Halo Teman-teman,
Ini adalah tulisan pertama setelah satu minggu benar-benar tidak menulis. Mmmm...kecuali membalas chat WA tentunya, hehe. Rupanya tangan dan otak saya sudah mulai kaku.
Tulisan kali ini sepertinya sedikit acak. Acak temanya, acak alurnya, acak faedahnya. Saya sempat terpikirkan untuk menulis tentang cinta. Sudah ada draft-nya, tetapi mangkrak. Sekarang malah terpikirkan ide lain. Lalu saya terpikir, mengapa tidak menggabungkan keduanya? Ide dulu dan sekarang.
Mari dicoba.
Seminggu tidak menulis bukan lah tanpa alasan. Kebetulan saya mendapat jatah sakit dan harus menginap sementara di Rumah Sakit. Selama seminggu saya terlihat seperti pengangguran yang pemalas dan tanpa inisiatif. Bahkan, memaksa suami saya untuk tidak bekerja juga karena anak kami terancam tidak terurus.
Pekerjaan saya di awal-awal terserang penyakit bak keledai dungu kehilangan arah. Ketika pagi datang, saya membuka mata dan merasakan pusing luar biasa. Mencoba bangun untuk membuat sarapan, namun perjalanan hanya sampai ranjang bagian bawah. FYI, saya tidur di kamar dengan kasur tingkat. Setelah merasa cukup kuat jiwa dan raga, saya melanjutkan perjalanan ke dapur. Di tengah jalan, saya mampir dulu tidur di sofa. Hari makin terang, maka saya benar-benar berniat memasak. Bangunlah saya dari sofa. Alih-alih sampai dapur, saya malah tersungkur di kursi makan. Suami saya sepertinya melihat perubahan istrinya menjadi keledai, otomatis langsung menyuruh saya tetap di kamar. Akhirnya beliaulah yang membeli sarapan.
Kejadian di atas terjadi juga pada makan siang dan malam. Sehingga hari itu, makanan yang tersaji di rumah adalah produk hasil membeli. Keesokan harinya, kondisi saya semakin parah. Singkat cerita, menginaplah saya di RS untuk sementara. Rupanya ada gejala Demam Berdarah (DB), tipes, dan infeksi saluran kencing.
Berakhirnya saya di RS, menimbulkan pemikiran pribadi di benak saya. Ada empat kemungkinan mengapa ini terjadi:
1. Saya pernah mengeluh terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah
2. Suami saya sedang merasa sangat tertekan dan lelah dengan pekerjaannya
3. Anak kami berharap lebih banyak waktu dengan bapaknya
4. Semuanya benar
Anggaplah kemungkinan empat yang benar. Maka, kami memang mendapat apa yang kami mau. Saya menjadi orang yang doing nothing, suami seminggu penuh tidak bekerja, dan Azka mendapat waktu dari bapaknya. Tetapi konsekuensinya, saya menanggung rasa sakit, suami menanggung beban kerja yang tertumpuk, dan anak kami harus cukup puas menghabiskan waktu bersama bapaknya di kamar RS.
Ini belum konsekuensi yang lain. Seperti rumah menjadi hancur berantakan layaknya kapal Titanic yang sudah terbelah dua menunggu karam, cucian yang menggunung, dan pengeluaran tidak terduga yang cukup lumayan.
Itulah konsekuensi dari sebuah harapan. Lalu, apa hubungannya dengan ide terdahulu saya yang akan menulis tentang cinta?
Saya ingin menghubungkan kata konsekuensi dengan satu fase kehidupan manusia bernama pernikahan. Apakah ada hubungannya? Tentu ada. Pernikahan adalah perjalanan terpanjang dan terberat yang dipikul oleh seorang manusia. Karena di dalamnya terdapat konsekuensi-konsekuensi yang bahkan tetap akan dipertanggungjawabkan hingga bumi runtuh dan langit tergulung.
Beberapa waktu lalu, saya mengikuti kuliah via Whatsapp atau menurut Moms Jaman Now disebut dengan Kulwapp. Dua diantaranya mengangkat topik yang hampir sama yaitu hubungan dalam pernikahan. Sementara menimba ilmu melalui Kulwapp, saya juga sedang mengikuti kelas Islamic parenting yang dalam salah satu sesinya juga membahas topik serupa. Ditambah lagi, saya mendapat isi kajian tentang pernikahan dari salah satu anggota komunitas yang saya ikuti.
Pasti tidak asing terdengar dalam ucapan selamat saat pernikahan seperti ini, "Selamat menempuh hidup baru ya Mr. XXX dan Mrs. XXX. Hari ini kalian sudah menggenapkan separuh agama". Saat itu, saya berpikir bahwa sudah berhasil menggenapkan separuh agama dan layak merasa lega. NO, NO, NO, NO, jangan ditiru ya!! Itu salah. Saya ulangi lagi, itu SALAH. Bukan seperti itu maknanya. Itu adalah kesimpulan dari seseorang kurang ilmu dan wawasan.
Menikah menggenapkan separuh agama adalah potongan sebuah hadist, yang mana versi lengkapnya berbunyi, "Barang siapa menikah maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya, maka bertakwalah kepada Allah untuk menyempurnakan setengah yang kedua".
Terlihat kan? Bahwa menikah BUKAN akhir, namun adalah awal dimulainya kita bergelut dalam sebuah bahtera panjang penuh lika-liku masalah, penuh aturan, dan penuh konsekuensi. Itulah mengapa pernikahan dianggap sebagai penyempurna separuh agama. Jika dijalani dengan baik, sempurnalah separuh agama kita. Jika salah satu dari pasangan atau keduanya tidak menjalani dengan baik, maka tidak dapat dicapai kesempurnaan yang dimaksud.
Jika kita pernah melihat pasangan yang sudah renta namun masih diselimuti tawa. Tanyakan. Tanyakan bagaimana mereka bisa menjalaninya. Saya pernah menanyakan dari beberapa pasangan lanjut usia yang masih mesra. Rata-rata mereka memiliki tingkat toleransi yang sangat besar terhadap pasangannya. Sangat besar dan sangat sabar memahaminya. Mereka membutuhkan satu sifat terpenting dalam diri pasangannya dan tidak menghiraukan sifat lainnya yang kurang pas di hati. Itu adalah bekal terpenting mereka menghadapi kehidupan yang penuh masalah. Katakanlah masalah keuangan, masalah keluarga besar, masalah pengasuhan anak, masalah kesehatan, dan masalah lainnya yang hanya terhenti ketika mereka sudah terpisahkan oleh kematian.
Saya ingin menghubungkan kata konsekuensi dengan satu fase kehidupan manusia bernama pernikahan. Apakah ada hubungannya? Tentu ada. Pernikahan adalah perjalanan terpanjang dan terberat yang dipikul oleh seorang manusia. Karena di dalamnya terdapat konsekuensi-konsekuensi yang bahkan tetap akan dipertanggungjawabkan hingga bumi runtuh dan langit tergulung.
Beberapa waktu lalu, saya mengikuti kuliah via Whatsapp atau menurut Moms Jaman Now disebut dengan Kulwapp. Dua diantaranya mengangkat topik yang hampir sama yaitu hubungan dalam pernikahan. Sementara menimba ilmu melalui Kulwapp, saya juga sedang mengikuti kelas Islamic parenting yang dalam salah satu sesinya juga membahas topik serupa. Ditambah lagi, saya mendapat isi kajian tentang pernikahan dari salah satu anggota komunitas yang saya ikuti.
Pasti tidak asing terdengar dalam ucapan selamat saat pernikahan seperti ini, "Selamat menempuh hidup baru ya Mr. XXX dan Mrs. XXX. Hari ini kalian sudah menggenapkan separuh agama". Saat itu, saya berpikir bahwa sudah berhasil menggenapkan separuh agama dan layak merasa lega. NO, NO, NO, NO, jangan ditiru ya!! Itu salah. Saya ulangi lagi, itu SALAH. Bukan seperti itu maknanya. Itu adalah kesimpulan dari seseorang kurang ilmu dan wawasan.
Menikah menggenapkan separuh agama adalah potongan sebuah hadist, yang mana versi lengkapnya berbunyi, "Barang siapa menikah maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya, maka bertakwalah kepada Allah untuk menyempurnakan setengah yang kedua".
Terlihat kan? Bahwa menikah BUKAN akhir, namun adalah awal dimulainya kita bergelut dalam sebuah bahtera panjang penuh lika-liku masalah, penuh aturan, dan penuh konsekuensi. Itulah mengapa pernikahan dianggap sebagai penyempurna separuh agama. Jika dijalani dengan baik, sempurnalah separuh agama kita. Jika salah satu dari pasangan atau keduanya tidak menjalani dengan baik, maka tidak dapat dicapai kesempurnaan yang dimaksud.
Jika kita pernah melihat pasangan yang sudah renta namun masih diselimuti tawa. Tanyakan. Tanyakan bagaimana mereka bisa menjalaninya. Saya pernah menanyakan dari beberapa pasangan lanjut usia yang masih mesra. Rata-rata mereka memiliki tingkat toleransi yang sangat besar terhadap pasangannya. Sangat besar dan sangat sabar memahaminya. Mereka membutuhkan satu sifat terpenting dalam diri pasangannya dan tidak menghiraukan sifat lainnya yang kurang pas di hati. Itu adalah bekal terpenting mereka menghadapi kehidupan yang penuh masalah. Katakanlah masalah keuangan, masalah keluarga besar, masalah pengasuhan anak, masalah kesehatan, dan masalah lainnya yang hanya terhenti ketika mereka sudah terpisahkan oleh kematian.
Masalah ini tidak akan bisa selesai hanya dengan membuat Relationship Goal ala anak muda jaman sekarang. Saya juga tidak habis pikir, mengejawantahkan Relationship Goal dengan cara menyium ketek pasangannya atau bertukar pakaian. Come on, anak kalian tidak bisa menjadi generasi sholih dan sholihah dengan cara seperti itu. Jika ada anak muda yang membaca artikel ini, ayo ayo ayo bangun bangun bangun!! Orang tua kita tidak selamanya hidup dan menolong!! Mungkin saya akan tulis lembar tersendiri mengenai nasihat untuk kids jaman now. Terlanjur gemas. Ya sama anaknya, ya sama orang tua nya *Semoga kita semua bisa mendidik anak kita menjadi generasi yang paham agama, mandiri, penuh sopan santun, berempati dengan baik, dan bermanfaat bagi sesama. Aamiin.
Nah, saya sendiri baru memiliki sedikit pengalaman tentang pernikahan. Ilmu tentangnya pun masih sangat terbatas. Pada artikel ini, akan saya cuplik beberapa poin penting tentang pernikahan yang saya dapat dari Kulwapp dan kelas parenting.
1. Mengawali niat pernikahan sebagai sarana beribadah kepada Allah
Banyak onflik dalam rumah tangga yang muncul karena kesalahan niat awal dalam pernikahan. Jika konflik yang kita alami dalam rumah tangga terasa terus melebar dan berkepanjangan, ada baiknya untuk mengevaluasi kembali niat awal dalam menikah. Jika terlanjur salah atau ternoda dalam niat menikah di awal, sebaiknya segera mengajak pasangan bertobat ersama kepada Allah dan menata hati untuk meluruskan kembali niat pernikhan. Memaksakan melanjutkan pernikahan dengan niat awal yang salah akan lebih banyak menguras tenaga dan membutuhkan bayak pengorbanan dibanding tenaga untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan.
2. Komunikasi yang sehat
Ini adalah kunci keberhasilan dalam menyelesaikan konflik rumah tangga dan membangun rumah tangga sehat yang minim konflik. Pasangan kita yang sebenarnya memiliki kepribadian yang baik serta memiliki pandangan yang baik, pandangannya belum tentu dapat diterima dengan baik jika komunikasi tidak dilakukan dengan cara baik dan tepat. Begitu juga sebaliknya. Pandangan kita yang baik belum tentu diterima dengan baik oleh pasangan kita. Karena komunikasi yang tidak baik banyak muncul prolematika rumah tangga pada pernikahan pasangan yang sebenarnya memiliki kepribadian yang baik.
3. Efektifkan komunikasi
Penting sekali untuk wanita. Jangan berharap suami dapat mengerti yang dimaksud jika istri tidak mengatakan dengan lugas keinginannya. Paada umumnya para lelaki kesulitan menangkap pesan secara implisit. Sampaikan secara terbuka dengan penuh rasa hormat tentang apa yang kita harapkan. Para lelaki sangat tidak suka bila kemampuannya diragukan, keberadaannya diabaikan, kehadirannya tidak diperlukan, dan pertolongannya tidak diharapkan. Oleh karena itu, gunakan pesona wanita yang penuh kelembutan dan tunjukkanlah betapa perab dan keberadaannya sangat berarti sehingga para istri dapat menarik hati suami.
4. Dengarkan istri
Pada umumnya, para istri lebih mengharapkan suami mendengarkan dan memahami apa yang dirasakannya dibanding memberi masukan apalagi menantangnya secara lugas dengan mengabaikan perasaaannya. Maka, sebelum menyampaikan pesan, pikatlah perasaan istri dengan mengakui perasaaannya.
5. Saling memahami dalam megatur waktu
Biasanya kondisi sesaat setelah suami pulang kerja akan menentukan kondisi setelahnya. Suami pulang kerja umumnya merasa lelah, namun di waktu ini lah istri biasanya ingin memuntahkan semua unek-unek nya setelah seharian mengurus rumah dan mengasuh anak. Disisi lain, anak-anak juga butuh perhatian dari ayahnya. Disini lah perlu diatur momen yang tepat untuk komunikasi bersama. Meminta pengertian anak kecil akan jauh lebih sulit daripada meminta pengertian orang dewasa. Maka, istri sebaiknya menunda keinginannya untuk bercerita, sementara suami melepas lelah dan bercengkrama dengan anak-anak. Di pihak suami, umumnya mereka membutuhkan me time selepas kerja dengan mengikuti hobi. Seperti membuka gadget untuk melihat tayangan olahraga, berita, atau teknologi. Disini, suami pun juga harus paham bahwa sosoknya masih dibutuhkan istri untuk berkeluh kesah, sehingga menunda atau mempersingkat keinginannya bermain gadget. Sama-sama menekan ego dengan tujuan membahagiakan pasangan.
6. Jika sudah menyangkut agama, maka berhati-hatilah
Apabila problematika kita meruakan musibah dalam hal agama, maka berhati-hatilah! Karena itu adalah musibah terbesar bagi seorang manusia di dunia. Bersegeralah mengupayakan perubahan-perubahannya jika kita benar-benar merindukan untuk berkumpul kembali di surga. Jika kesalahannya berkaitan dengan dosa kepada Allah, maha segera mohon ampun. Jika kesalahannya berkaitan dengan manusia, maka bersegeralah menyambung dan memperbaiki kembali silaturahim dengan mereka jika kita berharap Allah mengampuni dosa-dosa kita.
7. Bedanya wajib menikah dengan "ngebet" menikah
Wajib nikah itu bisa karena dua hal. Pertama karena dari segi usia, ilmu, amal, dan kapasitas memang sudah sangat sanggup unuk menikah. Jika tidak menikah maka orang ini melalaikan suatu ibadah besar, menagbaikan apa yang menjadi sunnah Rasulullah SAW. Kedua karena keadaan sudah dekat dengan lawan jenis yang juga sama-sama memiliki rasa senang. Jika tidak disegerakan, akan timbul fitnah atau menjatuhkan ke dosa besar. Sementara, kriteria sanggup menikah antara lain, ilmu, amal, akhlak, kedewasaan, kemandirian, dan kemampuan untuk hidup bersama orang lain dalam lingkup keluarga.
8. Solusi simple finansial
Tambah penghasilan, kurangi pengeluaran, perbabnyak sedekah, dan sederhanakan hidup.
9. Selalu mengingat Allah adalah sumber ketenangan
Allah SWT telah berjanji, "Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan berdzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram" (QS. Ar-Ra'du:28).
10. Selalu percaya bahwa kasih sayang dapat meluruskan benang kusut sekalipun
Allah SWT berfirman, "Dan diantaranya tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah), bagi kaum yang berpikir" (QS. Ar-Rum:21).
Maka, pernikahan tidak hanya sekedar menyiapkan resepsi dan seragam. Pernikahan bukan masalah siapa tercepat. Pernikahan bukan perkara mempersiapkan liburan halal. Pernikahan adalah suatu persiapan mental, fisik, dan kedewasaan untuk menaiki bahtera yang nantinya akan berada di arus datar membosankan atau malah dalam badai yang memporak-porandakan. Baiknya kita selalu mengingat Allah dalam setiap langkah keputusan. Allah pasti tahu saat hamba-Nya tidak mampu
Tulisan ini bersumber dari kulwapp yang diberikan oleh:
*Teh Kiki Barkiah
*Kang Muhmmad Firman
*Tautan link berasal dari blog pribadi Mbak Naila M Tazkiyyah
No comments:
Post a Comment