Showing posts with label homeschooling. Show all posts
Showing posts with label homeschooling. Show all posts

Friday, September 28, 2018

Little Science Project: Percobaan Metamorfosis Bersama Balita (Bagian II)


Assalamualaikum...

Menyambung artikel sebelumnya, berikut saya tuliskan alat, bahan, dan cara kerja percobaan metamorfosis. Semoga bermanfaat :)

Alat dan bahan:
1. Gelas plastik/toples plastik yang dilubangi di sekelilingnya. Jaraknya satu sama lain agak jauh, jangan terlalu rapat (1)
2. Jika menggunakan gelas plastik, maka kita membutuhkan plastik bening yang digunting menjadi lebar, digunakan untuk menutup gelas. Ketika sudah ditutupkan, plastik ini pun dilubangi di beberapa tempat. Yang penting lubang jangan terlalu besar dan jangan juga terlalu banyak. Supaya plastik terlihat rapi, saya sengaja gunting sisa-sisa yang sekiranya tidak berguna (1)
3. Karet gelang untuk mengikat plastik bening pada mulut gelas (1)
4. Ulat 
5. Daun

Tahapannya:

1. Siapkan terlebih dahulu gelas/toples yang telah dilubangi agar ketika mendapatkan ulat, langsung bisa ditempatkan. 

2. Cari ulat dimanapun yang sekiranya ada.

3. Ambil ulat beserta daun dan tangkainya. Jadi jangan mengambil sebagian daun saja.

4. Jika sudah menempatkan ulat sedaun-daunnya, tutup gelas dengan plastik. Ingat ya, lubang plastik jangan banyak-banyak dan jangan juga besar-besar. Kencangkan plastik dengan karet gelang dan rapikan rumbai-rumbai plastik yang masih tersisa. Langkah terakhir ini super tidak penting dan tidak wajib dilakukan. Saya hanya terlalu risih melihat sesuatu yang kurang rapi, hehehe.

5. Lakukan pengamatan. Hal yang perlu diperhatikan adalah:

- Setiap pagi taruh wadah di tempat yang terkena sinar matahari. Tidak perlu secara langsung. Kalau saya hanya ditaruh di jendela.

- Waspadai jika ada semut karena semut juga memakan dedaunan. Kuatirnya daun habis atau wadah jadi dipenuhi oleh semut. Awalnya, saya sampai tandai sekitaran gelas dengan kapur semut. Saya kuatir ulat mati dimakan semut. Namun, saya baru sadar. Bukannya sehari-hari ulat berdampingan dengan semut ya? Lah buat apa saya melindungi ulat dari semut. Mungkin saya perlu Aqua.

- Jika daun sudah terlihat layu, segera tambahkan daun yang baru. Ulat sudah otomatis tahu daun mana yang lebih segar. Kata suami saya, "Ulat aja tahu ya yang mana daun muda."

"Iya, Pi. Btw, tau kah fungsinya pisau?"

Hening.

6. Catat dan dokumentasikan setiap kali melakukan pengamatan atau ada perubahan.

7. Catat pula tanda-tanda yang muncul dari Ananda.

Apakah matanya berbinar? Apakah dia bahagia? Apakah dia terlihat biasa-biasa saja? Apakah dia terlihat cuek? Siapa tahu dari berkegiatan sederhana seperti ini, kita bisa menemukan fitrah bakatnya. Insya Allah.

Little Science Project: Percobaan Metamorfosis Bersama Balita (Bagian I)

Assalamualaikum...

Ketika masih duduk di bangku SD pasti kita tidak asing dengan istilah metamorfosis, ya kan? Ada dua macam metamorfosis yaitu metamorfosis sempurna dan metamorfosis tidak sempurna. Dikatakan metamorfosis sempurna jika mengalami empat fase: telur, larva, pupa, dan imigo. Contoh hewan yang mengalami metamorfosis sempurna ini adalah kupu-kupu. Sementara dikatakan metamorfosis  tidak sempurna jika hanya melewati tiga fase: telur, nimfa, dan imigo. Contoh hewan yang mengalami metamorfosis tidak sempurna adalah belalang. Teori ini disampaikan oleh guru di dalam kelas, ditulis di dalam buku paket, dan diujiankan dalam ulangan harian. Namun, hingga percobaan ini dilakukan saya belum pernah sekalipun mengamati kejadian metamorfosis dengan mata kepala sendiri.

Berhubung kami tinggal di "rimba", nge-mol tidaklah memungkinkan sehingga diganti dengan nge-bon. Alias berjalan-jalan di kebon. Bukan makan di kantin, bayarnya pas gajian ya. Hahaha.

Bagi Azka sendiri, dia sudah memahami konsep metamorfosis berkat buku HOP! yang dihadiahkan oleh Tante Euis. Jadi saya tidak perlu menjelaskan panjang dan lebar sebelum memulai percobaan. Hanya perlu memancingnya dengan pertanyaan, "Gimana ceritanya ulat berubah jadi kupu-kupu?" Dari pertanyaan ini dia bisa menjelaskan urutan telur, ulat, kepompong, dan kupu-kupu. Diapun telah mengetahui proses ini dinamakan metamorfosis walaupun melafalkannya dengan agak kepleset-pleset.

Kami melakukan percobaan sebanyak tiga kali. Adapun rinciannya:

Pertama

Pada percobaan pertama ini (24 Agustus 2018),  kami mendapat ulat di pohon terong. Berhubung tempat yang kami siapkan hanyalah gelas plastik, saya kuatir daunnya tidak akan cukup masuk ke dalamnya. Maka, saya berinisiatif untuk memindahkan ulat tersebut ke daun jeruk yang terlihat segar dan sehat.

Sesudah berhasil saya pindahkan, kemudian kami memasukkannya ke dalam gelas plastik dan ditutup menggunakan plastik bening. Baik gelas dan plastiknya sudah diberi lubang agar sirkulasi udara lancar. Saya mengamati ulat yang baru saja kami masukkan seperti sangat aktif. Dia berjalan ke dinding gelas, lalu berjalan ke arah atas. Saya melihat gelagat dia seperti akan kabur terus-menerus.

Ternyata benar! Ulatnya kaborrrr, Pak Eko. Saya pun mencari informasi di internet. Barulah saya tahu bahwa ulat spesifik memakan daun di tempat induknya mencari makan. Jika ditemukan di pohon terong, maka dia pasti akan memakan daun terong. Bukan daun jeruk. Bukan pula daun pintu. Keras soalnya.

Gagal! Mari kita tutup percobaan pertama ini dengan bacaan hamdallah.

Kedua

Berbekal pengetahuan dari percobaan pertama, maka saya tahu bahwa tidak lagi diperkenankan memindah ulat ke daun yang berlainan. Oke!

Lagi-lagi kami masih mencari di sekitaran pohon terong (29 Agustus 2018). Alasannya, dari seluruh tanaman miliki tetangga (iya, kami melakukan percobaan bermodal tanaman tetangga) hanya pohon terong lah yang memiliki banyak lubang. Logika saya mengatakan bahwa daun yang berlubang kemungkinan besar dimakan ulat. Walaupun bisa juga karena semut ataupun serangga putih yang ukurannya sangat kecil dan bisa terbang yang sayangnya saya tidak tahu namanya apa.

Yes, ketemu! Kami menemukan lagi ulat yang sama persis dengan percobaan pertama. Warnanya kuning, berbulu, ukurannya tidak panjang. Langsung saja daunnya kami petik bersama tangkainya dan dimasukkan ke dalam gelas yang juga digunakan pada percobaan pertama. Ternyata daun terong yang lebar, muat juga masuk ke dalam gelas plastik yang kecil. Pengamatan mulai dilakukan.

Awalnya ulat terlihat tenang. Secara sok tau saya menyimpulkan bahwa tidak baik gelas ditaruh terus di dalam ruangan. Maka, ketika matahari terbit, saya dan Azka bergantian menaruh gelas plastik di jendela. Supaya menyerap sehatnya sinar matahari. Pada hari kedua, kami baru tahu bahwa daun terong akan sangat mudah layu. Akibatnya ulat terlihat agresif. Dengan bekal pengetahuan minimalis, hari ketiga kami mengambil lagi daun terong. Iya, masih tanaman terong milik tetangga.

Setiap hari kami mengganti daun terong yang layu dengan yang segar. Sampai tanggal 3 September 2018 kami mengamati ulat menjadi diam dan sama sekali tidak bergerak hingga keesokan harinya. Saya cek ulat masih menempel kuat pada daun. Saya dan Azka bergantian membolak-balik, ulat tersebut tidak bergerak. Saya jadi berpikir, "Jangan-jangan ini sudah menjadi kepompong." Namun secara penampakan, jauh berbeda dengan bentuk kepompong yang ada di buku-buku. Dia pun tidak terilihat menggantung seperti yang dituliskan di banyak sumber.

Pada tanggal 5 September 2018, ulat yang berdiam diri itu tidak ada lagi. Dia berubah menjadi hewan bersayap, berbentuk bulat, dengan motif banyak lingkaran pada punggungnya, dan dalam bahasa Inggris disebut lady bug.

Saya baru tahu bahwa kepik juga mengalami metamorfosis sempurna. Jadi hewan yang saya kira ulat berbulu, ternyata adalah nimfa kepik. Pada referensi yang saya baca, hewan berbulu seperti ulat dengan ukuran tidak terlalu panjang dan memiliki tiga pasang kaki adalah spesifik nimfa kepik. Ketika mengambil, saya tidak terpikir menghitung jumlah kakinya. Saya bahkan tidak tahu bahwa kepik bermetamorfosis. Oke sip! Fixed pas cilik dolanku kurang adoh (Zaman saya kecil mainnya kurang jauh).

Pengamatan ini dibilang berhasil, tidak. Dibilang gagal pun, tidak.

Tujuan kami mengamati metamorfosis sempurna berhasil, namun mengamati perubahan ulat menjadi kupu-kupu kembali gagal. Maka kami melanjutkan percobaan yang...

Ketiga

Kami kembali mengamati daun terong. Ternyata lubang-lubang pada tanaman itu merupakan ulah nimfa kepik. Setiap saya mendapati hewan seperti ulat, saya hitung kakinya. Semuanya berjumlah tiga pasang. Maka, kami beralih lah ke tanaman lain.

Saya tidak sengaja mendapati dua kepompong yang sudah ditinggalkan penghuninya di pohon jeruk. Warnanya sudah coklat dan terlihat akan segera rusak. "Nah...mungkin di sini ada ulat, Nak. Tuh ada bekas kepompong," kata saya kepada Azka laiknya detektif menemukan jejak-jejak pembunuh misterius. Kami pun mulai bergriliya mencari ulat di pohon jeruk. Oh iya, pohon ini juga milik tetangga.

Setelah panas-panas, ketusuk-tusuk duri, sandal kecemplung lumpur saya mendapati ada ulat berwarna hitam 12 September 2018). Kalau ini saya yakin adalah ulat. Bukan nimfa kepik. Bukan pula kucing. Ya masa kucing nempel di daun. Itu namanya kucing khilaf.

Saya ambil ulat itu beserta daun jeruk dan tangkainya. Berhubung lumayan besar, saya menggunakan toples bekas kue kering sebagai tempat pengamatan. Bagian sisi dan tutupnya dilubangi oleh Azka menggunakan obeng yang dibakar di atas kompor. Anak saya memang mainnya kelas berat. Ketauan ibunya suka nukang.

Toples ini juga kami taruh di jendela setiap kali matahari terbit. Daun jeruk tidak layu secepat daun terong. Hanya saja ulat membuang kotoran jauh lebih banyak dari nimfa kepik. Baru sehari, toples telah dipenuhi kotoran. Sehingga kegiatan kami pada hari-hari selanjutnya adalah memberi makan dan membersihkan kotoran. 

Tanggal 13 September 2018 ulat berubah warna dari hitam menjadi hijau. Menurut informasi yang saya dapat, ulat memang bisa berganti kulit. Bahkan katanya hingga menjadi kepompong, bisa berubah hingga enam kali.

Pada tanggal 16 September 2018, saya melihat ulat terlihat sangat agresif. Saya bingung. Bukannya kemarin tenang-tenag saja. Makan dengan lahap dan buang kotoran seenaknya. Mengapa sekarang menjadi terlihat lebih aktif dan agresif? Adakah dia rindu dengan keluarganya?

Kami pun kembali mencari daun jeruk. Paling-paling karena daunnya layu, sehingga ulat tidak mau makan. Ketika saya masukkan daun yang baru, perlahan ulat mencari jalan menju daun baru itu. Lantas, dia hanya berdiam diri. Ketika saya keluarkan, saya mengamati ada semacam benang yang keluar dari ekornya. Seperti sarang laba-laba, namun sedikit lebih tebal. Tidak lama, ulat berubah menjadi kepompong dalam posisi menggantung. Secara teori, ini benar-benar kepompong ulat yang nantinya menjadi kupu-kupu.

Berhari-hari kami tunggu. Hingga daun jeruk layu. Lantas berubah warna makin coklat. Meskipun begitu, kami tetap setia memindahkan toples ke jendela. Siapa tahu kepompong akan bertumbuh dengan baik jika ada sinar matahari. Namun keadaan tidak berubah. Suami saya bahkan berkata, "Ini nggak keguguran kan?" Mungkin dia mengira bahwa kepompong adalah jabang bayi yang bisa keguguran. Kalau benar begitu, saya yang repot. Di sini belum tersedia dokter kandungan ulat. Nanti bagaimana nasib induknya?

Tanggal 25 September 2018 di saat saya mau meminta Azka mandi pagi, saya mampir dulu ke toples yang belum saya taruh ke jendela. Saya merasa ada yang memanggil-manggil. WOW!!! Saya melihat makhluk bersayap hitam. Sayapnya masih lemah, sehingga dia terlihat kesulitan untuk mengudara. Saya pun memanggil-manggil Azka. Tak mau kalah. Dia mengamati kupu-kupu hasil peliharaannya dari berbagai sisi. Atas, bawah dan samping. Yang bagian samping pun dia lihat berkali-kali. Toples diputar-putar sambil diamati. Kalau tidak saya hentikan, dia tidak menghentikan memutar toples. Dia tidak sadar toples berbentuk lingkaran, diputar kemanapun wujudnya sama.

Setelah itu, kami berdua melepaskan kupu-kupu ke halaman belakang. Meskipun sayapnya masih lemah, kami yakin dia lebih hebat jika tumbuh di habitat aslinya. Di alam bebas.

Setelah satu bulan akhirnya percobaan berhasil. Alhamdulillah...



Alat dan bahan dalam percobaan dan dokumentasi saya tulis dalam bagian lainnya ya. Boleh sekali ditiru jika memungkinkan. Lumayan menambah aktivitas bersama keluarga. Jadi teringat mantera dasar Ibu Profesional, "Banyak-banyaklah main bareng, ngobrol bareng, beraktivitas bareng."

Boleh juga artikel ini disebarkan jika memang bermanfaat. Selamat mencoba :)



Salam,

Astri

Sunday, September 2, 2018

Kata orang ini namanya MENYAPIH DENGAN CINTA

Halo teman-teman,

Kali ini saya akan menulis pengalaman pribadi saya ketika menyapih azka. Artikel tentang menyapih ini pasti sudah beredar ribuan jumlahnya. Pun diluar itu semua, pasti ada teman atau kerabat kita yang menuliskan pengalamannya melalui status di sosial media.

Bagi teman-teman yang masih bingung bagaimana ingin menyapih, atau mau siap-siap menyapih, atau mau dapat gambaran bagaimana menyapih. Semoga tulisan saya dapat membantu.

Azka berhasil disapih usia 2 tahun 8 bulan. Saya dan suami sudah jauh-jauh hari memutuskan untuk menyapihnya dengan penuh kesadaran, tanpa paksaan, dan tanpa "penipuan". Ada dua kesulitan yang saya hadapi. Pertama, saya belum ada pengalaman dan ditambah lagi, ibu saya tidak punya pengalaman menyapih karena kami ketiga anaknya produk sufor sejak lahir. Kedua, faktor dari lingkungan eksternal yaitu saran-saran untuk menghentikan paksa dengan cara dioleskan segala macam di area puting, mertua saya pun menyarankan seperti itu berdasarkan pengalaman pribadi beliau.

Tapi, satu hal yang perlu diingat. Anak kita adalah hak kita. Maka, lakukanlah yang menurut Anda paling baik. Misalkan, yang paling baik memang harus dioleskan ramuan-ramuan di payudara, ya sudah lakukan lah. Namun, jangan lupa dengan konsekuensinya. Baik WWL (weaning with love / menyapih dengan penuh Kasih sayang) maupun dengan paksa pasti ada konsekuensinya.
Sebagai gambaran, saya kebetulan tergabung dalam salah satu komunitas kesadaran jiwa sehat. Salah satu anggotanya ada yang sangat ketakutan dengan warna merah, meskipun itu hanya sedikit corak merah di sprei. Ternyata, awal mulanya adalah ketika kecil, ibunya menyapih dengan cara mengoleskan obat merah di putingnya. Semenjak saat itu dia berhenti menyusu dengan penuh ketakutan.

Sebenernya, proses menyapih sudah kami biasakan sejak usia 23 Bulan. Saat itu, azka masih minta menyusu kalau dia tidak merasa aman dan akan beranjak tidur. Maka, kami waktu itu memberikan aturan untuk boleh menyusu, tapi hanya saat akan tidur. Hal ini kami lakukan dengan terus memberikan pengertian, contohnya "Azka sebentar lagi harus bener-bener brenti nenen. Jadi sekarang nenennya kalau mau bobo aja ya". Berikan pengertian terus-menerus. Ingat, anak kita jauh lebih cerdas daripada yang pernah kita bayangkan. Yakini itu! Hal ini berhasil sampai azka akhirnya harus opname karena terkena ISPA. Kondisinya yang harus sangat sangat sangat terjaga, membuat dokter menyarankan untuk tidak membatasi ASI. Disarankan untuk memberikan ASI daripada makanan lainnya yang bisa memperlambat proses penyembuhan. Gagal lah proses awal kami karena setelah keluar dari RS, azka kembali menyusu dengan frekuensi yang bisa dibilang banyak. Mungkin sekitar tujuh kali dan biasanya kalau malam dia bangun bisa sampai dua kali utnuk menyusu. Tidak selang lama setelah ISPA,  azka terkena diare. Maka, saat itu dokter bilang hanya ASI yang paling aman, daripada diberi susu UHT yang bisa memperparah diarenya. Lalu, menyapih itu rasanya jauh di atas awang-awang.

Berbekal melihat artikel dan tanya-tanya, saya memberanikan untuk mencoba kembali dengan tekad yang kuat. Ya, tekad yang kuat adalah modal utama. Usia azka sudah menginjak 2 tahun 8 Bulan.

Secara singkat, hal yang biasa dilakukan adalah:
1. Menambah stok makanan
Dari banyak artikel menyebutkan bahwa jika anak meminta ASI, maka berikanlah makanan agar teralihkan. Yang terjadi pada saya adalah gagal karena azka aslinya makan dan minum sudah banyak. Saat kami membeli stok makanan yang niatnya hanya dikeluarkan saat azka minta ASI, yang ada azka menemukan tempat persembunyiannya dan habis seketika. Sebanyak apapun kami membeli, pasti akan habis jauh lebih cepat dari yang kami perhitungkan.
2. Membiarkan menangis
Dari banyak artikel dan pengalaman teman-teman, ada yang berhasil setelah anaknya dibiarkan menangis. Artinya, menangis sejadi-jadinya tidak membuat ibu memberikan ASI nya. Istilahnya orang tua menjadi "Raja Tega". Saya pun melakukannya. Dan tau bagaimana? Azka teriak-teriak, menangis, meronta, dan sebagainya sampai tiga jam dan hasilnya saya akhirnya tetap meberikan ASI karena kuatir dia kehabisan tenaga. Selain itu, yang jelas saya jadi kebayang masa kecil saya ketika saya pernah merasa bahwa orang tua saya tidak memberikan pengertian yang cukup kepada saya akan suatu hal yang membuat saya sangat marah waktu itu dan bingung dikemudian hari bahkan hingga dewasa. Berbekal perasaan masa lalu ini, saya memutuskan cara ini tidak cocok. Karena sudah terlanjur membuat azka marah selama tiga jam, keesokan harinya saya meminta maaf kepada azka dan mengatakan "Mami sama papi semalam itu maksudnya mau buat azka brenti nenen, supaya azka lebih mandiri. Bukan karena mami papi jahat, tapi karena mami papi sayang azka. Maaf ya udah buat azka teriak-teriak. Kira-kira kalau azka nanti bobo digendong mau nggak ya?". Perkataan tersebut saya ulangi dengan penakanan di "minta maaf" dan "menyatakan bahwa kami orang tuanya bukan orang jahat". Ajaibnya, dia mengerti dan berkata, "mami papi nggak jahat kan, mami papi cuma mau azka jadi mandiri kan, azka mau mandiri ah"
Hati saya menjadi lega walaupun terus berdoa supaya kejadian malam itu tidak membuat jiwanya terluka di kemudian hari.
3. Bersembunyi
Banyak di artikel yang mengatakan untuk "tidak terlihat" di jam-jam kritis saat anak meminta ASI. Tapi hal ini tidak kami lakukan karena tidak memungkinkan. Alasan utamanya adalah, suami saya bekerja sekitar 12-14jam per hari. Saat itu, saya hanya berdua dengan Azka. Malamnya, tentulah azka minta main bertiga, jadi bersembunyi bagi kami mustahil dilakukan.
4. Digendong-gendong
Ini adalah langkah yang paling berhasil untuk azka. Saya menggendongnya dengan baby carrier posisi di belakang. Alasannya kalau di depan atau di samping dia masih bisa "mencium" aroma ASI.  Saya selalu menekankan, "kalau azka mau bobo, nggak usah nenen. Nanti mami gendong aja". Nah sepertinya otak azka sudah ter-setting bahwa "mami nggak akan Kasih nenen, mami cuma mau gendong". Triknya, gendong anak saat benar-benar sudah lelah dan ngantuk lalu sambil digendong bisa diajak mengaji surat-surat pendek (saya mah amatiran soal ini jadi yang saya pilih surat yang saya hafal dan berkali-kali diulang) atau dinyanyikan lagu (azka selalu berhasil tidur dengan lagu Baa Baa Black Sheep). Cara ini awalnya berhasil saat akan tidur siang dan malam, bahkan membuat azka tidak terbangun tengah malam. Namun belum berhasil ketika dia terbangun di jam-jam setelah subuh. Biasanya, saat ini adalah saat azka menyusu berkali-kali sampai akhirnya dia terbangun sekitar pukul 9 pagi (siang banget kan ya).
Saya mulai menyapih azka untuk tidur siang dan malam hari jum'at-senin, lalu dengan tekad yang bulat hari selasa saya memutuskan untuk menyapih total dengan cara tetap digendong. Ya, setelah subuh, dengan suasana yang masih gelap gulita, saya gendong azka ke halaman belakang yang bersebelahan dengan hutan (saya tinggal di remote area, nanti saya akan ceritakan di artikel tersendiri, in sya Allah) sampai dia tertidur kembali. Yak dan Alhamdulillah berhasil.
5. Jalan-jalan
Ide ini muncul lantaran azka sering meminta ASI jika sedang galau. Maka, saya memutuskan setiap azka terlihat galau, akan saya ajak jalan-jalan. Saya adalah perantau yang tidak ada ART maupun saudara sama sekali. Jadi tidak ada jalan lain ya harus berjuang sendiri ketika suami saya belum pulang.
Jalan-jalan yang dimaksud ya benar-benar jalan kaki. Karena kendaraan dibawa suami kerja dan tempat tinggal saya bukan lah kota yang dengan mudah memanggil go-car, go-jek, dan sebangsanya (bukan tidak mudah,tetapi memang tidak ada). Pun disini tidak ada mall yang bisa mengalihkan perhatian anak.
Lalu kemana kah saya ajak jalan-jalan? Ya ke warung beli gula, sambil belajar cara belanja dan mengenalkan sebisa mungkin apa yang dijual di warung. Ke warung pizza dekat rumah yang Alhamdulillah jual es krim yang bisa mengusir galau anak balita. Jalan-jalan muter komplek. Ke halaman depan mengamati awan. Atau bermain rumput di halaman tetangga. Intinya, saya ajak jalan-jalan supaya mengusir galau, pulang sudah lelah, lalu gendong sebentar tidur deh. Begitu rumusannya.
Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, kami mulai menyapih hari jumat dan menyapih total hari selasa. Drama gendong dan jalan-jalan ini hanya saya lewatkan sekitar 3 hari. Sisanya, ketika azka ngantuk dan kemudian saya ambil baby carrier, dia langsung berkata, "Nggak usah gendong mami, azka bisa bobok kok".
Namun, seperti yang banyak orang ceritakan, kami pun mengalami sekali begadang. Yatu ketika azka minta main tanpa lelah sedari suami saya pulang kerja sampai jam 03.30 WITA. Alhasil, kami bangun kesiangan dan suami saya ijin kantor :(
Hanya itu yang kami alami tentang begadang, Alhamdulillah setelahnya lancar.

Untuk mempermudah penyapihan, saya mencoba memberikan tips dan trik yang saya alami berikut ini:
1. Terus dan terus beri pengertian dengan bahasa yang jelas dan sederhana, mengapa menyapih itu penting dilakukan. Ingat!  Anak kita jauh lebih cerdas dari apa yang kita bayangkan
2. Amati diwaktu apa anak kita minta ASI. Para orang tua pasti menyadarinya, masing-masing anak pasti berbeda. Kalau azka minta ASI saat: galau atau ketakutan, tidak ada kerjaan, akan tidur, dan terbangun di malam hari ataupun setelah subuh. Saya ambil solusi, untuk akan tidur baik siang maupun malam dan terbangun setelah waktu subuh, saya langsung gendong-gendong sampai dia tertidur. Sementara, saat dia galau, ketakutan, ataupun tidak ada kerjaan saya bawa dia jalan-jalan. Dengan cara ini, mempersingkat trial and error dan karena membawa kemajuan dari hari per hari, rasa percaya diri kita akan membantu keberhasilan.
3. Pahami betul ke dalam diri kita, dengan penuh kesadaran, bahwa menyapih dengan Cinta adalah untuk kebaikan bersama dalam jangka yang panjang. Mengingat ada yang memiliki trauma karena penyapihan, bahkan sampai dewasa. Akan lebih bijaksana jika kita bertekad keras untuk melakukan WWL ini. Dalam hati saya,  "Sama-sama repotnya, mending pilih cara yang paling aman".
4. Berdoa meminta kelancaran dan yakin Allah pasti membantu. Menyapih bukan suatu kejahatan dan bahkan bisa berdampak kebaikan, maka berdoalah untuk kekuatan dan kelancaran.
5. Beri reward dalam bentuk apa saja untuk memotivasi. Hadiah disini bisa dalam bentuk apa saja seperti stiker dengan bentuk lucu, jika mereka bersedia "ditolak" ketika meminta ASI. Hadiah juga bisa bervariasi per harinya agar mereka gembira. Kalau saya, berhubung azka suka apa pun yang berhubungan dengan kartun Cars maka kami membuat kesepakatan, "kalau seminggu aja azka nggak nenen, nanti mami papi belikan cars yang ada jalannya" dan seminggu setelah dia benar-benar total tanpa menyusu, kami menepati janji untuk memberinya hadiah.
Tetapi ingat ya, hadiah tidak harus seperti saya. Tergantung situasi dan kondisi. Azka bukan anak yang penuh dengan mainan, bahkan mainan sebagian besar karena pemberian dari teman kami atau kakek-nenek nya. Sehingga, untuk pencapaian pengertian yang sangat besar dari azka ini, kami memutuskan memberikan hadiah yang memang mengeluarkan uang
6. Ikhlas untuk melepaskan anak menyusu. You've been doing so good selama dua tahun ini, beri anak kita keleluasan untuk menikmati proses transformasi pada awal kehidupannya.
Lalu, apa efek yang didapat dengan WWL ini?
1. Anak jauh lebih mandiri dan pengertian
Azka jauh lebih bisa diberi pengertian untuk mandiri dan sebagainya. Komunikasi kami semakin baik dari hari ke hari karena azka sudah mendapatkan signal "kalau mami papi kasih tau, artinya baik buat aku", semacam itu lah. bahkan dalam hitungan hari setelah disapih, azka sering masuk ke kamar sendiri dan ketika saya tengok, dia sudah terlelap di atas bantal. Tanpa drama dan rewel seperti ketika meminta ASI, sedangkan saya masih mengerjakan pekerjaan rumah.
2. Alhamdulillh saya tidak mengalami pembengkakan PD. Berdasarkan cerita yang saya dapat, ketika menyapih maka PD akan membengkak dan akan terasa sakit bahkan demam. Tentulah sebagai manager rumah tangga tanpa anak buah, akan sangat repot jika mendadak demam dan bedrest. Proses pemberhentian menyusui yang bertahap secara otomatis akan mengurangi produksi ASI secara bertahap pula. Dan ketika azka benar-benar berhenti menyusu, maka ASI pun sudah tidak diproduksi seperti sebelumnya (kan dasarnya memang sudah sedikit yang diproduksi). Masuk akal kan? Tentunya tidak lupa berdoa, maka bye bye PD bengkak.

Teman-teman sekalian, apapun pilihan kita dalam proses penyapihan ini pastilah mendapat konsekuensinya. Tidak melakukan WWL pun bukan berarti kita tidak cinta anak kita. Kita lah yang paling mengetahui dan memegang kendali anak kita. Maka, apapun yang kita lakukan jangan lupa lakukan dengan bahagia dan ditujukan untuk mebahagiakan keluarga. Sisanya?? Allah punya "tangan-Nya" yang selalu saip membantu kita, in sya Allah.


Salam hangat,

Astri
(Bukan pakar parenting)

"Iya" Sebuah Kilas Balik Masa Lalu

"Sebentar", "Nanti", "Apa lagi sih?", "Iya iya" kurang lebih itu lah kata-kata yang sering saya ucapkan ketika ibu menyuruh saya untuk sesuatu yang sederhana. Mengangkat jemuran handuk, menutup makanan yang ada di meja makan, mencuci piring, dan hal sederhana lainnya.

Jika saat balita saya sudah mengatakannya, saya tidak ingat apa alasannya. Tetapi ketika dewasa, biasanya saya mengatakan hal itu karena lagi asik dengan suatu hal. Atau ya karena malas saja karena mungkin baru pulang sekolah atau ya malas tanpa alasan yang jelas. Waktu itu saya jarang menengok ekspresi ibu ketika perintahnya ditolak, pernah sesekali dan saya menganggapnya biasa saja. Pernah juga penolakan saya ini berujung perdebatan. Bukan perdebatan yang alot sih, intinya jadi mengundang perbedaan pendapat. Kalau sudah gini jadi dongkol rasanya, setelah itu pasti saya lanjut ke kamar entah melakukan apa. Baca buku, buka-buka HP tanpa tujuan (saat itu HP saya hanya bisa untuk SMS dan telepon), atau cuma memandang eternit. Saya juga tidak tahu sebenarnya kejadian semacam itu disebabkan karena saya sedang dalam fase mencari identitas diri seperti penuturan psikolog yang saya dengar atau malah ibu saya yang sedang dalam fase mendapat cobaan.

Lalu contoh lainnya,

Masa kecil saya dilalui dengan kesederhanaan, sangat sederhana malah karena tidak jarang berada dalam kekurangan. Kami jarang sekali makan di luar. Setiap ayah atau ibu pulang dari suatu acara, pasti mebawakan snack yang memang sengaja tidak mereka makan. Lalu, sampai rumah ibu saya selalu bilang, "Semuanya dibagi tiga sama rata!"

Padahal yang dibagi tiga ini bukanlah pizza ukuran reguler atau ayam ingkung. Melainkan semacam tahu isi satu buah atau bahkan agar-agar dengan ukuran tidak lebih dari 6x6 cm. Hal pembagian ransum makanan, kalau ibu sering menyebutnya, kami lakukan bertahun-tahun lamanya. Seingat saya, sampai saya dan kakak saya mendapat pekerjaan.

Khusus untuk makanan, karena memang kami lakukan setiap hari selama bertahun-tahun tidaklah menjadi masalah. Setidaknya untuk saya pribadi. Namun, ibu juga hampir setiap hari berkata kurang lebih seperti ini:
"Kalau nyuci piring sabunnya diirit!"
"Nyuci baju pake detergent-nya jangan boros!"
"Keran itu kalau nutup yang kenceng!"
"Lampunya kok lupa terus dimatiin!"
"TV nggak ditonton dimatiin!"
"Kalo ngupas sayur itu ati-ati, biar dagingnya nggak ikut kekupas. Maneman!"
"Minyak kalo masak nggak usah banyak-banyak! Kalau belum terlalu kotor nggak usah diganti!"
"Pake tisu itu ngga di-uwel-uwel kayak gitu, boros!"
"Nggak usah banyak pergi, boros bensin!"
"Nyucinya dijadwal. Boros listrik!"
"Air pake sedikit aja, Watt-nya pompa gede!"
"Makan itu ambil secukupnya, nggak boleh ada sisa"
 Dan masih banyak lagi.

Tahu yang saya lakukan?

Saya tetap sih menjalankan perintahnya, karena saya juga berfikir belum bisa membantu dalam hal apapun termasuk ikut menyokong logistik rumah tangga. Tetapi di dalam hati, saya terus mengomel:
"Kalo sabunnya dikit mana bisa bersih"
"Kalo minyaknya dikit ya gosong"
"Ini ngupas sayur juga biar cepet"
"Ya ampun, mandi pake air seuprit mana seger"
Dan masih banyak lagi.

Saya tahu bahwa ibu saya melakukan peringatan yang berulang dan sangat masif tersebut dikarenakan memang kami tidak bisa membeli berbagai hal dalam jumlah yang berlebih. Terkadang jumlah yang cukup pun juga masih belum bisa. Yang saya tidak ketahui sampai sekarang, apakah ibu pernah melihat ekspresi saya ketika saya ngomel dalam hati. Terbesit pemikiran bahwa iya, ibu pernah melihat ekspresi saya.

Just like people said. Days are long but years are short.

Saat ini, saya bukan lagi hanya menjadi seorang anak. Saya sekarang juga sudah menjadi seorang istri dan ibu. Mengurusi hajat hidup suami dan anak adalah urusan saya setiap hari apalagi setelah memilih tidak memiliki karir di luar dan mengikuti suami hijrah ke kota yang sangat kecil. Tanpa asisten dan keluarga maupun kerabat. Secara otomatis, mulai menyiapkan sarapan, membersihkan rumah setiap hari, membayar tagihan, dan semua yang berhubungan dengan perputaran roda kehidupan rumah saya menangani langsung.
Berurusan dengan kegiatan rumah, artinya harus memiliki komitmen yang cukup besar untuk mengerjakan sesuatu yang seolah tidak ada ujungnya. Anak saya masih balita, sehingga untuk mendapatkan rumah yang rapi dan teratur membutuhkan effort yang cukup besar.

Alhamdulillah di rumah saya sekarang, kebutuhan rumah tangga sudah sesuai standar saya. Contohnya, saya orang yang cukup teratur (dan terbilang lebay) dalam penempatan. Saya menerapkan sistem, "Semua barang harus ada tempatnya". Bawang merah akan terpisah dengan bawang putih, bumbu sachet yang sudah terbuka akan terpisah dengan yang masih tertutup, sapu luar akan berbeda dengan sapu dalam, lemari pakaian saya terpisah dengan milik suami (meminimalisir banyak baju berantakan kalau diambil secara sembarangan, hehe), keranjang cucian anak terpisah dengan orang tua, semua buku harus ada rak-nya, kulkas kami penuh dengan toples karena saya sangat meminimalisir barang hanya ditaruh sembarangan, semacam itu lah. Disaat berkutat dengan urusan rumah ini, saya sering kilas balik terhadap masa kecil saya.

Waktu itu, saya mencari wortel impor  di pasar (wortel lokal disini kualitasnya kurang baik), saya membeli hanya dua buah dengan harga mencapai Rp 16.000 karena memang ketersediaan di kota kami katanya sedang kurang. Sesampainya di rumah, saya mengupas wortel dengan terburu-buru dan akhirnya banyak daging buah yang ikut terkupas dengan kulitnya. Saya berhenti sejenak dan teringat perkataan ibu, "Kalo ngupas sayur itu ati-ati, biar dagingnya nggak ikut kekupas. Maneman!".

Di rumah, saya menerapkan hanya berbelanja sekali dalam sebulan, diluar sayur dan buah. Artinya, saya yang harus memperhitungkan jumlah yang cukup untuk satu bulan karena mendisiplinkan diri sendiri agar tidak membeli sampai jatah berbelanja bulan berikutnya. Bagi saya yang memasak minimal tiga menu dalam sehari, pastilah cucian peralatan masak dan piring itu benar-benar menggunung. Waktu itu, jatah untuk belanja selanjutnya masih seminggu lagi. Sabun cuci piring sepertinya sudah diujung tanduk. Ketika itu saya teringat, "Kalau nyuci piring sabunnya diirit!".

Kota kami punya cuaca yang sangat panas, maka tidak heran semua rumah disini punya AC minimal satu buah. Azka, anak kami yang masih balita hobi sekali menyalakan AC, alasan yang sering dia ucapkan, "Panas, Mami". Hanya terkadang dia meninggalkan kamar dengan AC yang masih menyala. Saya pun bisa puluhan kali dalam sehari berkata, "Kalo keluar kamar, AC-nya dimatikan, boros. Listrik mahal".

Lalu siang tadi, disaat jam makan siang, seperti biasa saya bilang ke Azka yang sedang asik bermain, "Ayok udah jam makan siang, sekarang ke meja makan!". Azka menjawab, "Iya". Tanpa ada  embel-embel apapun. Hati saya rasanya gembira sekali. Namun, saya menjadi teringat entah berapa kali saya menolak perintah ibu saya hanya karena asik dengan suatu hal. Entah mengapa saya tidak mempertimbangkan bahwa perkataan "Iya" waktu itu bisa membuatnya terlewat gembira. Dan jika ibu melihat ekspresi saya ketika ngomel dalam hati pasti sedih rasanya.

Iya, iya, iya, akhirnya saya tahu setelah menjadi ibu. Setelah menjadi ibu, saya menyadari bahwa saya hidup dalam kesalahan bertahun-tahun lamanya.

Perkataan orang tua itu banyak benarnya, terutama "Orang tua itu pernah jadi kamu, tapi kamu belum pernah jadi orang tua!". Kita tidak akan benar-benar merasakannya sampai kita berada di posisinya.

Alhamdulillah keadaan saya sekarang ini jauh lebih mudah dibanding saat kecil. Saya yakin, kakak dan adik saya pun merasakannya. Jika kami kumpul bertiga, pasti sering membahas satu-tahu isi-dibagi-tiga-sama-rata. Dan tertawa, karena saat itu menikmati tahu isi utuh rasanya nikmat sekali, tetapi kenyataanya sekarang melihat tahu isi utuh, besar, dan bisa langsung dibeli pun belum tentu ingin.

Azka suka sekali dengan Kinder Joy, suatu hari saya dan adik melakukan video call sembari Azka menikmati telur isi coklat itu. Kemudian saya menunjukkannya kepada adik saya dan berkata, "Hal yang mustahil waktu kita kecil". Kami pun tertawa dan barangkali kami mengingat masa yang sama. Masa dimana kami sedang antre di kasir sebuah supermarket lalu memandang Kinder Joy dengan mata penuh arti, "Ini dalemnya katanya coklat pasti enak banget harganya mahal". Padahal setelah bisa membelinya, saya cuma satu atau dua kali mencicipinya ketika Azka berinisiatif berbagi coklat kesukaannya.

Waktu kecil, saya takut sekali menyisakan makanan di  piring, karena akan kena marah ayah saya, meskipun yang tersisa hanya satu suap nasi. Guna menghindarinya, saya pun hanya mengambil nasi yang sangat sedikit. Karena sudah terbiasa, biasanya sih kenyang, tetapi kalau sialnya masih lapar, maka saya akan mengganjalnya dengan banyak minum air putih. Hanya orang lain yang tahu sejauh apa rasa empati dalam diri saya. Namun yang jelas dengan pemaksaan menghabiskan makanan yang terus diulang, efek yang saya rasakan adalah menjadi lebih mudah mengamati suatu hal. Tidak tahu secara pasti dimana korelasinya, tetapi itu lah yang saya rasakan. Sesederhana mengamati bagaimana kerasnya ayah saya bekerja dan sehebat apa ibu menyiapkan lauk di atas piring.

Terlepas dari seberapa keras saya dididik, sesederhana apa hidup saya di masa lalu, sejauh apa kesulitan yang pernah kami alami. Hidup saya yang jauh lebih enak saat ini pasti tidak terlepas dari doa orang tua.  Doa-doa baik yang terlontar saat mereka berimajinasi dan membayangkan ketiga anaknya akan hidup lebih mudah.




Salam hangat,

Astri
(Penulis yang entah mengapa sering mendapat feedback emoticon menangis dari pembacanya padahal yang nulis biasa aja)









Azka Akhirnya Mau Gunting Tempel

Halo Teman-teman,

Sebelum tulisan ini dibuat dengan panjang dan lebar, saya ingin menginfokan bahwa tulisan di blog ini akan lebih banyak sebagai wadah dokumentasi perjalanan kami sekeluarga. Apabila ada manfaatnya, dengan senang hati silahkan diambil. Apabila sekiranya tidak bermanfaat, silahkan untuk dilewati :)

Kemarin, anak kami Azka akhirnya mau mengerjakan aktivitas gunting-tempel. Hingga saat ini sebenarnya Azka masih belum ada keinginan untuk mengerjakan aneka worksheet. Biasanya, jika disodorkan kertas dan spidol, dia lalu pergi dan justru mengambil mainannya yang lain. Dia saat ini lebih tertarik bermain menggunakan imajinasi, dibanding dengan aktivitas dengan pola yang terstrukstur.

Bukan tidak pernah mengerjakan sama sekali. Hingga saat ini, Azka sudah mau mengerjakan kegiatan yang berhubungan dengan mencari bayangan, mencari pasangan, tracing, dan seperti judul tulisan ini yaitu gunting-tempel. Untuk mencari bayangan dan pasangan, Azka sudah cukup mahir karena hampir tidak pernah salah dalam sekali menjawab. Sementara untuk tracing, dia belum terlalu suka jadi hanya mengikuti garis semaunya saja tanpa memperhatikan pola titik-titik yang ada. Ini sudah kemajuan, biasanya diberi spidol saja tidak mau.

Nah untuk gunting-tempel ini, baru kemarin dia merasa bersemangat. Jauh sebelum ini, Azka pernah saya sodori gambar muka kosong dan saya beri mata, hidung, mulut, telinga, dan rambut dalam bentuk yang terpisah. Maksudnya, supaya dia menempel bagian tubuh tersebut sesuai tempatnya di muka yang masih kosong tadi. Hasilnya?? Azka memberi lem di kertas bergambar mata, tapi bukan ditempel di muka kosong, melainkan di tempel di matanya sendiri, hahaha. Selanjutnya, dia selalu menolak dengan aktivitas ini.

Semalam, aktivitas gunting-tempel ini menggunakan gambar penyihir yang masih berwarna hitam-putih. Gambar tersebut sudah berpola hanya tidak berwarna. Maka, harus ditempel dengan aksesoris baju, topi, muka, sarung tangan, sepatu, dan sapu terbang yang sudah disediakan. Saya sebenarnya yang mengguntingnya, karena pertama pola nya yang sudah kompleks dan kedua gunting khusus untuk Azka tidak tahu kemana rimbanya. Azka tinggal memberi lem dan menaruh di tempat yang sesuai.

Hasilnya?? Untuk topi, muka, baju, lengan, dan sapu terbang sudah ditempatkan dengan benar. Hanya saja untuk sepatu masih belum benar. Bagian yang seharusnya menjadi alas sepatu justru berada di bagian samping.

Memakai lem cair yang akhirnya saya ganti dengan lem stik karena sulit mengeluarkan lemnya

Mulai mikir mau ditaruh dimana sapu terbangnya

Ini hasilnya, tanpa bantuan lho :)

Setelah selesai dengan gambar penyihir, dia terlihat senang. Sehingga saya menyiapkan worksheet gunting-tempel lainnya. Ternyata sembari saya menggunting worksheet yang baru, Azka melepas hasil gunting-tempel gambar penyihir tadi dan memberinya lem serta menempelkannya ulang. Penilaian saya, Azka sudah mulai tertarik dan bisa menerima perintah dengan gembira.

Gunting-tempel yang kedua adalah menempatkan sebuah gambar sesaui dengan bentuknya yaitu lingkaran, segitiga, dan balok. Jadi ceritanya tokoh bernama Mombi sedang berulangtahun, dia mendapat banyak kado. Namun, ada kado yang hanya berupa bayangan berbentuk berbagai macam geometri. Di bagian yang lain, sudah disediakan gambar kado dengan bentuk yang sesuai dan dapat ditempel di bagian bayangan. Hasilnya?? Sudah sesuai dengan bentuk.

Hasil menempel "kado Mombi"

Alhamdulillah, sudah ada kemajuan. Sementara konsistensinya belum dapat saya ketahui. Let's wait and see.

Berdasarkan yang saya amati, ada beberapa concern yang menyebabkan Azka mau mengerjakan worksheet, yaitu:
1. Timing yang tepat
Maksudnya adalah, saat ini usianya baru mau menjelang 2 tahun 10 bulan. Bagi banyak anak, mungkin usia tersebut sudah membuat mereka senang dan konsisten dalam mengerjakan aneka aktivitas terstruktur. Namun, hal ini tidak terjadi di Azka. Kegiatan yang dia suka lakukan berulang-ulang tanpa mengenal waktu adalah bermain imajinasi dan bercerita. Dia suka sekali mengajak orang tuanya bercerita dengan cara, "Ayok Papi/Mami, cerita-cerita di kamar pakai AC". Hal yang diceritakan ya semaunya dan seringnya kembali ke imajinasi yang sebenarnya hanya Azka dan Allah yang tau apa maksudnya. Sehingga, untuk lembar kerja ini, dia mau mengerjakan karena bolak-balik saya tawarkan (bolak-balik ditolaknya) dan saya sengaja meletakkannya di tempat yang bisa dilihat dan dijangkau Azka. Ketika rasa penasarannya muncul dan hatinya sedang gembira, maka dia mau melakukannya. Biasanya, dia mau malah setelah jam menunjukkan pukul 21.00. Bahkan terkadang, tidak mau dihentikan padahal sudah jam 22.00 lewat dan akhirnya saya bereskan paksa.
2. Butuh tantangan
Azka tipe anak yang tidak suka mengulang sesuatu yang sudah berhasil dicapainya. Mungkin dua kali saja dia mau mengulang, setelah itu dia tinggalkan. Bahkan untuk sesuatu yang bisa dikerjakannya dalam sekali mencoba, dia tidak akan mencobanya lagi. Like Mother like son sebenarnya, hehehe. Untuk mengatasinya, maka harus siap berbagai macam worksheet, baik dengan kesulitan yang sama mamupun yang berbeda. Yang terpenting, bukan worksheet dengan gambar yanga sama.

Sementara, untuk tugas yang masih harus saya kerjakan yang utama adalah memberi kalimat perintah dengan benar. Sebenarnya, untuk kegiatan seperti membersihkan rumah, memasak, dan perintah yang berhubungan dengan kegiatan rutin sehari-hari, Azka sudah mengerti dengan benar dan bisa melaksanakannya dengan benar juga. Hanya untuk masalah aktivitas terstruktur ini, terkadang sebelum saya menjelaskan perintahnya, dia sudah bosan dan memilih pergi. Maka, tugas saya yang menyingkat dan menyederhanakan perintah agar dia mengerti. Selain itu, saya rasa juga perlu memberikan perintah yang tidak menggurui. Karena ada orang bilang, "Anak itu suka belajar tapi tidak suka digurui".

Oh iya, sedikit cerita mengenai sumber saya mendapatkan worksheet. Saat ini, banyak sekali bertebaran akun di instagram yang menjual aneka aktivitas anak baik dalam satu paket ataupun berlangganan sesuai usianya. Biasanya berbentuk soft copy printable yang dikirimkan, untuk selanjutnya kita print sendiri. Berhubung printer saya eror dan Azka selalu "nimbrung" kalau saya menyalakan printer, kerjaan saya malah tidak pernah selesai. Selain itu, semenjak serumah dengan suami di Kalimantan, Azka punya jam tidur yang lebih malam, sehingga saat dia sudah tidur maka saya juga memilih untuk tidur. Saat Azka tidur siang, saya memilih mengerjakan pekerjaan rumah.

Maka saya memilih untuk berlangganan majalah anak yaitu Mombi dan Bobo junior. Saya sedari kecil suka sekali membaca Bobo, namun tidak pernah berlangganan karena tidak ada yang provide biayanya, hahaha.

Azka sudah terpapar buku sejak usia hitungan hari. Waktu itu bukunya tidak jauh dari soft book atau buku-buku kecil penuh gambar. Namun pada usianya sekitar 14 bulan, saya iseng membelikannya Bobo junior. Tidak disangka, dia sangat menyukainya dan bisa memahami perintah seperti "Mana wortel?" "Mana tangan?" "Mana gambar tas?" pada usia 18 bulan dengan menunjuk gambar sesuai perintah dengan benar. Saat itu, entah mengapa Bobo junior jarang saya temui di Jogja, bahkan sering kosong di Gramedia. Kebanyakan menjual Bobo. waktu saya belikan Bobo, ceritanya terlalu kompleks dan kurang sesuai untuk anak seusianya. Maka, saya putuskan untuk berlangganan majalah. Waktu itu yang saya pilih justru berlangganan Mombi karena majalah ini bertajuk majalah aktivitas anak.

Setelah satu tahun berlalu, masa langganan Mombi pun habis. Jeda beberapa bulan, kami memutuskan kembali berlangganan majalah, namun kali ini Bobo junior. 

Sedikit perbandingan antara Bobo junior, Bobo, dan Mombi:

Untuk Bobo junior dan Mombi diperuntukkan bagi anak usia tiga tahun ke atas. Walaupun tidak menutup kemungkinan anak dengan usia sebelumnya sudah menyukai isi dari majalah ini. Dan siapa tau anak kita, sudah senang mengerjakan aneka worksheet yang disediakan. Bedanya, Mombi lebih menekankan pada aktivitas anak, sehingga aktivitas yang disediakan pun lebih padat. Seperti jumlah tracing yang lebih banyak, dot to dot huruf hampir di setiap lembar, ada pula langkah kreasi plastisin, bahkan disertai resep memasak sederhana untuk kegiatan ibu dan anak, namun masih disisipkan cerita bergambar dengan tokoh Mombi, Loli, Ayah, Ibu, Luna, Bu Guru Luna, Beru, Belle, Apin, Beno, dan Apin. Sementara, Bobo junior sisipan ceritanya lebih banyak (lebih banyak satu hingga dua cerita saja), namun masih disisipi aktivitas yang sama dengan mombi dengan jumlah yang lebih sedikit. Tidak ada kreasi plastisin dan resep memasak. Tokohnya, tidak beda dari Bobo jaman kita dulu yaitu Bobo, Coreng, Bapak, Emak, Tompel, dan kawan-kawan.
Kesamaannya, selain sama-sama disisipi worksheet juga ada bonusnya yang biasanya melibatkan aktivitas gunting-lipat-tempel. Setiap edisi pasti dapat bonus yang melibatkan aktivitas kurang lebih sama.
Sementara, untuk Bobo diperuntukkan untuk anak usia tujuh tahun ke atas. Cerita yang disisipkan lebih kompleks seperti Putri Nirmala, yang terlalu panjang jika diceritakan ke anak usia balita. Tidak ada worksheet, misal pun ada juga dalam bentuk yang kompleks. Dan di Bobo ini dari dulu hingga sekarang, selalu disisipkan aneka pengetahuan umum yang dimengerti anak usia SD. Sekiranya, belum cocok untuk anak balita, namun sangat bagus untuk anak rentang usia SD.

Hampir terlupa, majalah Mombi juga tersedia untuk anak usia SD yang bertajuk Mombi SD. Namun, saya belum pernah membacanya, jadi belum bisa memberikan tanggapan.

Untuk langganan, Gramedia pustaka sebagai penerbitnya, selalu menyediakan paket langganan enam bulan maupun setahun. Seperti umumnya, untuk setahun akan lebih murah daripada enam bulan. Bonus langganannya pun berbeda, terkadang jika harga sedang promo, untuk langganan enam bulan tidak mendapat bonus.

Jika mau berlangganan, bisa masuk ke commerce.gramediamajalah.com. Disana nanti banyak majalah bagus yang menggoda untuk berlangganan. Kalau saya sih Intisari dan suami saya Auto bild. Bagi yang tinggal di pulau Jawa  tidak ada tambahan ongkos kirim, selain itu ada tambahan Rp 6.000 per eksemplar yang lumayan juga sih selisihnya jika langganan setahun. Apalagi untuk Bobo junior dan Mombi yang terbit tiap dua minggu.

Setiap hal pastilah mempunyai kelebihan dan kekurangan. Bagi saya, kelebihan dari berlangganan majalah fisik adalah tidak perlu usaha ketika akan menyiapkan worksheet, tidak ada usaha disini dalam artian tidak perlu mencetak lembar kerja yang ingin dikerjakan. Seperti yang saya tulis di atas bahwa printer saya eror dan yang utama adalah Azka selalu ikut "nimbrung" saat saya menggunakan printer. Disisi lain, saya bukan tipe ibu begadang sampai larut malam untuk menyiapkan worksheet. Anak tidur, ibu pun tidur, hahaha. Dengan majalah fisik ini, saya hanya menunggunya datang dan menyiapkan alat tulis. Biasanya juga worksheet belum selesai dikerjakan, sudah datang edisi yang baru. Kekurangannya adalah berhubung ini majalah fisik, maka perlu ruang tersendiri untuk menempatkannya. Apalagi waktu awal berlangganan Mombi, Azka belum bisa dan belum mau mengerjakan worksheet yang ada di dalamnya. Sehingga, saya pun menyimpannya untuk digunakan pada waktu yang tepat. Berbeda dengan worksheet berbentuk soft copy yang bisa disimpan di hard disk.

Lalu, bagaimana dari segi harga? Saya belum pernah berlangganan di akun instagram manapun yang menawarkan paket aktivitas anak. Pun belum pernah bertanya-tanya mengenai harganya. Kalau majalah fisik, tentulah membayar semua di depan plus ongkos kirim jika di luar Pulau Jawa. Dan sepertinya sedikit lebih mahal dibanding toko online karena dicetak full color. Untuk harga bisa dilihat di gambar sebagai contoh, atau masuk ke website-nya langsung karena harga dapat berubah sewaktu-waktu.

Harga langganan Bobo junior

Bagaimana jika tidak ingin mengeluarkan kocek sama sekali? Bisa saja dengan mecari worksheet printable gratis yang banyak berseliweran di pinterest maupun Googling secara acak. Gunakan saja kata kunci free printable worksheet . . . (titik-titik bisa diisi dengan tema tertentu misal kendaraan, alfabet, huruf hijaiyah, dan sebagainya).

Tidak ada yang benar atau salah dalam pemilihan sumber aktivitas anak. Pun tidak ada yang lebih bagus atau jelek. Yang ada hanyalah cocok dan tidak cocok. Bandingkan saja kebutuhan anak dengan kemampuan kita, nanti akan ditemukan sumber mana yang cocok untuk mendapatkan worksheet.

Worksheet gratis pun bukan berarti jelek dan sebaliknya yang membayar bukan lah yang terbaik. Tergantung bagaimana keadaan kita dan usaha untuk mengenalkannya. Apabila anak kita belum mau mengerjakannya, tidak masalah, kita hanya bertugas mengenalkannya sampai mau. Apabila mau tapi belum sempurna, juga tidak masalah, bandingkanlah dia kemarin dengan yang sekarang. Bukan dibandingkan dengan anak lain.

Yang terpenting adalah kita sekeluarga bahagia menjalankannya. Allah yang melengkapkan semuanya.




Salam Hangat,

Astri
(Bukan pakar parenting)



Azka Menjadi Manager Laundry

Halo Teman-teman,

Sedikit pendokumentasian kegiatan kami kemarin di rumah. Di artikel-artikel saya lainnya, terlihat bahwa kegiatan kami cenderung tidak terstruktur dan tidak terencana. Kali ini, entah kenapa saya terpikir tentang kegiatan laundry setelah melihat jepitan jemuran baju di depan saya. Langsung saya ambil alat tulis, gambar berbagai jenis pakaian dengan kertas karton sisa, diwarnai seadanya, dan gunting deh. Lalu, saya ikat tali di antara kaki-kaki meja seolah-olah sebagai tiang jemuran.

Azka dengan senang hati menjemur pakaian jadi-jadian yang saya buat. Hitung-hitung belajar membuka jepitan jemuran bisa mengasah keterampilan jari-jemarinya. Ditambah lagi ini melibatkan dua benda yaitu jepit jemuran dan pakaian yang akan dijemur. FYI, jepit jemuran yang kami miliki adalah jepit jemuran dengan harga dan kualitas terendah jadi agak berat.

Setelah malam hari, kok saya kepikiran kalau menjemur baju saja rasanya kurang. Kemudian saya tawarkan kepadanya, "Mau dibuatkan mesin cucinya nggak?". Jawabannya "Mauuuuu". Lalu saya ambil kardus bekas air mineral, saya buat pola seadanya, dilubangi bagian tengahnya dan diberi plastik sampul ceritanya kaca. Setrika pun saya buat dengan bahan yang sama.

Hasilnya?? Di betah loh. Malah tanpa sepengetahuan saya dia mengambil kemasan tisu basah digunakan sebagai meja setrika.

Masukkan baju ke dalam mesin cuci


Jemur-jemur baju
Baju yang sudah dijemur
Lanjut setrika deh

Penampakan setrika mini, hehe


Hikmah yang bisa diambil??

Azka sering sekali nimbrung kalau saya mencuci baju. Akhirnya dia pencat-pencet tombol semaunya dan saya deg-degan kalau sampai rusak pasti repot, hehehe. Dengan mainan ini, dia merasa melakukan tugas laundry secara mandiri. Selain itu, dia menjadi mengerti bahwa proses baju yang dia pakai di dalamnya ada proses mencuci, menjemur, dan setrika. Bukan didapat dari Kinder Joy, yang dibeli terus bisa dipakai, setelah itu dibuang.




Salam hangat,


Astri



Azka dan Balon Air Buatan Sendiri

Halo Teman-teman,

Kali ini saya ingin mendokumentasikan kegiatan Azka kemarin. Cukup padat hari kami karena selain pekerjaan domestik rutin seperti biasanya, Azka juga melewatkan tidur siangnya. Jadilah kami bermain-main. Seperti biasanya, permainan kami selalu spontan dan jauh dari printilan yang membutuhkan banyak tenaga.

Sembari saya menyiapkan makan siang dan racik-racik persiapan makan malam, saya dan Azka bermain air warna. Ide ini terinspirasi dari serial kartun Diva yang pernah kami lihat bersama. Sederhana saja bahanya. Cukup menyiapkan plastik bening, pewarna makanan seadanya di rumah, baskom, water jug, dan pipet tetes. Cara mainnya, plastik bening dibuka dan digulung, kemudian dituang air ke dalamnya, dan ditambahkan pewarna. Penambahan warna ini dilakukan menggunakan pipet tetes. Untuk membuka dan menggulung plastik bening saya yang melakukannya, sedangkan selain itu Azka bekerja mandiri. Maklum, saya kan nyambi-nyambi masak, hehe. Berhubung stok pewarna makanan kami tidak banyak, maka saya meminta Azka untuk mencampur dua warna, sehingga muncul warna lainnya.

Siap-siap menaruh air



Pakai water jug yang terbuat dari plastik ya
Beri pewarna makanan (bisa campur-campur sesuka hati)
"Balon" air warna-warni
Sebenarnya, sudah jauh hari Azka mengerti berbagai ragam warna. Seperti warna dasar merah, kuning, hijau, biru dan juga warna lain yaitu ungu, pink, abu-abu, hitam, coklat, bahkan mint. Intinya semua sudah dimengerti, tugas saya untuk membuat Azka lebih konsisten menyebutnya dalam bahasa Inggris. Seidkit bercerita, awalnya kami mengajari Azka warna merah, kuning, dan hijau. Alasannya, karena mudah ditemui disetiap persimpangan jalan. Memang awalnya selalu salah, terkadang jika tidak tahu harus menjawab apa, maka selalu diakhirinya dengan jawaban "warna coklat". Hanya saja, cerita bagaimana tiba-tiba Azka bisa tahu semua warna, saya lupa. Seingat saya, hanya dia sering melihat video di Youtube tentang pengenalan warna dalam bahasa Inggris, kemudian rajin ditanya-tanya. Setelah itu otomatis bisa.

Kembali ke acara permainan hari kemarin. Setelah air dan pewarna tercampur, kemudian saya mengikatnya menjadi seolah-olah balon. Lalu, anehnya Azka meminta untuk mengikatkannya di tiang gorden. Mungkin terinspirasi dari serial kartun Diva yang juga mengikatnya di ranting pohon.

Minta digantung di tiang gorden
Hal terpenting dari semua ini adalah tidak hanya permainan sederhana yang bisa melatih motorik dan membangkitkan minat bercerita anak. Melainkan juga saya berusaha mengajarkan kedisiplinan. Sebelum kami bermain, saya memberi pengertian jika permainan ini akan membuat rumah kotor. Sehingga, kami membuat kesepakatan untuk membersihkannya bersama-sama. Dan Alhamdulillah Azka menepatinya. Dia mencuci baskom penuh warna di kamar mandi tanpa mau dibantu. Setelah itu, bagian saya yang membersihkan lantai, dan menaruh pewarna makanan kembali ke tempatnya.

Anak-anak akan selalu menyenangi seluruh kegiatan yang kita siapkan, sejauh kita juga senang menyiapkannya. Jika sedang tidak bisa membuat sendiri, namun mampu untuk membeli. Maka, belilah secukupnya dan bermainlah dengan rasa gembira. Begitu pula jika tidak ingin membeli karena memiliki waktu luang. Bangun lah rasa gembira. Ibu yang gembira akan membuat keluarganya bahagia. Apakah saya selalu bahagia?? Tidak, seperti jalanan ke pegunungan, naik-turun dan kadang menyesali dengan apa yang pernah saya perbuat. Semoga Allah mempermudah jalan kita ya :)

Kegiatan lain di hari kemarin bisa lihat disini dan disini.





Salam Hangat,

Astri
(Bukan pakar parenting)

Azka Si Anak Hobi Berjualan Es Krim

Halo Teman-teman,

Ini artikel kedua dari kegiatan kemarin, untuk kegiatan lainnya bisa dilihat disini dan disini ya.

Selain bermain balon air berwarna, kemarin saya juga mengajak Azka untuk membuat es krim. Bukan es krim rumit ala ala ibu rajin nan cerdas yang bertebaran di sosial media, hehehe. Kami hanya membuat es krim stroberi dengan bahan dasar bubuk es krim instan. Jika bermain peran, Azka suka sekali memainkan peran sebagai penjual es krim keliling dan bertiak "Es krim es krim, siapa mau beli?" sembari memukulkan tongkat atau apapun ke sepedanya, supaya terlihat sebagai "bel".

Kami bersama menyiapkan air yang diberi, menimbang bubuk es krim, menuang bubuk es krim dan air es ke baskom mixer, lalu mengaduknya bersama menggunakan mixer selama kurang lebih delapan menit. Azka mengikuti semua tahapannya, hingga memasukkan hasil mixing ke dalam kotak dan menyerahkan ke saya untuk dimasukkan ke dalam freezer.
Campur air es dan bubuk es krim



Mixing
Icip-icip

Tidak sampai disitu, dia pun mengumpulkan semua peralatannya, dan ditaruh ke dalam bak cuci. Saya tinggal mencucinya dan membersihkan lantai. Namun, sebelum dimasukkan ke bak cuci, adonan yang menempel di pengaduk dan sohlet dibersihkan dulu sama Azka. Bukan menggunakan tisu, tapi dia makan sampai bersih, haha. Sama dengan artikel sebelumnya. Azka mau ikut bebersih kegiatan kemarin karena sebelum memulai kami membuat kesepakatan untuk membersihkan semuanya bersama.

Aslinya, es krim ini direncanakan untuk dibuat sebagai pelengkap milk shake yang akan dibuat keesokan harinya. Kami juga berencana membuat pizza untuk makan malam. Namun, suami saya tiba-tiba meminta untuk membatalkan membuatnya karena sedang tidak selera makan pizza katanya. Akhirnya es krim pun disantap bersama justru malah saat sarapan. Semua pun gembira :)





Salam Hangat,


Astri

Ketika Azka Terjatuh dan Memutuskan Bangkit Kembali

Halo Teman-teman,

Ini adalah artikel kegiatan outdoor Azka yang dilakukan kemarin saat sore hari. Kegiatannya sederhana sih, cuma ambil sepeda, lalu bermain rumput, dan menjatuhkan diri di rumput kemudian telentang memandang awan. Kegiatan lainnya dapat dilihat disini dan disini.

Yang bebeda dari hari ini adalah, Azka memutuskan untuk kembali berani melompat dari ketinggian sekitar 20 cm. Sebelumnya, dia sudah berani melompat dari ketinggian 30cm atu lebih. Hanya saja, di sebuah sore, Azka menuruni tangga depan rumah dengan melompat. Saya pun ada di sampingnya mengawasi. Mungkin karena kurang fokus, akhirnya dia terjembab dan tersungkur. Separuh mukanya penuh darah. Sampai tidak terlihat dari mana sumber lukanya. Saya pun masuk ke dalam rumah, membersihkannya dengan air dan langsung mengambil es karena terlihat bibir bawah Azka yang sobek. Saya tekan menggunakan es, namun tidak mebantu. Darah masih mengalir deras. Akhirnya, saya minta dia menekan es di area luka dan saya mencari kain untuk menutup lukanya. Azka pun menekannya sesuai perintah saya dengan sangat tenang, walaupun masih sesenggukan. Setelah habis sekian es dan kain yang saya ambil sudah banyak darah, lukanya pun menutup. Lalu saya oleskan obat sariawan yang pernah diberikan dokternya waktu berkunjung ke Jogja belum lama ini. Selain menyembuhkan sariawan, obat tersebut juga memiliki kemampuan menekan rasa sakit. Alhamdulillah Azka tenang. Setelah semua mereda, saya lihat kembali lukanya. Ternyata bukan hanya bibir yang sobek, tetapi salah satu gigi atas bagian depannya pun patah :(
Saya berbagi sedikit informasi mengena obat yang saya gunakan sebagai P3K. Obat ini sebenarnya obat yang diberikan oleh dokter ketika Azka sariawan dan mogok makan. Saat terjatuh, yang saya kuwatirkan adalah sariawan parah. Maka, ketika darah sudah mulai membeku, saya oleskan pelan-pelan ke area lukanya. Azka pun berhenti menangis karena obat ini memiliki efek pain relief. Saya berikan sekali sesaat setelah jatuh dan sekali sebelum tidur. Betul saja, keesokan harinya, terlihat jelas sariawan lebar di bibirnya. Namun tidak sempat saya abadikan gambarnya


Nah, kembali ke kegiatan hari ini. Setelah kecelakaan tersebut, Azka menolak untuk melompat. Saya pun tidak memaksanya. Orang dewasa yang mengalami kecelakaan pun banyak yang mengalami trauma. Maka, saya memutuskan untuk memberi kelonggaran dan menunggunya sampai berani kembali.

Sore itu, tanpa disuruh dia meminta ijin untuk melompat dari ketinggian sekitar 20cm. Belum terlalu berani, jadi sedikit-sedikit dia mencoba melompat. Tetapi agak ngeri sih sebenarnya, karena dia takut-takut akhirnya melompat tidak sekali jadi. Beberapa kali dia hampir terjatuh ke belakang karena tidak seimbang.

Saya bingung akan menuliskan apa sebagai penutup. Saya hanya ingin menyampaikan jika anak kita belum berani akan sesautu, dukunglah dan beri sugesti positif yang menguatkannya. Apabila ternayata belum berani, yang wajib kita lakukan adalah menunggu. Cukup meunggu.




Salam hangat,

Astri
(Bukan pakar parenting)

Azka Mencoba Permainan 90-an

Halo Teman-Teman,

Kali ini saya ingin mendokumentasikan kegiatan Sabtu sore saya bersama Azka. Sore hari, cuaca sudah mulai cerah, saya mengajak Azka ke Lapangan Town Hall. Lapangan yang setau saya terbesar di kelurahan kami.

Sesampainya disana, ternyata sedang ada acara yang diselenggarakan Pemuda Pancasila. Katanya, akan ada pertemuan para anggota Pemuda Pancasila di lapangan itu, sehingga lapangan penuh dengan tenda-tenda. Maka, kami pun ke pasar yang ada di seberangnya untuk mencari sesuatu yang bisa dimainkan. Ketemulah permainan gelembung anak era 90-an, hehe.

Anak 90-an angkat tangannya! Masih ingat kan produk kece satu ini?

Duduk di rumput sembari melihat pertandingan bola, kami meniup balon-balon ini dan ternyata Azka bisa meniupnya sendiri. Mainan murah meriah. Tiga buah seharga Rp 1.000 saja. Saya membelinya langsung 1 pak dengan isi 32 pcs seharga Rp 9.000.

Pegangnya gelembung tapi lihatnya bola

Ttt-iii-uuu-ppp




Salam Hangat,


Astri
(Bukan pakar parenting)

Azka, Seorang Anak Laki-Laki yang Bermain Masak-Masakan dan Boneka

Halo Teman-Teman,

Beberapa hari lalu ada sebuah kejadian. Lemari saya ambruk hingga seluruh isinya berantakan 😢
Karena hanya dengan melihat baju-baju berantakan cukup membuat saya lelah, maka saya memutuskan mengajak Azka ke lapangan kelurahan dulu. Orang sekitar menyebutnya dengan lapangan Town Hall. Ceritanya disini ya.

Setelah makan malam, suami saya berinisiatif memulai membereskan lemari. Lalu, kemanakah baju itu diletakkan?? Kami tidak ada lemari cadangan, sehingga diputuskan semua baju dimasukkan ke kontainer plastik. Masalahnya kontainer kami tidak ada yang kosong, sehingga suami saya meringkas barang agar yang tadinya barang ada di dua kontainer, diringkas menjadi satu kontainer.

Nah, pada proses meringkas ini, Azka ikut "nimbrung" dan menemukan peralatan makan yang sudah lama sekali saya simpan.

"Ini apa Mami?"
"Itu alat makan"
"Punya siapa?"
"Punya Azka, dulu waktu Azka lahir dapet kado banyak banget. Itu dari temen Mami, kalau yang itu dari temen Papi"

Kemudian, Azka merasa baha barang tersebut adalah penuh hak miliknya. Sementara saya sedang sibuk merapikan baju, saya melihat Azka bolak-balik, tetapi tidak tahu dari mana dan kemana arahnya. Saya mengecek Azka berkali-kali dan mengepel air yang ada di ruang tamu. Beberapa kali saya ngecek, kok air ada di lanta padahal saya pun juga sudah mengepelnya bolak-balik. Ternyata, Azka bolak-balik tadi adalah dari ruang tamu ke arah dispenser dan kembali lagi ke ruang tamu sambil membawa gelas berisi air. Pantes saja, air berceceran dimana-mana.

Rupanya Azka sedang berimajinasi masak-masakan atau mebuat minum atau sebangsa itu lah. Azka sudah sejak lama mengincar untu bermain kompor yang sudah saya larang juga dengan keras. Mungkin permainan ini adalah salah satu pelampiasannya.

Saya seorang ibu yang tidak terlalu menggolongkan mainan terlalu ketat. Maksudnya, Azka saya bebaskan untuk bermain masak-masakan sesukanya. Pun juga saya biarkan bermain boneka beruang kesayangannya. Walaupun Azka memang jauh lebih suka dengan mainan berbau mobil-mobilan atau kendaraan konstruksi.





Pertimbangan saya tentang membiarkan Azka bermain permainan tersebut antara lain:
1. Permainan yang menurut banyak orang diasumsikan "mainan perempuan" biasanya justru melatih motorik halus anak-anak contohnya masak-masakan, mainan jepit rambut, memakaikan boneka baju, dll. Sementara yang diasumsikan "mainan laki-laki" biasanya melatih motorik kasarnya, contohnya sepak bola dan permainan olah raga lainnya.
Tujuan saya, melatih motorik halusnya agar memudahkan juga ketika nanti belajar menulis dan berkegiatan yang membutuhkan keterampilan motorik halus.

2. Menurut saya, permainan tidak memiliki jenis kelamin. Asumsi yang membuatnya berkelamin. Buktinya banyak chef laki-laki, pun penjahit laki-laki. Saya pun membiarkannya masak-masakan dan bermain boneka

3. Melatih empati dari berbagai sudut pandang. Maksudnya disni, mainan yang sekali lagi diasumsikan sebagai "mainan perempuan" biasanya justru yang kita lihat sehari-hari di rumah. Sementara yang diasumsikan "mainan laki-laki" justru jarang menjadi kegiatan yang dilakukan rutin dengan frekuensi yang besar. Maksudnya, umumnya kita akan lebih sering makan ketimbang bermain sepak bola. Dan harusya lebih sering membersihkan rumah daripada membenahi motor (untuk yang pekerjaannya bukan montir ya).
Tujuan saya, supaya Azka tahu bahwa dia pun harus bisa masak dan menjadi orang yang penyayang. Boneka beruang aja disayang, apalagi istrinya nanti. Lagipula, istri mana yang tidak suka dimasakin suaminya?? 😝

Namun, bukan tanpa batasan-batasan yang jelas. Secara garis besar, saya membatasi permainannya dalam hal:
1. Saya tetap mengingatkannya bahwa dia berkelamin laki-laki dan dia sudah mengetahuinya.
2. Saya tidak provide peralatan khusus masak-masakan karena belum tentu juga minatnya disini, kemungkinan karena sering melihat saya masak dan menurutnya tampak mengasyikan. Dia memasak menggunakan alat yang saat itu diasumsikannya sebagai peralatan masak.
3. Boneka yang dia punya hanya dua yaitu boneka beruang kesayangannya yang saya dapat dari kado wisuda dan boneka lebah hasil tantenya "mancing boneka" di Transmart Jogja. Saya tentu tidak memberikannya boneka Barbie atau boneka yang menunjukkan jenis kelamin perempuan.

Kami berusaha mengasuh Azka dengan memberi pengetahuan bahwa di laki-laki seperti Papi dan tidak bisa melahirkan seperti Mami. Sehingga bermain masak-masakan dan boneka pun tetap menjadikannya laki-laki yang suka main mobil-mobilan. In sya Allah.





Salam Hangat,


Astri
(Bukan pakar parenting)