Showing posts with label Resume Kuliah Whatsapp. Show all posts
Showing posts with label Resume Kuliah Whatsapp. Show all posts

Monday, February 12, 2018

[Resume Kulwapp] Happy and Healthy Soul

Pada hari Selasa dan Rabu tanggal 6 hingga 7 Februari 2018 telah dilaksanakan kuliah Whatsapp (kulwapp) yang diadakan oleh Bunda Belajar Sangatta. Tajuk kulwapp kali ini adalah "Happy and Healthy Soul: Pentingya Kesehatan Jiwa Bagi Perempuan" yang mendatangkan seorang Mind Therapist, Rianita Pramitasari, S. TP., M. Sc. Kalau belum memiliki materinya, sila klik di sini ya :)

Di luar dugaan, satu jam jadwal yang ditentukan untuk pelaksanaan kulwapp ini ternyata kurang. Sungguh menarik memang ya ilmu kesehatan jiwa. Apalagi ibu-ibu jaman sekarang sudah akrab dengan istilah "kewarasan". Menurut saya istilah itu tidak berlebihan, mengingat tantangan menjadi ibu saat ini kian berat.

Berikut adalah pertanyaan dan jawaban yang berlangsung selama kulwapp dan menjadi bahan diskusi yang ditanggapi langsung oleh bunda Ria. Sila klik di sini.


“Tugas perempuan itu memang tidak bisa dikatakan mudah. Tapi tidak juga kita anggap sebagai beban. Jalani dengan ikhlas dan penuh syukur supaya senantiasa bahagia. Itu kuncinya. Terus berusaha memberdayakan diri dan mencari psikoedukasi yang benar, bisa menjadi bekal untuk menuju hidup bahagia.” (Bunda Ria-Mind Therapist)

Tuesday, October 24, 2017

Mempelajari Kasus Bullying Anak-Anak Masa Kini

Halo Teman-teman,

Beberapa hari lalu, saya mengikuti Kuliah Whatsapp (kulwapp) yang membahas kasus tentang pem-bully-an. Oh iya, bagi yang sudah membaca beberapa artikel dari saya, beberapa kali saya menyebutkan mengikuti kulwapp. Jika ada yang berprasangka, "Ini orang ikut kulwapp terus ngapain ya?". Oke saya terangkan ya, hehehe.

Kebetulan setahun terakhir ini saya berdomisili di sebuah kota kecil bernama Sangatta Utara. Layaknya kota kecil yang berada di luar Pulau Jawa, akses untuk bergerak di kota minim infrastruktur akan sangat terbatas. Ditambah lagi, tidak ada orang tua, saudara, dan teman yang kita kenal tinggal di kota yang sama. Akibatnya, saya pernah merasa sendiri dan tidak punya informasi. Padahal, aslinya saya ini sangat suka belajar. Namun, tidak bisa keluar banyak karena memang pekerjaan utama saya adalah mengurus rumah dan mengasuh anak. Alhamdulillah, era digital sudah semakin maju dan di luar sana banyak sekali orang-orang yang sangat baik mau membagi ilmunya dengan memberikan kuliah via Whatsapp. Sehingga, menuntut ilmu bagi ibu rumah tangga dengan anak balita yang tinggal di kota kecil pun menjadi mungkin. Tidak hanya mungkin, namun juga mudah.

Kembali ke topik yes!

Beberapa hari lalu saya mengikuti kulwapp bertajuk "Kulwapp Bullying_Synapsys". Ketika sekolah dan kuliah, bullying ini tidak asing di mata saya. Namun, yang saya tahu hanyalah bullying tindakan tidak terpuji dan tidak perlu diikuti. Itu saja. Padahal seharusnya kita ikut andil dalam mengatasi hal tersebut.

Bullying ini saya kira sudah terjadi sejak jaman dahulu kala dengan bentuk yang beraneka ragam. Contohnya, saya generasi tahun 90-an, kasus bullying yang pernah saya lihat antara lain:
  1. Menghina bentuk fisik seseoang. Baik karena bertubuh gendut maupun terlalu kurus. Ataupun bentuk fisik lain yang dinilai "lucu" untuk dijadikan bahan candaan
  2. Menghina penampilan seseorang. Bisa karena orang itu berkaca mata tebal, berpakaian aneh, ataupun memakai baju yang sudah tidak bagus lagi
  3. Menghina seseorang karena status finansialnya
  4. Selalu menyebutkan nama seseorang yang sama, ketika guru meminta muridnya menjawab pertanyaan atau mengerjakan soal
  5. Mengancam dan mengintimidasi seseorang agar keinginan pelaku dapat terpenuhi
  6. Menggunakan nama orang tua sebagai bahan ejekan  
Di era digital seperti sekarang ini, bullying pun masuk ke ranah online. Manusia dengan mudahnya menghujat orang lain karena alasan perbedaan pendapat. Lucunya, pihak yang saling menghujat tidak mengenal secara personal. Hanya perang tulisan dengan kata-kata yang sinis dan sadis. Begitu pula yang pernah saya lihat di sosial media para publik figur. Komentar yang mengiringi postingan mereka pun tidak selalu positif. Selalu ada komentar negatif nan nyinyir dari sekelompok orang yang disebut dengan haters. Kemudian muncullah perdebatan antara haters yang menghujat dan fans yang membela. Anehnya, antara haters, fans, dan publik figur tidak ada yang mengenal secara personal. Pertengkaran yang menguras emosi dan hati tanpa ada solusi.

Sebelum beranjak lebih jauh, perlu diketahui definisi dari bullying adalah tindakan negatif yang bertujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara berulang oleh satu atau lebih pihak kepada pihak lain yang memiliki keulitan membela dirinya (Dan Olweus, salah satu pionir riset tentang bullying). Dalam kasus bullying ini, setidaknya ada tiga pihak yang terlibat. Petama adalah pelaku, kedua adalah korban, dan ketiga adalah bystander. Khusus yang ketiga ini bahasa mudahnya adalah "penonton". Bagi pelaku dan korban tentulah kita sudah tahu apa yang terjadi. Sementara, bagi bystander ini ada banyak kemungkinan. Bisa jadi mereka hanya menonton, bisa juga "maju" dan menengarai tindak bullying yang mereka lihat, atau malah akhirnya jadi pemandu sorak yang membuat korban merasa lebih tertekan.

Apa saja faktor yang membuat seseorang rentan menjadi pelaku bullying?
  1. Memiliki pengaruh sosial yang kuat atau populer
  2. Ingin mendominasi pihak lain
  3. Agresif dan mudah frustasi
  4. Kurang berempati
  5. Sulit untuk taat
  6. Kurang mendapat perhatian dari orang tua
  7. Memiliki masalah di dalam keluarga
  8. Berpikir negatif tentang orang lain
  9. Menganggap kekerasan sebagai tindakan yang dapat dilakukan
  10. Memiliki teman yang melakukan bullying
Apa saja faktor yang membuat seseorang rentan menjadi korban bullying?
  1. Adanya anggapan bahwa pihak tertentu berbeda dengan teman sebayanya. Seperti kelebihan atau kekurangan berat badan, bisa juga karena menggunakan kaca mata dan berpakaian aneh
  2. Secara finansial tidak mampu berpenampilan keren
  3. Dianggap lemah atau tidak dapat mempertahankan diri sendiri
  4. Mengalami kecemasan, depresi, atau harga diri yang rendah
  5. Kurang populer dibandingkan teman yang lain
  6. Berperilaku menjengkelkan untuk mencari perhatian pihak lain
  7. Baru masuk ke dalam suatu lingkungan baru (sekolah, kampus, atau tempat kerja)
  8. Memiliki perbedaan orientasi seksual (LGBT)
Apa saja yang harus dilakukan supaya anak kita tidak terjerumus menjadi pelaku bullying? 
  • Orang tua harus mengajarkan sejak dini, bahkan pada saat bayi tentang empati. Bisa dengan mengajak anak-anak ikut terlibat dalam pekerjaan di rumah, membantu membawa barang belanjaan, dan mengajak ke berbagai aktfitas sosial. Perlu juga untuk mengajarkan pada anak cara mengatasi perbedaan pendapat dengan cara baik dan santun
  • Memberikan perhatian sesuai dengan tahap perkembangan. Tanamkan bahwa menyelesaikan masalah tidak harus dengan kekerasan
  • Terlibat langsung dalam pergaulan anak kita. Paling mudah adalah mengenal secara personal dengan siapa anak kita bergaul. Perlu juga dikomunikasikan terhadap anak terkait harapan orang tua tentang teman yang mereka pilih. Memilih-milih teman saya kira masih ada dalam koridor positif jika tolok ukur yang dipakai adalah akhlak. Karena berteman dengan seseorang ber-akhlak baik, maka akan baik pula akhlak kita. Namun, jika berteman dengan seseorang yang buruk akhlak-nya, maka rentan juga akhlak kita menjadi buruk
  • Memberi arahan bahwa menjadi pelaku bullying bukan merupakan tidakan terpuji. Sebaliknya, berteman dengan orang yang tidak memiliki kawan adalah keren (tetapi tetap mengacu pada poin sebelumnya dalam berkawan ya)
  • Mengarahkan anak-anak kepada kegiatan positif baik bersifat akademis maupun non-akademis
  • Terlibat langsung dalam seluruh kegiatan anak kita. Ingat, anak adalah titipan Illahi
  • Mau belajar dan berubah. Maksud saya di sini adalah akan sangat percuma jika orang tua meminta anaknya berlaku jujur, sopan dan santun, berprestasi, dan lemah lembut tetapi kita sendiri susah berkata jujur, sering kasar, tidak mau belajar, dan menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Anak kita bercermin dari orang tuanya. Jadilah sepantas-pantasnya cermin!
Apa saja yang harus dilakukan supaya anak kita tidak menjadi korban bullying?
  • Tingkatkan helathy self-esteem atau dalam bahasa mudahnya harga diri. Bisa dari sedini mungkin. Tentu bahasa dan teknik yang digunakan disesuaikan dengan usia. Cara sederhananya adalah dengan membiarkan anak kita berusaha dalam memenuhi keinginannya, hindari anak hanya "terima jadi". Libatkan anak-anak dalam pekerjaan rumah agar menumbuhkan perasaan bahwa anak kita mampu melakukan sesautu. Dalam hal yang masih wajar, biarkan anak-anak memilih seperti pakaian atau jenis permainan untuk mengajarkan cara mengambil keputusan. Perlu menanamkan dalam diri anak bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna, sehingga hal terbaik yang bisa dilakukan adalah berusaha sebaik mungkin. Berikan pujian secukupnya jika anak melakukan proses kehidupannya dengan baik. Hindari membanding-bandingkan anak kita dengan orang lain. Terakhir, tanamkan bahwa anak kita merupakan ciptaan Allah yang berharga, sehingga tidak ada yang boeh merendahkannya.
  • Bangun rasa percaya diri
  • Latih anak kita untuk menghindari pemicu bullying seperti diajarkan untuk berpakaian yang pantas, dilatih untuk memiliki body language yang baik seperti jalan menghadap depan, jalan tanpa memasukkan tangan ke dalam saku, dan ajarkan gesture yang sesuai situasi dan kondisi.
  • Menjadi pendengar yang baik
  • Mengajarkan pertahanan diri seperti melatih anak berbicara tegas namun sopan, sehingga membuat orang lain segan
  • Berkordinasi dengan pihak sekolah (jika masih sekolah) apabila terjadi suatu yang mencurigakan seperti tiba-tiba anak menjadi murung atau menolak berangkat sekolah
Jika sudah terlanjur dari korban bullying maka bagaimana orang tua harus bertindak?
  • Ajak bicara. Situasinya harus privat supaya proses penyembuhan menjadi lebih mudah. Pada proses ini, kita juga harus meyakinkan anak kita bahwa sebagai orang tua, kita benar-benar tulus ingin membantu. Mengingat korban bullying yang sudah parah, umumnya memiliki tingkat kepercayaan rendah terhadap orang lain
  • Mendengarkan tanpa memberi penilaian. Cukup dengarkan saja tanpa ada nasihat atau penilaian yang membuat anak kita semakin tertekan. Jika ingin bertanya, gunakan kata tanya "bagaimana" atau "apa saja". Gali informasi mengenai kegiatannya sehari-hari dan dengan siapa saja mereka bergaul
  • Bantu terus anak kita untuk meningkatkan self-esteem
  • Bantu anak untuk berkegiatan positif untuk menghindari isolasi diri. Perhatikan jika anak sudah mulai murung dan mengunci diri di kamar. Amati perilakunya, jangan sampai melakukan tindakan yang membahayakan seperti percobaan bunuh diri
  • Tetap meminta anak kita untuk menghadapi situasi yang ada karena tidak bisa selalu menghindar seperti mogok sekolah atau kerja. Namun, tetap dengan pantauan
  • Jika setelah melakukan berbagai cara anak kita masih menunjukkan depresi, cari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater
  • Jangan lupa mengapresiasi kemauannya untuk terbuka terhadap kita
  • Luka batin yang sudah terlanjur terbentuk akibat bullying bisa diobati tentunya dengan bantuan profesional salah satunya dengan psikoterapi. Beberapa psikoterapi telah diuji secara ilmiah efektivitasnya dalam menangani korban bullying yang sudah sampai mengalami luka batin. Bagi anak-anak Play Therapy dapat menjadi pilihan, sedangkan pada remaja adalah Cognitive Behavioral Therapy. Inti dari psikoterapi yang dilakukan adalah agar korban dapat mengenali, berbagi, dan berproses dengan pikiran, perasaan, pengelaman yang dialami, sehingga dapat dipulihkan.
Apa yang bisa dilakukan oleh bystander?
  • Tunjukkan pada sekitar bahwa bystander tidak mendukung aksi bullying
  • Jangan hanya diam dan menonton atau bahkan malah menyoraki kejadian tersebut apalagi ikut-ikutan
  • Menawarkan bantuan bagi korban
  • Tidak perlu mempermalukan atau menyebarkan kejadian bullying baik dari mulut ke mulut maupun di sosial media
  • Melaporkan pada pihak yang memiliki otoritas, misalnya di sekolah bisa melapor pada guru atau konselor. Jika bullying sangat serius maka bisa dilaporkan langsung ke polisi. Jika terjadi di ranah online, maka laporkan ke situs atau aplikasi yang bersangkutan
Bagaimana sekolah dapat mencegah bullying?
  •  Membangun kepedulian guru-guru dan staff sekolah tentang isu bullying
  •  Melatih guru dan staf tentang pencegahan dan penanganan bullying
  • Membuat tata tertib yang mengatur tentang bullying dan sanksi tegas
  • Memberikan seminar tentang bullying yang dibawakan oleh profesional dari berbagai bidang ilmu, seperti hukum dan psikologi
  • Pada saat orientasi sekolah, siswa telah diberi pengenalan tentang pentingnya tidak melakukan bullying
Jika terjadi bullying, maka apa yang perlu diusahakan orang tua kepada pihak sekolah?
  • Konsultasi dengan konselor sekolah atau guru BK dan guru wali kelas. Kemudian meminta pihak sekolah menyelesaikan masalah tersebut (mengingat kejadiannya di sekolah)
  • Jika tindakan bullying terus berlanjut, tetap konsultasikan dengan pihak sekolah dan rancang resolusi lain (bersama pihak sekolah) tentang langkah yang akan dilakukan. Bisa juga dengan mempertemukan orang tua pelaku dengan pihak sekolah
  • Jika tetap tidak berhenti, orang tua dapat mempertimbangkan memindahkan anaknya ke sekolah lain dengan lingkungan yang lebih kondusif
  • Menurut saya, perlu juga melampirkn bukti-bukti yang memperkuat pengaduan kita. Bisa berupa rekaman video maupun suara dan menghimpun saksi-saksi yang meilhat kejadian bullying
Apa hal yang  perlu diperhatikan apabila ingin memindahkan sekolah anak korban bullying?
Pada poin sebelumnya dituliskan bahwa orang tua sah-sah saja memindahkan anaknya jika menjadi korban bullying, apabila pihak sekolah tidak menunjukkan dukungannya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun, ada yang perlu dipertimbangkan ketika nantinya memilih sekolah yang baru. Yaitu tentu saja orang tua wajib mengetahui apakah sekolah tersebut memiliki concern terhadap penanganan kasus bullying di sekolahnya. Pastikan, apakah ada sanksi keras terhadap pelaku bullying dan penanganan pencegahannya.
Lalu, jika orang tua telah memiliki penilaian yang baik terhadap sekolah yang ditunjuk, buat kesepakatan dengan anak. Menjadi korban bullying memang sulit, namun tetap harus melangkah untuk menapaki kehidupan berikutnya. Maka, jika anak sudah setuju untuk sekolah di tempat yang baru, bantu mereka untuk tanggung jawab atas pilihannya. Jangan sampai terlalu sering memindahkan anak apabila dia terus menerus mengeluh menjadi korban bullying. Karena bisa jadi ada sesuatu dalam diri anak kita yang rentan sekali menjadi bahan bullying. Apabila nyatanya memang seperti itu, bisa meminta bantuan profesional.

Apa dampak dari bullying?
Dampak dari korban bullying bisa beraneka ragam, tergantung dari kekuatan mental seseorang. Seperti mudah merasa cemas, terancam, takut, minder, dan membenci dirinya sendiri (karena fisiknya sering menjadi bahan ejekan). Lebih parah lagi, tidak sedikit korban bullying mengalami depresi berat dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup.
Kita pun sebagai orang tua harus memahamkan ke anak bahwa melakukan bullying memiliki konsekuensi yang berat. Seperti mendorong orang lain untuk melakukan bunuh diri (dan itu SANGAT SANGAT SANGAT tidak keren), hingga bisa saja berakhir di penjara. Tanamkan selalu bahwa langkah apapun yang mereka ambil, selalu mengandung konsekuensi di dalamnya.


Sekian sharing kulwapp mengenai bullying yang telah saya ikuti. Apabila dirasa hal ini penting, maka saya minta tolong dengan sangat untuk ikut membagikan infomasi ini. Kita tidak bisa menjadi pahlawan di muka bumi untuk setip masalah, namun kita bisa membawa jari kita menyebarkan informasi yang baik untuk orang di luaran sana. In sya Allah :)

Salam Hangat,

Astri

*Sumber artikel ini merupakan kulwapp yang saya ikuti dengan narasumber seorang psikolog yang sudah banyak menangani kasus bullying di sekolah bernama Mbak Pauline Pinkan Pantauw (Pauline)


Sunday, October 22, 2017

Cinta Oh Cinta: Sedikit Berbicara tentang Pernikahan

Halo Teman-teman,

Ini adalah tulisan pertama setelah satu minggu benar-benar tidak menulis. Mmmm...kecuali membalas chat WA tentunya, hehe. Rupanya tangan dan otak saya sudah mulai kaku.

Tulisan kali ini sepertinya sedikit acak. Acak temanya, acak alurnya, acak faedahnya. Saya sempat terpikirkan untuk menulis tentang cinta. Sudah ada draft-nya, tetapi mangkrak. Sekarang malah terpikirkan ide lain. Lalu saya terpikir, mengapa tidak menggabungkan keduanya? Ide dulu dan sekarang.

Mari dicoba.

Seminggu tidak menulis bukan lah tanpa alasan. Kebetulan saya mendapat jatah sakit dan harus menginap sementara di Rumah Sakit. Selama seminggu saya terlihat seperti pengangguran yang pemalas dan tanpa inisiatif. Bahkan, memaksa suami saya untuk tidak bekerja juga karena anak kami terancam tidak terurus.

Pekerjaan saya di awal-awal terserang penyakit bak keledai dungu kehilangan arah. Ketika pagi datang, saya membuka mata dan merasakan pusing luar biasa. Mencoba bangun untuk membuat sarapan, namun perjalanan hanya sampai ranjang bagian bawah. FYI, saya tidur di kamar dengan kasur tingkat. Setelah merasa cukup kuat jiwa dan raga, saya melanjutkan perjalanan ke dapur. Di tengah jalan, saya mampir dulu tidur di sofa. Hari makin terang, maka saya benar-benar berniat memasak. Bangunlah saya dari sofa. Alih-alih sampai dapur, saya malah tersungkur di kursi makan. Suami saya sepertinya melihat perubahan istrinya menjadi keledai, otomatis langsung menyuruh saya tetap di kamar. Akhirnya beliaulah yang membeli sarapan.

Kejadian di atas terjadi juga pada makan siang dan malam. Sehingga hari itu, makanan yang tersaji di rumah adalah produk hasil membeli. Keesokan harinya, kondisi saya semakin parah. Singkat cerita, menginaplah saya di RS untuk sementara. Rupanya ada gejala Demam Berdarah (DB), tipes, dan infeksi saluran kencing.

Berakhirnya saya di RS, menimbulkan pemikiran pribadi di benak saya. Ada empat kemungkinan mengapa ini terjadi:
1. Saya pernah mengeluh terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah
2. Suami saya sedang merasa sangat tertekan dan lelah dengan pekerjaannya
3. Anak kami berharap lebih banyak waktu dengan bapaknya
4. Semuanya benar

Anggaplah kemungkinan empat yang benar. Maka, kami memang mendapat apa yang kami mau. Saya menjadi orang yang doing nothing, suami seminggu penuh tidak bekerja, dan Azka mendapat waktu dari bapaknya. Tetapi konsekuensinya, saya menanggung rasa sakit, suami menanggung beban kerja yang tertumpuk, dan anak kami harus cukup puas menghabiskan waktu bersama bapaknya di kamar RS.

Ini belum konsekuensi yang lain. Seperti rumah menjadi hancur berantakan layaknya kapal Titanic yang sudah terbelah dua menunggu karam, cucian yang menggunung, dan pengeluaran tidak terduga yang cukup lumayan.

Itulah konsekuensi dari sebuah harapan. Lalu, apa hubungannya dengan ide terdahulu saya yang akan menulis tentang cinta?

Saya ingin menghubungkan kata konsekuensi dengan satu fase kehidupan manusia bernama pernikahan. Apakah ada hubungannya? Tentu ada. Pernikahan adalah perjalanan terpanjang dan terberat yang dipikul oleh seorang manusia. Karena di dalamnya terdapat konsekuensi-konsekuensi yang bahkan tetap akan dipertanggungjawabkan hingga bumi runtuh dan langit tergulung.

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti kuliah via Whatsapp atau menurut Moms Jaman Now disebut dengan Kulwapp. Dua diantaranya mengangkat topik yang hampir sama yaitu hubungan dalam pernikahan. Sementara menimba ilmu melalui Kulwapp, saya juga sedang mengikuti kelas Islamic parenting yang dalam salah satu sesinya juga membahas topik serupa. Ditambah lagi, saya mendapat isi kajian tentang pernikahan dari salah satu anggota komunitas yang saya ikuti.

Pasti tidak asing terdengar dalam ucapan selamat saat pernikahan seperti ini, "Selamat menempuh hidup baru ya Mr. XXX dan Mrs. XXX. Hari ini kalian sudah menggenapkan separuh agama". Saat itu, saya berpikir bahwa sudah berhasil menggenapkan separuh agama dan layak merasa lega. NO, NO, NO, NO, jangan ditiru ya!! Itu salah. Saya ulangi lagi, itu SALAH. Bukan seperti itu maknanya. Itu adalah kesimpulan dari seseorang kurang ilmu dan wawasan.

Menikah menggenapkan separuh agama adalah potongan sebuah hadist, yang mana versi lengkapnya berbunyi, "Barang siapa menikah maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya, maka bertakwalah kepada Allah untuk menyempurnakan setengah yang kedua".

Terlihat kan? Bahwa menikah BUKAN akhir, namun adalah awal dimulainya kita bergelut dalam sebuah bahtera panjang penuh lika-liku masalah, penuh aturan, dan penuh konsekuensi. Itulah mengapa pernikahan dianggap sebagai penyempurna separuh agama. Jika dijalani dengan baik, sempurnalah separuh agama kita. Jika salah satu dari pasangan atau keduanya tidak menjalani dengan baik, maka tidak dapat dicapai kesempurnaan yang dimaksud.

Jika kita pernah melihat pasangan yang sudah renta namun masih diselimuti tawa. Tanyakan. Tanyakan bagaimana mereka bisa menjalaninya. Saya pernah menanyakan dari beberapa pasangan lanjut usia yang masih mesra. Rata-rata mereka memiliki tingkat toleransi yang sangat besar terhadap pasangannya. Sangat besar dan sangat sabar memahaminya. Mereka membutuhkan satu sifat terpenting dalam diri pasangannya dan tidak menghiraukan sifat lainnya yang kurang pas di hati. Itu adalah bekal terpenting mereka menghadapi kehidupan yang penuh masalah. Katakanlah masalah keuangan, masalah keluarga besar, masalah pengasuhan anak, masalah kesehatan, dan masalah lainnya yang hanya terhenti ketika mereka sudah terpisahkan oleh kematian.

Masalah ini tidak akan bisa selesai hanya dengan membuat Relationship Goal ala anak muda jaman sekarang. Saya juga tidak habis pikir, mengejawantahkan Relationship Goal dengan cara menyium ketek pasangannya atau bertukar pakaian. Come on, anak kalian tidak bisa menjadi generasi sholih dan sholihah dengan cara seperti itu. Jika ada anak muda yang membaca artikel ini, ayo ayo ayo bangun bangun bangun!! Orang tua kita tidak selamanya hidup dan menolong!! Mungkin saya akan tulis lembar tersendiri mengenai nasihat untuk kids jaman now. Terlanjur gemas. Ya sama anaknya, ya sama orang tua nya *Semoga kita semua bisa mendidik anak kita menjadi generasi yang paham agama, mandiri, penuh sopan santun, berempati dengan baik, dan bermanfaat bagi sesama. Aamiin.

Nah, saya sendiri baru memiliki sedikit pengalaman tentang pernikahan. Ilmu tentangnya pun masih sangat terbatas. Pada artikel ini, akan saya cuplik beberapa poin penting tentang pernikahan yang saya dapat dari Kulwapp dan kelas parenting.
1. Mengawali niat pernikahan sebagai sarana beribadah kepada Allah
Banyak onflik dalam rumah tangga yang muncul karena kesalahan niat awal dalam pernikahan. Jika konflik yang kita alami dalam rumah tangga terasa terus melebar dan berkepanjangan, ada baiknya untuk mengevaluasi kembali niat awal dalam menikah. Jika terlanjur salah atau ternoda dalam niat menikah di awal, sebaiknya segera mengajak pasangan bertobat ersama kepada Allah dan menata hati untuk meluruskan kembali niat pernikhan. Memaksakan melanjutkan pernikahan dengan niat awal yang salah akan lebih banyak menguras tenaga dan membutuhkan bayak pengorbanan dibanding tenaga untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan.
2. Komunikasi yang sehat
Ini adalah kunci keberhasilan dalam menyelesaikan konflik rumah tangga dan membangun rumah tangga sehat yang minim konflik. Pasangan kita yang sebenarnya memiliki kepribadian yang baik serta memiliki pandangan yang baik, pandangannya belum tentu dapat diterima dengan baik jika komunikasi tidak dilakukan dengan cara baik dan tepat. Begitu juga sebaliknya. Pandangan kita yang baik belum tentu diterima dengan baik oleh pasangan kita. Karena komunikasi yang tidak baik banyak muncul prolematika rumah tangga pada pernikahan pasangan yang sebenarnya memiliki kepribadian yang baik.

3. Efektifkan komunikasi
Penting sekali untuk wanita. Jangan berharap suami dapat mengerti yang dimaksud jika istri tidak mengatakan dengan lugas keinginannya. Paada umumnya para lelaki kesulitan menangkap pesan secara implisit. Sampaikan secara terbuka dengan penuh rasa hormat tentang apa yang kita harapkan. Para lelaki sangat tidak suka bila kemampuannya diragukan, keberadaannya diabaikan, kehadirannya tidak diperlukan, dan pertolongannya tidak diharapkan. Oleh karena itu, gunakan pesona wanita yang penuh kelembutan dan tunjukkanlah betapa perab dan keberadaannya sangat berarti sehingga para istri dapat menarik hati suami.

4. Dengarkan istri
Pada umumnya, para istri lebih mengharapkan suami mendengarkan dan memahami apa yang dirasakannya dibanding memberi masukan apalagi menantangnya secara lugas dengan mengabaikan perasaaannya. Maka, sebelum menyampaikan pesan, pikatlah perasaan istri dengan mengakui perasaaannya.
5. Saling memahami dalam megatur waktu
Biasanya kondisi sesaat setelah suami pulang kerja akan menentukan kondisi setelahnya. Suami pulang kerja umumnya merasa lelah, namun di waktu ini lah istri biasanya ingin memuntahkan semua unek-unek nya setelah seharian mengurus rumah dan mengasuh anak. Disisi lain, anak-anak juga butuh perhatian dari ayahnya. Disini lah perlu diatur momen yang tepat untuk komunikasi bersama. Meminta pengertian anak kecil akan jauh lebih sulit daripada meminta pengertian orang dewasa. Maka, istri sebaiknya menunda keinginannya untuk bercerita, sementara suami melepas lelah dan bercengkrama dengan anak-anak. Di pihak suami, umumnya mereka membutuhkan me time selepas kerja dengan mengikuti hobi. Seperti membuka gadget untuk melihat tayangan olahraga, berita, atau teknologi. Disini, suami pun juga harus paham bahwa sosoknya masih dibutuhkan istri untuk berkeluh kesah, sehingga menunda atau mempersingkat keinginannya bermain gadget. Sama-sama menekan ego dengan tujuan membahagiakan pasangan.
6. Jika sudah menyangkut agama, maka berhati-hatilah
Apabila problematika kita meruakan musibah dalam hal agama, maka berhati-hatilah! Karena itu adalah musibah terbesar bagi seorang manusia di dunia. Bersegeralah mengupayakan perubahan-perubahannya jika kita benar-benar merindukan untuk berkumpul kembali di surga. Jika kesalahannya berkaitan dengan dosa kepada Allah, maha segera mohon ampun. Jika kesalahannya berkaitan dengan manusia, maka bersegeralah menyambung dan memperbaiki kembali silaturahim dengan mereka jika kita berharap Allah mengampuni dosa-dosa kita.
7. Bedanya wajib menikah dengan "ngebet" menikah
Wajib nikah itu bisa karena dua hal. Pertama karena dari segi usia, ilmu, amal, dan kapasitas memang sudah sangat sanggup unuk menikah. Jika tidak menikah maka orang ini melalaikan suatu ibadah besar, menagbaikan apa yang menjadi sunnah Rasulullah SAW. Kedua karena keadaan sudah dekat dengan lawan jenis yang juga sama-sama memiliki rasa senang. Jika tidak disegerakan, akan timbul fitnah atau menjatuhkan ke dosa besar. Sementara, kriteria sanggup menikah antara lain, ilmu, amal, akhlak, kedewasaan, kemandirian, dan kemampuan untuk hidup bersama orang lain dalam lingkup keluarga.
8. Solusi simple finansial
Tambah penghasilan, kurangi pengeluaran, perbabnyak sedekah, dan sederhanakan hidup.
9. Selalu mengingat Allah adalah sumber ketenangan
Allah SWT telah berjanji, "Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan berdzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram" (QS. Ar-Ra'du:28).
10. Selalu percaya bahwa kasih sayang dapat meluruskan benang kusut sekalipun
Allah SWT berfirman, "Dan diantaranya tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah), bagi kaum yang berpikir" (QS. Ar-Rum:21).
Maka, pernikahan tidak hanya sekedar menyiapkan resepsi dan seragam. Pernikahan bukan masalah siapa tercepat. Pernikahan bukan perkara mempersiapkan liburan halal. Pernikahan adalah suatu persiapan mental, fisik, dan kedewasaan untuk menaiki bahtera yang nantinya akan berada di arus datar membosankan atau malah dalam badai yang memporak-porandakan. Baiknya kita selalu mengingat Allah dalam setiap langkah keputusan. Allah pasti tahu saat hamba-Nya tidak mampu



Tulisan ini bersumber dari kulwapp yang diberikan oleh:
*Teh Kiki Barkiah
*Kang Muhmmad Firman
*Tautan link berasal dari blog pribadi Mbak Naila M Tazkiyyah