, dan papan), maka lanjut ke kesahjetaraan dalam bentuk "kebahagiaan". Filosofi yang dilaksanakan memang unik. Mereka tidak menggunakan kesuksesan agar merasa bahagia, namun mereka meyakini bahwa kebahagiaan adalah kunci kesuksesan. Salah satu caranya adalah dengan memberi kesempatan untuk meyegarkan otak.
Lalu apa yang mereka lakukan?
Ketika istirahat 15 menit ini berlangsung, para murid bebas melakukan kegiatan apapun sesuai keinginan mereka. Sementara, para guru berkumpul di ruang istirahat guru sembari bersendau gurau bahkan hingga tertawa terbahak-bahak, meminum kopi, atau membaca surat kabar. Namun tetap ada beberapa guru yang mengawasi kegiatan anak-anak selama istirahat (dilakukan secara bergiliran). Menurut Pellegrini (2005) jeda istirahat singkat ini, membantu anak-anak lebih fokus di kelas berikutnya.

Apakah ada kendala?
Oh tentu saja. Berdasarkan rapor Finlandia tahun 2014 menunjukkan bahwa anak-anak Finlandia mendapat nilai D untuk semua kegiatan fisik. Mengapa? Karena saat waktu istirahat singkat, masih banyak ditemukan murid yang hanya "duduk-duduk" sembari memainkan gadget atau tertidur di lorong sekolah sembari menunggu pelajaran berikutnya. Risiko yang dapat terjadi adalah meningkatnya murid obesitas dan penyakit yang berhubungan dengan jantung (karena tidak terbiasa bergerak). Memang ada murid yang berkegiatan fisik, namun jumlahnya sangat sedikit.

Solusi yang diambil untuk menengarai masalah ini adalah dengan membuat program Finnish School on The Move. Inti dari kebijakan ini adalah menggiatkan kegiatan outdoor bagi murid agar menekan jumlah kegiatan pasif selama istirahat singkat. Caranya sungguh unik. Di setiap sekolah ada penunjukkan beberapa murid untuk menjadi Recess Activator (penggiat istirahat). Mereka dilatih untuk memotivasi murid yang lebih muda agar semangat berkegiatan fisik ketika istirahat singkat berlangsung. Masing-masing sekolah memiliki preferensinya sendiri terhadap kegiatan yang dikerjakan para pengguat istirahat.

Di tempat Tim mengajar, para penggiat istirahat ini membantu murid kelas 1 dan 2 dengan membuat kesepakatan tentang permainan apa yang akan dilakukan untuk mengisi jeda istirahat. Permainan yang dipilih harus melibatkan kegiatan fisik seperti Banana Tag. Di tempat lain di Finlandia, ada sekolah yang menerapkan cara lain. Murid yang berada di kelas dasar memegang kertas sebagai artu nama yang selanjutnya digunakan sebagai "paspor". Ketika jeda istirahat berlangsung, penggiat istirahat akan meminjam kunci di ruang guru, lalu membimbing adik-adik kelas mereka untuk memilih alat permainan yang berada dalam lemari penyimpanan (bola, lompat tali, dll.).

Cara ini dinilai efektif untuk kelas dasar, walaupun tidak terlalu berpengaruh untuk murid yang sudah berada di kelas yang lebih tinggi. Sehingga, untuk anak-anak kelas 5 dan 6 (atau sekolah menengah), diberikan satu kali istirahat selama 30 menit untuk melakukan kegiatan sesuai minat sepertimenyediakan ruang khusus untuk melakukan kegiatan seperti yogalates, hoki lantai, senam, atau apapun sesuai minat.

Asik ya? Apa bisa diterapkan di Indonesia?
Saya tidak tahu pasti sebenarnya. Tetapi tulisan ini hanya murni pendapat saya ya, pasti tidak semuanya benar.

Menurut saya, apabila pemerintah dan segenap ahli pendidikan Indonesia menilai bahwa istirahat singkat baik untuk pelajar, maka aturan ini pun akan dikeluarkan. Namun, (sekali lagi menurut saya) jika terwujud pasti akan banyak sekali kendalanya karena perangkat di dalamnya belum siap. Anggap saja sedikitnya ada tiga perangkat. Pertama adalah sekolah beserta guru, kedua adalah murid, ketiga adalah peralatan pendukung.


Di Finlandia, nampaknya guru mendapat keuntungan karena bisa bersantai saat istirahat singkat, namun disisi lain mereka juga harus membuat berbagai ide kreatif agar para muridnya dapat mengisi waktu istirahat dengan kegiatan yang bermutu. Sependek yang saya tahu, guru di Indonesia telah dijejali banyak sekali pekerjaan. Saya kurang tahu apa detailnya tetapi dari info yang pernah saya dapatkan, guru sangat kuwalahan memberikan penilaian-penilaian secara deskriptif untuk muridnya. Apalagi jumlah murid di sekolah negeri dan swasta Indonesia relatif banyak. Itu saja sudah cukup banyak menyita waktu. Apalagi harus ditambah dengan menyiapkan ide kreatif pengisi waktu istirahat.

Dari sisi muridnya, sebagai seseorang yang pernah duduk di bangku sekolah, akan terjadi banyak kemungkinan saat istirahat singkat. Pertama, para murid menggunakannya dengan sepenuh hati. Mereka akan antusias untuk bermain outdoor. Kedua, sama halnya di Finlandia. Mereka akan duduk-duduk bermain gadget atau tertidur sembari menunggu jam pelajaran berikutnya. Ketiga, mereka akan berinisiatif menambah jam istirahatnya, sehingga guru masuk ke kelas dengan jumlah murid yang tidak seberapa. Parahnya lagi memang ada kemungkinan guru masuk, namun tidak ada murid di kelas (hal ini sangat mungkin terjadi apalagi untuk murid sekolah menengah, hehehe. Jaman saya dulu sih. Mungkin sekarang sudah jauh lebih baik). Dari sisi peralatan pendukung, saya rasa juga masih menjadi kendala di Indonesia karena tidak setiap sekolah mampu menyediakannya.

Untuk pendidikan berbasis keluarga (Homeschooling) sepertinya akan lebih fleksibel menerapkan kebijakan ini, walaupun tidak bisa juga disamaratakan untuk seluruh keluarga, karena prefensi tiap keluarga berbeda. Ditambah lagi, tidak semua keluarga homeschooling berada di kota besar yang infrastrukturnya sudah lengkap. Sehingga, masih perlu banyak mengusahakan agar jeda istirahat dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Butuh usaha ekstra keras dari orang tua memang terkait pelaksanaan homeschooling ini, karena semua sistemnya dibangundan dibentuk sendiri.

Itu untuk murid sekolah. Kalau untuk oang dewasa yang sudah bekerja, apa masih perlu mengisirahatkan otak?
Kalau ditanya perlu atau tidak, jawabannya tentu saja perlu. Baik anak-anak maupun dewasa butuh penyegaran otak. Namun kondisi orang dewasa yang terkadang tidak bisa melakukannya. Bagi orang-orang yang sudah menemukan passion-nya di dalam pekerjaan, mungkin mereka bekerja dengan rasa bermain di taman bermain. Namun, sebagian besar dari kita masih ada di pekerjaan yang jauh dari passion bahkan menyita banyak pikiran yang bisa membuat depresi. Atau malah ibu rumah tangga dengan pekerjaan domestik yang tidak akan berakhir sampai ajal menanti.
Saya rasa memang susah mengambil jeda apabila tidak ada aturan yang memperbolehkannya. Namun, bisa kita luangkan beberapa menit jika memang otak sudah tidak bisa diajak berlari. Bisa dengan menulis satu sampai dua kalimat di kertas untuk mengeluarkan uneg-uneg. Cara ini terbukti bisa menurunkan tingkat stres. Atau menyeruput minuman hangat di area terbuka sembari memejamkan mata dan menarik nafas. Mengaliri otak dengan udara segar dapat membantunya bekerja dengan lebih baik. Atau hanya melamun mengingat hal yang indah. Melamun juga salah satu terapi mengurangi stres, tapi apabila dilakukan terlalu lama berdampak tidak baik bisa kesambet. Atau membaca satu sampai dua ayat dalam Al-Qur'an? Bagi sebagian orang memang tidak berdampak apa pun, namun sebagian lainnya membaca Al-Quran akan membuatnya merasa berada di taman bunga yang indah dan harum, menyegarkan. Lalu, Anda ingin menyegarkan otak dengan cara apa??




Salam Hangat,

Astri