Showing posts with label Cerita Bersambung. Show all posts
Showing posts with label Cerita Bersambung. Show all posts

Saturday, November 25, 2017

Satu Atap Dua Dimensi: Mimpi dan Sosok Misterius (Bagian IV)

Halo Teman-teman,

Mohon maaf karena cerita ini terbagi menjadi banyak bagian. Maklum, menulis cuma bisa saya lakukan saat senggang, hehe. Cerita kali ini singkat karena jika diceritakan utuh, akan sangat panjang. Silahkan ditunggu kelanjutannya di bagian-bagian lain ya.

Bagi yang belum membaca bagian sau hingga tiga, saya sertakan link di bawah. Saya ingin mengkonfirmasi di bagian tiga ada tulisan saya sedang mengerjakan laporan praktikum Biologi Sel. Ternyata saya salah ingat, yang sebetulnya adalah sedang mengerjakan laporan Biologi. Oke sudah clear.

Sebelum melanjtukan cerita, ada beberapa teman yang menghubungi secara pribadi. Salah satu pertanyaannya adalah, "Tri, disana kamu pernah tindihan?". Saya jawab, "Pernah sekali aja".

Pernah saya mendapat cerita dari teman-teman yang mengalami tindihan. Rata-rata dari mereka merasakannya ketika setengah sadar. Kalau saya lain cerita. Saat itu saya betul-betul dalam keadaan sadar. Tidak tertidur. Tetiba ada sesuatu yang menekan keras dada. Keras sekali sampai tidak bisa bernafas. Mulut, tangan, dan kaki serasa dipegang oleh banyak orang. Mata 100% terbuka, tetapi tidak melihat penampakan apapun. Tidak juga bisa bergerak sedikitpun. Saya kira waktu itu mau mati, hahaha. Saya cuma bisa melafalkan doa dan mohon ampun. Siapa tau mati beneran, repot dosanya bejibun.

Ada juga cerita yang tidak bisa saya tuliskan dengan berbagai pertimbangan. Ada pula seorang teman memberi komentar melalui Facebook. Dia mengatakan bahwa ketika main di rumah, melihat sesautu lewat. Tetapi saya tidak ingat. Maklum, terlalu banyak kejadian ganjil

Oke, lanjut.

Mimpi beruntun
Kejadian ini juga sudah terjadi belakangan. Sekitar tahun 2007 atau 2008, saat itu saya sudah menempati kamar belakang. Suatu malam saya mendapat mimpi aneh. Berhubung ini hanyalah mimpi, maka saya tidak bisa memastikan apakah ini cuma bunga mimpi atau pertanda lain.

Saya seperti berada di rumah tetapi suasananya seperti stasiun kereta yang sudah mati. Sepi sekali. Tidak ada penumpang berlalu lalang. Pun kereta datang dan pergi. Hanya saya disitu dan seorang anak kecil perempuan, usianya sekitar tiga tahun. Rambutnya pendek dan mata kanannya (maaf) cacat. Anak ini merengek meminta ikut dengan saya, "Mbak, mbak, mbak, ikut". Ia merengek sambil terus menangis. Saya pun tetap berjalan dan berusaha melepaskan genggamannya.

Mimpi ini terjadi dua minggu berturut-turut. Terjadi berulang sehingga saya hitung benar harinya.

Sampailah hari keempat belas saya didatangi mimpi yang sama. Saya pun tetap berusaha menjauh dan anak itu tetap merengek. Hingga saya bertemu dengan penjual jajanan pasar. Simbah-simbah, membawa tenggok bambu dan duduk di lantai. Persis seperti penjaja pasar. Saya pun bertanya pada simbah tadi, "Bu, itu siapa sih? Kok ngikutin saya terus". Dia menjawab, "Lah mbak, itu kan dibuang sama orang tuanya, liat aja itu matanya rusak sebelah"

Apa ini yang dimaksud warga kalau tanah rumah kami bekas tempat "membuang". Membuang janin mungkin, atau entahlah (dialog warga lihat di bagian II)

Dialog dengan pria misterius
Kami sebenanarnya sudah merasakan banyak keganjilan di rumah tersebut. Namun, berusaha untuk merasa biasa saja. Toh tidak ada yang terlalu parah. Setidaknya anggapan kami seperti itu. 

Orang tua saya punya beberapa kenalan yang memiliki kemampuan untuk melihat dimensi lain. Bahkan juga ada yang mampu berkomunikasi. Suatu hari, ada teman dari ibu datang bersinggah anggap saja namanya Om Yono. Ibu pun menceritakan keganjilan-keganjilan yang pernah terjadi. Beliau meminta Om Yono untuk melihat-lihat sekeliling rumah. 

Saya tidak tahu persis kapan Om Yono berkeliling karena kami sedang bercengkrama dengan keluarganya. Lalu, setibanya Om Yono pulang, ibu bercerita, "Tadi om Yono, mama suruh lihat sekitar. Katanya di depan itu ada penunggunya?". "Depan mana?", tanya kami. "Itu di jalan depan. Bapak-bapak umurnya sekitar 60an tahun. Dia ngaku kalo yang nguasai jalan depan", cerita ibu. Beliau juga menambahkan bahwa Bapak tua mengaku senang kami sekeluarga tinggal  di rumah itu.

Entahlah sepanjang apa jalan itu dikuasainya. Yang Om Yono bilang, si Bapak tadi berjaga di depan rumah kami.

Makelar tak terlihat
Keadaan ekonomi keluarga saya menurun. Makin lama makin menurun, sehingga orang tua mengambil keputussan untuk menjual rumah. Jadi, alasan kami pindah adalah karena kondisi finansial yang memburuk. Tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian di dalamnya.
Menjual rumah angker ini menemui banyak kendala. Bahkan kendalanya cenderung tidak masuk akal.
Mungkin perlu ditambahkan bahwa kondisi finansial kami memburuk perlahan, sehingga awalnya usaha menjual terbilang masih santai. Selain menawarkan secara personal, orang tua juga menitipkannya pada mandor yang membangun rumah. Sebut saja namanya Pak Yoyo.
Pak Yoyo diberitahu tentang niat kami menjual rumah, jika ada yang membeli melalui dirinya maka ada fee. Orang tua saya juga mengatakan pada Pak Yoyo bahwa belum pernah meminta orang lain untuk menjualkan. Saat itu baru Pak Yoyo lah pihak luar yang kami mintakan tolong.
Beberapa saat kemudian, Pak Yoyo menelpon bapak dengan penuh kecewa. Kurang lebih dialognya, "Pak, gimana sih? Katanya kemarin nggak ada perantara sama sekali. Saya udah mau dapet calon pembeli. Tapi pas dia survey rumah dari luar, katanya ditemui sama bapak-bapak yang ngaku kalau mau beli rumah ini harus sama dia". Merasa tidak melakukan apapun bapak pun menjawab, "Loh siapa ya? Saya nggak pernah nitip ke siapa-siapa tuh. Baru Pak Yoyo ini". "Iya Pak, kemarin dia bilang kalau ditemui sama laki-laki tua, ngakunya kalau mau beli rumah bapak harus lewat dia dulu", kata Pak Yoyo.

Apa laki-laki yang dimaksud sama dengan yang berkomunikasi dengan Om Yono??

Bau tak sedap
Awal kami menempati rumah, memang sering tercium bau bakar-bakar. Kami merasa bahwa bau berasal dari sekitar sumur yang terletak di halaman depan. Bau tersebut hilang setelah kami sering mengaji di ruang sebelahnya. Ruang itu adalah ruangan yang dibuat untuk salon rias milik ibu.

Kali ini berbeda,

Kondisi finansial benar-benar sudah tersungkur, sehingga kami mulai gencar menawarkan. Tidak terhitung berapa makelar kami mintai bantuan. Begitu pula agen properti. Kami pun menjadi bersahabat dengan bagian iklan KR karena setiap minggu kami mendaftarkan iklan kecil di sana.

Banyak juga calon pembeli yang datang, melihat lokasi. Tetapi tidak pernah deal. Anehnya, setiap para calon pembeli datang, mendadak rumah kami bau bangkai. Saat survey ruang tamu, maka bau ada di ruang tamu. Begitu juga saat survey di tempat lain. Ruangan yang sudah selesai disurvey, sudah tidak bau lagi. Intinya bau bangkai mengikuti dimana calon pembeli berada.

Awal bau bangkai ini muncul, kami sekeluarga mencari sumbernya. Semua barang sudah dibuka, diangkat, dilihat, dan dicari kemanapun tidak ada namanya bangkai. Setiap ada calon pembeli, maka kami memastikan rumahnya bersih. Tetap saja, ketika mereka datang bau ini muncul, Ketika mereka pulang, baunya hilang.

Saya yang sering mengambil formulir iklan kecil KR, sampai gemas dan ingin menambahkan ke dalam spesifikasi rumah "DIJUAL RUMAH BESERTA PENUNGGUNYA LENGKAP UNTUK UJI NYALI"

Sekian dulu ya, lanjut ke bagian selanjutnya. Masih tentang perjuangan kami menjual rumah.


Link bagian sebelumnya silahkan klik:
Bagian I
Bagian II
Bagian III




Salam Horor Hangat,


Astri


Satu Atap Dua Dimensi: Mereka Tak Merelakan Kami Pergi (Bagian V)

Halo Teman-teman,

Setelah bagian IV yang lalu, saya mendapat kabar bahwa hingga saat ini gangguan masih datang di rumah walaupun siang hari. Katanya barang sering berpindah tempat. Tapi masalah barang berpindah tempat tidak saya tuliskan ya, kejadian semacam itu terlalu mainstream, hehe. Saya berharap semoga level keangkeran rumah ini menurun dibandingkan waktu kami tempati dulu. Aamiin.

Bagian ini sepertinya juga akan singkat karena khusus menceritakan tentang misteri setiap pukul 13.00.

Lanjut ya,

Makin lama kondisi finansial keluarga makin tersungkur. Segala ikhtiar dilakukan agar segera terjual. Bahkan hingga menurunkan drastis harga rumah. Jauh dibawah harga pasaran. Ditengah kegencaran kami dalam berusaha, teror terus berdatangan.

Tidak hanya berupa bau bangkai dan suara-suara. Melainkan sudah dalam bentuk penampakan di siang bolong. Kami pernah kedatangan tiga tamu misterius. Anehnya, mereka selalu datang sekitar pukul 13.00. Herannya, hanya saya di rumah itu yang benar-benar menemui mereka. Anggota rumah lain ada yang tidak menemuinya sama sekali, ada juga yang hanya menemui salah satu dari mereka.

Tamu pertama
Ibu memiliki kegiatan sampingan merias pengantin. Sudah tidak terlalu gencar mempromosikan, sehingga hanya mengandalkan kenalan. Papan penunjuk tempat yang diletakkan di pinggir jalan raya pun sudah dicopot.

Suatu siang, ada yang mengetuk pintu samping. Pintu ini adalah akses langsung untuk memasuki ruangan salon. Ibu sedang berada di dapur, maka saya yang sedang menonton TV otomatis membukakan.
Seorang perempuan, mengendarai motor bebek berwarna hitam. Rambutnya sebahu, diikat menyerupai ekor kuda. Mengenakan celana panjang dengan jaket berwrna cream. Kalau tidak salah memakai kaca mata. Usianya sekitar pertengahan dua puluh.

"Mbak, ini benar tempat Bu XXX yang bisa rias manten?", katanya.
"Iya mbak betul, mau rias?", kata saya.
"Iya mbak", jawabnya.
"Oh saya bukakan pintu depan ya mbak, biar enak ngobrolnya", balas saya.

Saya pun memberitahu ibu dan langsung membukakan pintu depan. Saya mempersilakannya masuk. Tidak lama berselang, ibu sudah menemuinya.

Saya berada di ruang keluarga. Letak ruang tamu dan ruang keluarga hanya berbatas tembok dihubungkan dengan lubang tanpa daun pintu. Suara percakapan pun sangat jelas terdengar di telinga saya.

Perempuan itu sebut saja namanya Mbak Bunga, mengutarakan niatnya untuk memakai jasa rias ibu pada acara pernikahannya. Ibu menanyakan dari mana tahu tentang jasanya. Namun, Mbak Bunga hanya menjawabnya dengan tertawa basa-basi.

Keanehan yang belum kami sadari saat itu adalah dia datang sendiri. Jarang sekali calon pengantin datang tanpa ditemani keluarga ataupun calon pasangannya. Selain itu, Mbak Bunga hanya datang menyatakan sudah yakin ingin rias dengan ibu. Kata-kata itu diucapkapnnya berkali-kali, "Saya beneran sama Ibu aja lho ya".

Seingat saya, Mbak Bunga menetapkan pernikahannya di hari Jumat bulan September 2008. Aneh kan? Ibu pun menanyakan agamanya dan dia menjawab Islam. Ibu pun heran dan berkata, "Jadi akad nya setelah jumatan gitu mbak? Langsung resepsi atau gimana?. Saya lupa jawabannya, kalau tidak salah resepsinya malam.

Saya sih sudah merasa aneh kalau ada yang melaksanakan akad dan resepsi bersamaan di hari Jumat. Kalau akad saja sih wajar. Banyak yang melakukan itu. Namun, ya namanya keluarga pasti punya maksudnya masing-masing.

Pada saat percakapan, mbak Bunga selalu minta segera disudahi. Terlihat terburu-buru, "Sudah gitu dulu ya Bu, nanti dibicarakan lagi". Saat proses pamit, eyang datang dari paviliun dan bertanya. "Sopo tamune?" (Siapa tamunya?). Saya pun menceritakan.

Mbak Bunga pun pulang, ibu menutup kembali pintu depan, lalu memasuki rumah. Eyang kembali bertanya, "Sopo kuwi? Kapan le arep mantenan?" (Siapa itu? Kapan mau nikah?). Ibu mengatakan bahwa mbak Bunga mau menikah bulan September. Reflek, eyang menjawab, "Loh, kuwi kan pas poso? Kok aneh?" (Loh bulan itu kan saat puasa? Kok aneh?).

Sontak saya dan ibu pun kaget. Saya menuju kalender dan memang betul, saat itu puasa. Ibu saya yang punya feeling peka berkata, "Jangan-jangan bukan manusia!". Kemudian saya berinisiatif menelpon nomor HP yang dia berikan dan terjawab, "Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi". Berkali-kali saya telepon dalam waktu yang berbeda, jawabannya sama.

Maklum namanya ibu-ibu pasti suka cerita ye kan? Ibu pun menceritakannya ke seorang teman yang juga perias. Sifat kepo ala ibu-ibu muncul. Temannya mengajak untuk menelusur ke alamat yang mbak Bunga berikan.

Mbak Bunga mengaku tinggal di kawasan Minomartani. Bagi yang tahu perumahan itu, pasti akrab gang yang diberi nama dengan nama-nama ikan. Ibu pun berdua dengan temannya mencari ke setiap sudut Minomartani. Tapi tidak ditemukannya. Lalu, berhentilah mereka di pos ojek yang terletak di seberang Indomaret.

"Pak, permisi mau tanya. Kalau jalan Bawal itu sebelah mana ya?", tanya ibu.
"Bawal? Di Mino? Nggak ada Bu", kata bapak yang sedang mangkal.
"Ah masa sih? Saya dikasih alamat orang di Mino jalan Bawal tuh?", Ibu bingung
"Ya udah bu kalo nggak percaya, saya juga baru 20 tahun disini", kata dia.

Sontak ibu dan temannya kaget. Ini siapa?? Sesampainya di rumah, saya yang mendapat cerita tersebut kembali menelpon nomor HP nya, namun tidak bisa. Sampai kepindahan kami, mbak Bunga tidak pernah muncul ataupun mengabari perihal pernikahannya.

Pria mencari bapak
Khusus tamu kedua ini, saya hanya melihat tetapi tidak berinteraksi langsung. Saat itu juga pukul 13.00, saya hendak keluar rumah. Sudah berada di depan rumah, saya melihat ada tiga pria mendatangi rumah kami. Satu berbadan besar, tinggi, berkulit agak gelap, parasnya agak Arab. Dua pria lainnya kurus, kulitnya coklat, namun wajahnya saya tidak ingat. Mengendarai dua motor.

Mereka berhenti di depan pagar paviliun. Ketika itu ada Mbak yang dipekerjakan orang tua kami untuk membersihkan rumah beberapa kali seminggu. Anggap saja namanya Mbak Nur.

Salah satu pria menanyakan kepada Mbak Nur, "Mbak, pak XXX ada?". "Pergi ke Solo Mas", jawab mbak Nur. Namun, pria lain menimpali, "Pak XXX nggak ke Solo kok. Lagi pergi ke Semarang". Mbak Nur pun tidak menjawab dan menanyakan perihal kedatangannya. "Mau kasih uang", jawab mereka.

Mbak Nur pun menyampaikan pesan tersebut kepada eyang. Malamnya eyang bercerita dan heran kok orang itu tahu bapak ke Semarang. Padahal tidak ada seorang pun yang tau kecuali keluarga kami bahwa bapak ke Semarang. Termasuk Mbak Nur. Dia hanya mengetahui bapak sedang ke luar kota, namun tidak pasti. Berhubung Mbak Nur tahu bahwa kami sangat sering ke Solo, sehingga dia menjawab sekenanya.

Sampai kepindahan kami, tiga pria ini tak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya. Apalagi memberi uang.

Kecurigaan keluarga
Dua tamu aneh yang datang ke rumah, memancing kecurigaan kami. Siapa kah mereka?

Kebetulan, seorang kenalan ibu yang diceritakan mengenai masalah ini, menyarankan untuk bertemu dengan seseorang yang masih kerabat dengannya. Seorang wanita yang punya kemampuan mendeteksi hal ganjil semacam itu.

Beliau berkata bahwa tamu yang datang ke rumah kami bukan lah tamu sungguhan. Mereka adalah penunggu rumah yang merubah wujud menjadi manusia dan melakukan teror terhadap kami karena akan menjual rumah.

Beliau juga memperingatkan, mungkin masih ada lagi tamu-tamu yang lain.

Dua pria
Betul saja, tidak lama berselang. Lagi-lagi pukul 13.00, saya sedang sendirian di rumah induk. Lalu, ada tamu yang datang ke paviliun. FYI, eyang jarang sekali menerima tamu tanpa janjian. Sehingga pagar depan selalu dibiarkannya terkunci dan dibuka sesekali saja. Tamu tadi pun tidak dapat masuk dan hanya mengucapkan "Permisi" dari luar pagar.

Eyang keluar dan menanyakan maksud dari tamu yang terdiri dari dua pria. Rupanya mereka mencari ibu dan mengatakan mau memakai jasa rias ibu. Lagi-lagi jasa rias.

Eyang yang sudah tahu tentang tamu jam 13.00, datang ke rumah induk dan berkata pada saya untuk menemui tamu itu. Beliau ragu, mereka tamu sungguhan atau jadi-jadian seperti sebelumnya, sehingga tetap disuruh menunggu di luar pagar. Saya pun langsung menemui mereka dengan keyakinan dalam hati bahwa ini adalah tamu jadi-jadian yang ketiga.

Satu dari pria tersebut berusia sekitar 60 tahun anggap saja namanya Pak Dedi, sedangkan satunya lagi tampak lebih muda anggap saja namanya Pak Aan. Mereka mengendarai dua mobil, namun saya hanya mengingat satu. Kijang Innova warna hitam. Pak Aan mengatakan bahwa anak dari Pak Dedi akan melangsungkan pernikahan. Pak Dedi menginginkan menggunakan jasa ibu. Aneh kan? Dua pria mengurusi masalah rias pengantin.

Saya pun berkata bahwa ibu sedang tidak ada di rumah. Saat itu beliau sedang membuka usaha di luar rumah dan belum pulang. Anehnya lagi, pak Aan berkata dengan penekanan nada, "Loh sudah pindah rumah?". Saya jawab, "Belum Pak, cuma usahanya sekarang disana. Kalau Bapak mau bicara langsung, bisa kesana ketemu ibu". Pak Aan kembali memastikan, "Jadi yang disana usahanya aja kan ya? Bukan pindah rumah?". "Iya", jawab saya sambil memberi arahan menjuju ke lokasi usaha. Mereka pun beranjak pergi ke lokasi usaha ibu. Mereka beranjak mengendarai mobil menuju selatan (Ke arah rumah induk).

Saya penasaran dan berlari kilat menuju ruang tamu rumah induk. Memastikan mobilnya ada atau lenyap, hahaha. Saat di ruang tamu, saya lihat melalui jendela, ya ada mobil itu. Tidak lenyap. Namun posisi saya melihat sangat terbatas. Jadi saya tidak tau ke arah mana lagi mobil tersebut.

Saya langsung mengirim SMS ke ibu tentang tamu aneh ini. Sampai berjam-jam kemudian, ibu mengatakan tidak ada siapaun yang datang.

Mencoba berbagai usaha
Kami minta tolong ke banyak pihak, namun belum mebuahkan hasil. Sampai suatu saat seorang kenalan bapak datang ke rumah menawarkan bantuan, anggap saja namanya Mas Toni.

Saya ingat saat itu malam hari, sekitar pukul 19.00. Beliau datang berdua dengan istri. Mas Toni sudah mendapat cerita keganjilan tentang rumah kami dan teringat bahwa beliau memiliki seorang kenalan yang berprofesi sebagai pengembang. Biasanya pengembang mencari tanah dengan harga murah lalu dibuat bangunan, untuk selanjutnya dijual. Tanah yang murah bukan berarti tanpa masalah. Terkadang harganya jatuh karena ada "cerita" di dalamnya. Pernah suatu saat, rumah selesai dibangun namun ada seperti suara ramai orang tabuh genderang. Mana ada yang mau beli kan? Makanya pengembang tadi memakai jasa seorang pria yang bisa mengusir gangguan tersebut. Supaya rumah cepat laku.

Mas Toni berniat menghubungkan kami dengan pria tersebut. Namun, pria tersebut memang tidak kalah misterius, anggap saja namanya Pak Anton. Sampai sekarang, orang tua saya tidak memiliki kontaknya. Cara bertemunya pun terbilang lucu. Orang tua saya, mas Toni, dan istrinya menemui pengembang tadi. Beliaulah yang menghubungi Pak Anton berikut jadwalnya. Saya tidak ikut saat itu jadi tidak tahu lokasi rumah Pak Anton seperti apa.

Setelah didapat jadwal, Pak Anton pun datang ke rumah kami. Dari beliaulah akhirnya kami tahu mengapa banyak keganjilan terjadi.

Tapi nanti dulu ya, saya ada kerjaan, hehe.

Bagi yang belum membaca bagian sebelumnya, ini link nya:
Bagian I
Bagian II
Bagian III
Bagian IV




Salam Horor Hangat,

Astri

Sete

Thursday, October 12, 2017

Satu Atap Dua Dimensi: Salam Perpisahan (Tamat)

Halo Teman-teman,

Setiap perjumpaan pasti berakhir pada perpisahan, sama seperti cerita Satu Atap Dua Dimensi. Bagian ini akan menceritakan detik-detik akhir kepindahan dari rumah angker yang kami tempati selama tiga belas tahun. Tepatnya tahun 2009.

Bagi saya pribadi, rumah ini memiliki kesan tersendiri. Selain kisah horor tentunya. Tiga belas tahun saya melewatkan siang dan malam. Sejak mulai mengenakan seragam putih-merah, hingga ujian mid semester kedua saat berkuliah.

Rumah dengan atap tinggi tanpa eternit, jendela dan pintu berukuran besar di setiap sudut, membuat angin sepoi-sepoi masuk menyejukkan. Apabila hujan turun di pagi hari, menambah kesyahduan lagu Sunday Morning milik Maroon 5 yang sering saya mainkan di playlist komputer.

Di rumah itu saya sering menghabiskan hari minggu pagi dengan menonton Chibi Maruko Chan, doraemon, Hamtaro, dan Detective Conan. Beranjak ABG saya tidak pernah melewatkan MTV Asian Hit list dan MTV Ampuh yang tayang setiap Sabtu siang. Menunggu video klip milik Westlife dan Sheila on 7 diputar. Mereka selalu merajai tangga nada di awal era 2000. Siapa ingat?? hehe. Kala senja datang dan cahaya mulai temaram, lagu 100 years milik Five for Fighting menambah sendu suasana.

Lanjut ya,

Eh sebentar, saya peringatkan sesuatu, hehehe. Kami sekeluarga pun sebenarnya baru kali ini mengalami kejadian yang mengharu biru penuh sensasi ala film Suzana. Awalnya kami tidak tahu sampai dihadapkan dengan kenyataan bahwa kami tinggal di rumah se-angker ini. Cerita berikut, bagi sebagian orang mungkin dianggap mengada-ada. Namun, saya berusaha menceritakan sebenar-benarnya sesuai kemampuan saya dalam mengingat.

Lanjut beneran ya,

Siang hari, Pak Anton datang ke rumah untuk melihat suasana. Antara kaget dan tidak kami mendengarnya.

"Wah ini berat. Paling berat dari semua yang pernah saya tangani", katanya.

Rupanya, rumah kami dibangun di atas kerjaan gaib. Di dalam keraajaan tersebut, ada sembilan penunggu utama. Artinya memang bertempat di tanah itu sejak dulu. Tujuh dari sembilan penunggu berada di kamar belakang (kamar saya) dan dua sisanya kalau tidak salah di ruang keluarga. Selain kesembilan penunggu, ada banyak sekali lalu lalang makhluk tak kasat mata. Tidak menetap, hanya "bertamu". Pak Anton menyebutnya dengan banyak sekali karena tak terhitung, ratusan bahkan ribuan. Itulah sebabnya kami sering merasa penuh sesak meskipun berada sendirian di rumah. Berarti, penuturan warga dulu bukan isapan jempol belaka. Ada rasa bangga diri bahwa saya bisa keluar dengan waras dari rumah itu just like a pro, hahaha.

Pak Anton pun memulai ritualnya. Jangan dibayangkan seperti di TV itu ya. Prosesnya adalah dialog Pak Anton dengan pemimpin dari penunggu tetap. Beliau berbicara dengan sesuatu entah apa. Semacam berbicara sendiri.

Menanyakan maksud mengapa kami selalu mendapat teror terutama ketika berikhtiar menjual rumah. Ternyata, si pemimpin mengatakan bahwa mereka sudah sangat cocok dengan keluarga kami. Mereka tidak mau rumah berpindah tangan. Hanya keluarga kami lah yang mereka inginkan untuk menempati rumah tersebut. Orang lain dibuat tidak pernah kerasan.

Itulah mengapa seluruh ART termasuk mas Koko didatangi mimpi yang membuat mereka berpikir untuk segera keluar dari rumah, itu pula sebabnya Mas Dodo ditdatangi perempuan di tempat tidur di malam pertama menginap. Akhirnya terjawab juga tentang bau bangkai setiap ada calon pembeli datang, dan yang terakhir adalah tamu misterius.

Si pemimpin mengatakan bahwa sembilan penunggu tetap tidak pernah menganggu keluarga kami, namun "tamu" yang lalu lalang itu lah yang menimbulkan gangguan-gangguan tak ada henti. Baik siang maupun malam hari.

Pak Anton melakukan mediasi supaya diraih win win solution dan keluarga kami segera dapat menjual rumah. Maka, didapat kesepakatan untuk memberi mereka ganti berupa bejana diberi air dan uang logam 500 rupiah, mie instant, dan satu lagi saya lupa. Barang itu ditempatkan di sudut ruang keluarga. Sebagai imbalan, si pemimpin berjanji untuk melepas keluarga kami dan mencegah "tamu" penganggu datang.

Setelah bermediasi, kami diperingatkan oleh pak Anton ada kemungkinan nanti terjadi suara ribut seperti orang akan pindahan. Saat iu terjadi, artinya para tamu sedang keluar dari rumah dan tidak menganggu lagi.

Saat terakhir
Hari-hari terjadi seperti biasa. Kami masih harap-harap cemas kapan suara ribut yang dimaksud akan datang. Tidak ada tanda-tanda pasti.

Sampai suatu malam sekitar pukul 22.00, saya sedang belajar menghadapi mid semester II di kamar belakang. Tidak ada siapapun di rumah. Meja belajar saya terletak tepat di jendela yang menghadap langsung ke halaman belakang. Hari sangat panas, sehingga jendela tetap saya biarkan terbuka. Belajar ditemani siaran radio Swaragama menggunakan HP.

Tiba-tiba,

"Braaak!", seperti ada suara lemparan batu ke jendela kamar. Saya langsung reflek berpikir bahwa ini adalah suara ribut yang dimaksud. Segera saya tutup jendela dan gorden. Memastikan pintu kamar sudah tertutup.

Di luar kamar, suara riuh terdengar. Layaknya berada di pasar. Tidak jelas apa yang terdengar, namun ada satu suara yang paling dominan. Saya menebaknya suara pria, keras tetapi tidak jelas apa yang dibicarakan. Ramai sekali. Benar-benar ramai.

Saya bingung mau melakukan apa. Keluar takut, di dalam kamar rasanya seperti mau membeku. Lalu, saya pasang headset, mengencangkan volume HP, dan mengirim SMS ke orang tua.

SMS berhasil dikirim dan "Ting", suara dering SMS di HP orang tua terdengar dari luar. Iya, mereka meninggalkan HP-nya di rumah. Sial! Saya pun hanya diam di meja belajar berharap suasana riuh ini segera berakhir.

Gayung bersambut, suasana kembali sepi. Dari ruang keluarga terdengar suara kunci ditaruh di atas cawan keramik. Saya berpikir, orang tua sudah pulang. Saya pun keluar kamar. Sampai di ruang keluarga, ternyata belum ada siapa-siapa. Lalu, suara rame kembali terdengar. Sekarang seperti ada tawuran. "ha he ho, brak dug", suara seperti banyak orang marah-marah sambil melempar barang. Saya langsung lari ke kamar, menutup pintu. Mau menangis tidak bisa. Berharap pingsan.

Kejadiannya berlangsung sekitar sepuluh hingga lima belas menit. Namun rasanya sudah menghabiskan separuh usia saya. Lambat laun suara riuh berakhir. Sunyi senyap. Betul-betul senyap. Saat itu saya belum mau keluar kamar, masih gemetar. Suara barang-barang dilempar membuat saya berpikir bahwa barang di rumah sudah porak poranda.

Kali ini ada suara pintu garasi dibuka. Setelah merasa yakin betul bahwa orang tua saya benar-benar pulang. Maka, saya keluar kamar. Tidak ada perubahan barang ternyata. Semua masih seperti sedia kala.

Sampai di garasi, syukurlah memang orang tua sedang memasukkan motornya.

Salam Perpisahan
Tidak berselang lama setelah kejadian ribut terjadi, datang seseorang yang tertarik dengan rumah kami. Hanya satu kali survey dan beliau menyetujui membelinya. Kami pun meminta keringanan untuk tinggal beberapa saat sampai mendapatkan rumah kontrakan. Sembari mengemasi barang yang sangat banyak.

Hari-hari terakhir kami habiskan untuk mengemasi barang. Semua barang dimasukkan dalam kardus satu per satu. Tidak ada lagi gangguan-gangguan yang kami rasakan. Entah karena mediasi memang betul-betul berhasil. Atau kami yang kelewat lelah karena mempersiapkan kepindahan.

Dua minggu berselang setelah rumah terjual. Barang sudah dikemas dan seluruh alat elektronik tidak lagi terhubung dengan listrik. Tumpukan kardus ada di beberapa sudut rumah, siap untuk dibawa keesokan harinya.

Di malam terakhir kami menghuni rumah, bapak masih melaksanakan sholat tahajud. Setelah selesai berdoa, beliau beridam sejenak di musholla.

“Krek krek ngeeeeeek", terdengar printer epson kami berbunyi.


Link bagian sebelumnya:



Salam Horor Hangat,

Astri
 


*Jika ada yang tanya mengapa saya masih tidur di kamar belakang padahal tahu ada tujuh penunggu disana, jawabannya saya males bawa-bawa barang. Kalau ada yang tanya saya berani sendirian di rumah, jawabannya karena besok ujian (mahasiswa berdedikasi tinggi, hahaha)*

 

Sunday, October 8, 2017

Satu Atap Dua Dimensi: Kejadian Aneh Tak Kenal Waktu (Bagian III)

Halo Teman-teman,

Tulisan ini adalah bagian ketiga dari rangkaian cerita pengalaman kami menempati sebuah rumah angker. Jika belum mebaca bagian satu dan dua, pada akhir cerita saya berikan linknya.

Kita mulai ya,

Mungkin ada yang berpikir bahwa rumah ini besar dan tampak kuno. Tetapi itu tidak benar. Sebenarnya adalah, rumahnya tampak modern dan tidak ada kesan seram sama sekali. Namun gangguan terjadi tidak mengenal waktu. Saya adalah orang yang cukup sering mendapat pengalaman aneh ketika tinggal di rumah tersebut.

Kaca pecah
Di ruang keluarga kami yang cukup luas, terdapat TV yang diletakkan di atas lemari penyimpanan mesin Laser Disc (LD). Generasi 90-an pasti tahu apa yang dimaksud dengan LD, sebuah kepingan mirip MP3 namun dengan ukuran cukup besar. Mungkin sebesar pizza ukuran large yang dijual di Pizza Hut. Lemari ini memiliki pintu kaca, berjumlah dua buah. Kiri dan kanan. Tinggi lemari ini sekitar 50 cm.

Saat ini terjadi, sudah tidak ada sofa di ruang keluarga. Sofa tersebut sudah dipindahkan ke ruang tamu karena kursi tamu sudah lapuk dan dipensiunkan. Di ruang keluarga tinggal lah karpet berukuran besar yang kami gunakan untu bersantai. Karpet berwarna hijau muda dengan corak abstrak.

Saya dan kakak sedang menonton TV siang hari, kebetulan saat itu remote-nya sedang rusak. Sehingga, kami duduk di batas depan karpet agar mudah mengganti saluran. Biasa lah kami ini senang sekali berkomentar tentang tayangan yang ada TV. Namun komentar kami terhenti karena mendadak, "Pyaaaaaar". Pintu lemari LCD bagian kanan pecah. Bukan pecah keseluruhan, tetapi seolah ada yang melempar batu ke kaca tersebut karena bentuk pecahannya bolong. Anehnya, bolongnya di bagian tengah. ya hanya seperti dilempar batu dan bagian yang tidak terkena batu aman-aman saja.

Kami pun saling berpandangan sambil senyam-senyum penuh makna.  

Bertahun-tahun kemudian, kami sudah pndah rumah. Kebetulan kakak yang sudah berdomisili di Surabaya sedang pulang ke Jogja dan mengajak menontom The Conjuring yang dibawanya. Ada adegan yang sama dengan  yang kami alami. Kami pun tertawa, "Hahahaha, udah pernah!"

Mainan TV
Saat itu sore hari sekitar tahun 2001, saya sendiri di rumah. Rasanya sepi sekali berada sendirian di rumah cukup besar. Saya pun menyalakan TV, namun saya tinggalkan. Orang Jawa bilangnya "Nggo rungon-rungon" (Untuk ada suara saja). Saya memilih membaca novel di kamar orang tua, namun pintu saya biarkan terbuka.

Di tengah asyik membaca, saya mendengar tayangan TV yang semula  infotainment di RCTI berubah menjadi suara berita. Saya pun mengintip dari pintu. Ternyata saluran sudah berubah menjadi TVRI. Sambil masih terus mengintip, ternyata saluran berubah lagi. Saya pun jalan dengan kaki gemetar, kembali ke tempat tidur. Bingung mau apa. Syukurlah tidak lama berselang, Mas Koko datang. Saya pun segera mematkan TV dan masuk kamar.

Tempat ular bersarang
Di rumah ini, sangat sering terlihat ular. Saya tidak tahu pasti apakah memang ular betulan atau jadi-jadian. Seingat saya warnanya selalu hitam legam. Ukurannya bervariasi. Ada yang kecil, namun panjang. Ada yang besar dan panjang. Namun, juga ada yang kecil dan tidak panjang.

Ular ini ditemukan hampir di setiap sudut. Pernah sautu hari terlihat di ruang setrikaan. Setelah kami kejar, ternyata dia kabur dan masuk ke kamar belakang (kamar saya). Terlihat jelas bahwa dia masuk ke bawah rak buku. Namun setelah dibuka, sudah tidak terlihat. Semua perabotan dibuka pun juga tidak ada. 

Lain kejadian lagi saat itu saya dan adik sedang tiduran di karpet ruang keluarga. Lalu, adik mengajak ke rumah eyang di paviliun. Ketika saya berdiri, saya baru sadar bahwa di samping kepala ada ular besar dan hitam sedang melingkar. Padahal saya tahu betul tadi tidak ada apa-apa. Akhirnya ular ini berhasil diusir oleh Mas Koko.

Nah, yang paling aneh adalah kejadian ini. Yang mengalaminya adalah ibu. Saat itu kami melihat ada ular di halaman depan. Di samping sumur. Bersembunyi di balik tanaman. Sebagai ibu tangguh, beliau memberanikan diri mengusir ular tersebut dan anak-anaknya disuruh menjauh. Kami hanya melihat melalui jendela. Saya tidak melihat ular ini beliau pegang, namun beliau kembali masuk rumah dan berkata, "Ularnya ilang sendiri, nggak tau masuk kemana. Tapi sempet nengok, mama ngeliat mukanya kok mendadak senyum ya? Ular beneran bukan ya?".

Orang ini siapa?
Suatu hari, lupa siang atau sore. Saya sedang berada di paviliun menonton TV. FYI, antara rumah induk dengan paviliun, berbatasan dengan garasi. Ada dua pintu penghubung. Satu berada di bagian selatan untuk menghubungkan rumah induk dengan garasi. Satu lagi di bagian utara untuk menghubungkan garasi dengan paviliun.

Saya mendengar kakak memanggil dari garasi "Jeng, jeng", begitulah panggilan saya di rumah. Merasa terinterupsi ketika menonton TV, maka saya pun mebalasnya juga dengan berteriak, "Apa sih? Masuk aja!".

Saya tunggu kok tidak muncul juga. Pikir saya biasa lah. Dia malas masuk, jadi main teriak saja. Setelah selesai menonton TV, saya pun kembali ke rumah. Saya memanggil kakak untuk menanyakan tentang tadi, "Maaaas, masssss". Namun yang menjawab ibu saya, "Mas pergi kok dari tadi".

Lain lagi kejadian tahun 2008 menjelang senja. Waktu itu sedang terjadi pemadaman listrik. Saya yang harus segera menyelesaikan laporan praktikum Bilologi Sel pun nekat menulis gelap-gelap. Tidak punya emergency lamp dan malas mencari lilin. Maka hanya mengandalkan sisa-sisa cahaya matahari yang masuk melalui pintu belakang dan jendela. Saya mengerjakan laporan ini di ruang keluarga. Jadi di sudut ruangan ini, diletakkan meja komputer yang cukup besar. Disitulah saya menulis. Tidak ada orag lain di rumah.

Dari arah garasi datang lah kakak. Dia kembali dari paviliun, maka masuk melalui garasi dan melewati saya yang sedang serius menulis. Kemudian dia duduk di karpet ruang keluarga sambil membuka-buka majalah. Kami saling membelakangi. Dia menghadap barat, sementara saya menghadap timur. Seingat saya, hari itu adalah hari dia latihan karate dan kak saya ini hampir tidak pernah membolos, maka saya pun bertanya, "Mas nggak berangkat karate po?" sembari sedikit menengok ke arahnya. Dia tidak menjawab dan hanya serius membaca majalah menghadap bawah. Saya pun diam saja, karena kakak saya memang begitu. Kalau sedang tidak niat berbicara, maka siapapun yang bertanya tidak akan dijawab.

Tidak lama berselang, saya teringat bahwa beberapa jam lalu kakak pamit ke saya untuk latihan karate. Biasanya dia pulang sekitar pukul 18.30. Saya pun kaget dan membalikkan badan. Ternyata di belakang saya tidak ada siapapun. Tidak ada majalah juga yang tadi dibawanya.

Foto buram
Kejadian ini ketika kami sudah akan pindah rumah. Waktu itu, saya masih hobi selfie menggunakan kamera HP Sony Ericsson k700i. Kalau tidak salah ingat, seri ini dibekali kamera belakang 1,3 MP. Sudah sangat bagus dijamannya. Jadi seluruh album foto, penuh foto saya, hahaha.

Kejadian ini terjadi siang hari. Waktu itu, saya hobi sekali merubah penampilan rambut. Setelah mendapat tampilan baru, saya pun selfie. Berhubung hanya ada kamera belakang maka harus mengambil foto beberapa kali agar angle-nya pas. Saya lupa berapa kali saya ambil gambar, sampai akhrnya terhenti karena fotonya buram. Anehnya, buramnya hanya di muka saya saja, hahaha.


Waktunya masak, saya sudahi dulu ya.

Berikut link bagian sebelumnya:
Bagian I
Bagian II



Salam Horor Hangat, 


Astri


Satu Atap Dua Dimensi: Pengganggu Keluarga . . . (Bagian II)

Halo Teman-teman,

Tulisan ini adalah bagian kedua dari cerita tentang rumah besar yang pernah kami tempati selama tiga belas tahun. Bagian petama berjudul Satu Atap Dua Dimensi: Rumah Besar yang Kami Tempati Ternyata . . . (Bagian I).

Bagi yang bertanya-tanya, "Kok tahan tinggal di rumah itu sampai tiga belas tahun?" atau "Kok nggak pindah?". Jawabannya karena membeli rumah tidak semudah membeli Sugus, hahaha. Bahkan, khusus rumah ini, menjualnya pun tidak mudah. Sangat tidak mudah. Nantikan di bagian-bagian selanjutnya ya.

Oke kita mulai,

Keluarga kami memang merasakan banyak gangguan. Baik yang berwujud maupun tidak. Baik yang menunjukkan suara-suara atau sekedar membuat suasana hati menjadi mudah berubah negatif. Seperti sangat sedih, sangat panik, atau seperti sangat sesak. Masing-masing dari kami pernah merasakan seperti tinggal di kerumunan padahal sedang sendirian.

Selama menempati rumah tersebut, kami tidak mengumbar cerita-cerita di dalamnya. Alasannya adalah untuk menjaga ketenangan. Kebetulan setiap kami menempati rumah, selalu menjadi pusat berkumpul teman dan saudara. Di sisi lain, kami menganggap kejadian tersebut adalah kejadian biasa. Sama seperti orang lain yang "diganggu" di rumah mereka.

Namun, justru kami yang sering mendapat slentingan dari warga sekitar. Terutama ibu dan kakak saya.

Seperti suatu saat ketika kakak sedang bermain bola bersama tetangga. Ada seseorang yang bertanya, "Di, kowe ra wedi po tinggal ning kono?" (Di, apa kamu nggak takut tinggal di situ?). Kakak saya pun menjawab, "Ora kok. Ora ono opo-opo" (Nggak kok, nggak ada apa-apa). Sepulang dari bermain bola, dia pun bertanya pada ibu, "Ma, kok temen-temen pada nanya kita takut nggak tinggal di sini? Kenapa ya?". Ibu pun tidak menjawab.

Tidak beda jauh dengan kakak, ibu sering mendapat omongan sekitar. Biasanya, omongan ini berasal dari warga (W) yang sudah turun-temurun berdomisili di daerah itu *Dialog sudah saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia

W: "Bu, nggak pernah diganggu disitu?"
I: "Nggak tuh" *Tapi bo'ong

W: "Bu, dulu disini rumah masih jarang-jarang. Terus kalau malem saya lewat di tanah rumah Ibu, ada pohon bambu yang tiba-tiba melengkung. Kayak menghalangi saya jalan"
I: "Oh iya kah? Saya nggak pernah ada apa-apa tuh tinggal disitu" *Tapi bo'ong

W: "Bu, dulu disitu kayak hutan. Banyak pohon bambunya, katanya sering buat tempat buang" *saya kurang paham, maksudnya buang makhluk halus dari tempat lain atau membuang sampah atau membuang sesuatu yang terkait mimpi saya? (Nantikan di bagian lain)
I: *diem sambil senyam-senyum

W: "Bu, dulu di tanah situ sering ada yang ngliat sapi lho"
I: "Oooo"

Banyak sebetulnya slentingan semacam itu, namun kurang lebih yang dibicarakan sama. Kami pun sering membahas di rumah dengan guyon. Ketika tidak ada yang bisa kamu lakukan, maka tertawalah. Mengurangi penderitaa ye kan? hehe.

Lanjut,

Saya akan menulis tentang kejadian yang diceritakan oleh anggota keluarga. Baik keluarga inti maupun keluarga atau kerabat yang sekedar bermalam di rumah.

Wanita bercermin
Ini cerita dari Ayah, beliau adalah anggota keluarga yang sangat jarang diganggu. Ataupun merasakan gangguan. Damai lah pokoknya.

Tapi kali ini berbeda.

Di rumah kami, tidak ada namanya pintu kamar ditutup. Semua serba terbuka. Sehingga, meja rias yang berada di kamar orang tua, terlihat dari luar.  Saat itu, malam hari. Belum terlalu malam, mungkin masih kurang dari pukul 19.00. Ayah yang keluar dari kamar mandi belakang, melintas melewati kamar beliau sebelum menuju ruang keluarga.

Beliau bercerita bahwa ketika melintas di depan kamarnya, melihat sesorang wanita berambut panjang dan berbaju putih menghadap cermin sedang menyisir rambut. Ketidaksensitifan beliau membuatnya terus melintas. Setelah duduk di ruang keluarga, baru lah terbesit pikiran, "Eh yang di lihat kan rambut panjang, di rumah ini semuanya berambut pendek"

Deg!

Kamar yang selalu membawa kesedihan
Orang tua saya sengaja membangun sebuah kamar tidur dan kamar mandi di dekat dapur. Aslinya itu diperuntukkan untuk ART, mengingat ibu saya waktu itu berwirausaha. Kami bolak-balik berganti ART. Mereka tidak pernah kerasan. Bahkan ada yang baru beberapa malam minta pulang. Guna mengatasi itu, ibu selalu mengambil dua ART sekaligus.

Alasannya minta pulang selalu sama. Sampai ibu hafal.

Sejak mereka menginap di rumah kami, para ART tersebut mendapat mimpi. Biasanya mereka didatangi oleh ibunya yang berwajah sedih dan susah. Di dalam mimpi tersebut, mereka diminta pulang. Mimpi ini datang bekali-kali bahkan ada yang setiap hari, Ssampai mereka merasa bahwa sedang terjadi sesuatu dengan ibunya. Akhirnya minta pulang.

Kami pun beranjak dewasa. Saat saya menginjak SD kelas empat atau lima, tidak ada ART lagi di rumah, sehingga kamar tersebut kosong. Sampai akhirnya, seorang kerabat yang sudah dianggap anak sendiri oleh orang tua saya ditawari untuk tidur di rumah. Dia seorang laki-laki (anggap saja namanya Mas Koko) yang memiliki pekerjaan di sekitaran UGM. Daripada bayar kos, mending mengisi kamar yang kosong itu. Dia pun menyetujuinya.

Tidak lain dari para ART. Mas Koko juga didatangi mimpi bahwa ibunya yang di luar pulau Jawa sedih dan susah. Mimpi datang berulang dan selalu memintanya pulang. Perasaaanya pun risau. Maka, Mas Koko menceritakan mimpinya ke ibu.

Ibu pun berkata bahwa semua yang menempati kamar tersebut pasti mendapat mimpi yang sama. Mas Koko pun disarankan untuk memperbanyak sholat dan mengaji. Lambat laun mimpi tersebut hilang dan syukurlah bahwa yang sebenarnya ibu dari Mas Koko tidak mengalami kejadian apa pun.

Tamu yang lari ketakutan
Suatu hari, Mas Koko meminta izin kepada orang tua saya untuk meminjam satu kamar di lantai atas. Kebetulan, kakaknya (anggap saja namanya Mas Dodo) sedang datang ke Jogja untuk satu urusan dan belum memiliki tempat tinggal. Orang tua saya pun langsung mengizinkan. Memang dari awal, tujuan dibuat kamar atas adalah untuk menampung para tamu atau siapa saja yang butuh tempat tinggal sementara. 

Kalau tidak salah kejadian ini muncul langsung saat malam pertama Mas Dodo menginap di rumah. Saya mendengar ada derap langkah kaki seperti orang lari dari lantai atas. Padahal sudah lewat tengah malam. Lalu, langkah tersebut menuruni tangga dan menuju kamar Mas Koko. Ada sedikit perbincangan dan akhirnya saya tahu bahwa yang lari adalah Mas Dodo. Ketika hari sudah pagi, Mas Dodo meminta izin pulang dan tidak lagi menginap di rumah kami.

Usut punya usut, Mas Koko bercerita bahwa semalam kakaknya tiba-tiba didatangi perempuan di tempat tidurnya. Maka dari tiu dia berlari dan menggedor kamar Mas Koko. Kapok deh.

Saya kurang tau juga perawakannya seperti apa. Sepertinya tidak jauh dari sosok yang dilihat ayah di kamar.

Kecelakaan tunggal
Saya lupa kejadiannya tahun berapa. Malam sekitar pukul 20.00, waktu itu kondisi rumah sedang ramai. Kebetulan ada saudara dari luar kota sedang bertamu ke rumah. Suara riuh ramai terdengar dari segala sudut.
Namun, tiba-tiba suara riuh itu dilenyapkan oleh suara dentuman keras yang terdengar dari luar. "Ciiiiiiiitttt, braaaaakkkk".

Kami pun langsung berlari keluar dan sontak kaget melihat apa yang ada di depan mata. Terjadi kecelakaan tunggal tepat di depan rumah kami. 

Ada sebuah mobil yang melaju ke arah utara, mendadak banting setir. Jalan yang tidak begitu lebar, mengakibatkan mobil itu masuk sebuah parit yang terletak di seberang rumah kami. Ukuran parit ini pun cukup kecil, lebarnya hanya sekitar 2,5m atau mungkin kurang dari itu. Herannya lagi, saat kami temui mobil sudah menghadap selatan. Bisa berputar 180 derajat di dalam parit yang sangat sempit.

Setelah semua kondusif dan tidak ada yang terluka, kami pun melakukan konfirmasi. Menurut sang pengemudi, dia banting setir karena kaget tiba-tiba di depan rumah kami ada sapi duduk. Kecepatan mobil sedikit laju, sehingga tak terelakkan lagi mobil yang dipacunya masuk ke dalam parit. Setelah keluar, dia baru sadar jika api yang dilihatnya tadi tidak ada.

Sepeda berjalan
Ketika adik saya masih balita, dia dibelikan sepeda roda tiga yang terbuat dari plastik. Saya masih ingat berwarna pink merk Family. Sepeda ini digunakannya hanya di dalam rumah. Mengingat rumah yang cukup besar, balita pun puas bermain sepeda di dalamnya. Kalau sedang tidak dipakai, sepeda ini biasanya dia letakkan di ruang keluarga.
Ibu pernah bercerita, namun singkat. Waktu beliau di dapur, dia melihat sepeda adik saya ini berjalan sendiri. Bukan karena angin, entah karena apa.

*Menurut Anda karena apa?


Tulisan kali ini lebih pada pengalaman anggota keluarga mendapat gangguan. Bagian selajutnya, adalah kejadian yang murni saya alami. Seperti yang saya tulis di Bagian I. Satu orang dalam dua lokasi. Apa lagi ya?? Tunggu aja deh. Mau masak dulu, hehehe.


Salam Horor Hangat,



Astri

Saturday, October 7, 2017

Satu Atap Dua Dimensi: Rumah Besar yang Kami Tempati Tenyata . . . (Bagian I)

Halo Teman-teman

Sebenarnya cerita tentang rumah ini sudah lumayan lama. Saya agak ragu-ragu antara ingin menuliskannya atau tidak. Tetapi, akhirnya saat ini saya putuskan untuk menceritakannya, hehe. Detail rumah yang dimaksud sengaja saya samarkan. Mengingat saat ini, rumah tersebut sudah menjadi sebuah lokasi usaha. Jika kebetulan pembaca artikel ini ada yang tahu rumah yang dimaksud, harap keep silent ya.

Rumah ini merupakan rumah ketiga yang kami tempati di Jogja. Setelah sempat mengontrak dua kali, orang tua saya akhirnya bisa membeli tanah dan membangun rumahnya sendiri. Seingat saya rumah ini dibangun di atas tanah seluas 450 m2. Ibu saya bercerita tanah ini dibeli sekitar tahun 1994-1995 dengan harga Rp 25.000 per m2. Namun baru kami tempati tahun 1996.

Letaknya di Jogja bagian utara. Jika pernah kongkow di Cafe Brick, nah tidak jauh lah dari situ. Desain rumahnya menurut saya cukup artistik, dibuat oleh seorang arsitek kenalan ibu. Terdiri dari satu rumah induk berlantai dua dan satu paviliun yang dibangun khusus untuk almarhumah eyang.

Rumah ini cukup besar. Rumah induk terdiri dari enam kamar tidur. Saya sempat menempati kamar bagian depan dan belakang. Di rumah ini, setiap sudut mempunyai cerita.. Bahkan, sampai kepindahan kami di tahun 2009.

Banyak sekali kisah di dalamnya, sehingga saya tulis satu-satu sambil mengingat. Kejadiannya acak, se-acak ingatan saya, hahaha.

Pertama "Berkenalan"
Siang hari yang panas tahun 1998, saya sedang sendiri di rumah. Tiduran di sofa ruang keluarga sembari menonton TV. Awalnya biasa saja sih. Sampai tiba-tiba dari belakang kepala saya terdengar suara seperti orang yang sedang flu dan berusaha menarik (maaf) ingus di hidungnya. Satu kali terdengar, saya masih belum peduli. Ketika kali kedua suara ini terdengar, saya mulai berpikir, "Lah ini suara siapa?". Mulai saat itu nafas itu semakin keras dan intens. Kaki saya berasa kaku karena bingung antara ingin menetap atau lari. Akhirnya saya putuskan untuk menetap dan menutup mata. Suara itu tetap tidak berhenti. Sampai akhirnya ada suara klakson mobil dari luar. Ibu akhirnya pulang. Suara itu berhenti dan seingat saya, ini pertama kali saya merasakan kehadiranya.

*Sebentar-sebentar, satu poin ini selesai ditulis laptop saya mendadak mati. Padahal batrei full, Hahaha. Duh, no more deh!!*

Ketukan Tengah Malam
Awal kami pindah, saya masih satu kamar dengan kakak lelaki saya. Di kamar paling belakang, dekat dengan area cuci pakaian. Namun, tahun 1997 saya meminta untuk pisah kamar. Akhirnya, ruang belajar yang berada di dekat ruang makan, disulap menjadi kamar baru. Senang sekali rasanya, memiliki kamar sendiri. Saya pun jadi rajin menulis diary, hahaha.

Mulanya senang sekali tidur sendiri di kamar. Sampai suatu malam, teror dimulai. 

Sejak kecil, saya sering mengalami gangguan tidur. Se-lelah apapun saya, baru bisa tertidur lewat tengah malam. Sebelum tidur saya habiskan untuk mengerjakan PR, menulis diary, menggambar, atau crafting. Malam itu, saya mulai menarik selimut dan mencoba tidur. Karena susah tertidur, maka harus selalu ada ritual guling-guling sambil memejamkan mata. Berharap segera tidur. Ketika sudah terlelap beberapa menit, tiba-tiba, "Dok dok dok dok". Ketukan keras terdengar dari jendela (FYI, jendela ini langsung mengarah ke halaman depan). Saya pun batal terlelap. Memandang jendela dengan keringat sebiji jagung di kepala. Saya pun menarik selimut sembari melafalkan ayat kursi. Lama-kelamaan suara pun hilang. Pelan-pelan saya buka selimut dan "Dok dok dok dok", suara itu kembali terdengar. Lagi-lagi saya kembali bersembunyi dalam selimut dan bersumpah tidak membukanya sampai pagi.

Derap Langkah
Masih di kamar yang sama, namun dengan suara yang berbeda. Kejadiannya pun juga tengah malam. Saya tetap belum bisa tertidur. Lalu, dari arah ruang keluarga atau ruang makan terdengar derap langkah. Seperti langkah ibu yang selalu memakai sandal di dalam rumah. Jalan mondar-mandir.

Setelah beberapa kali terjadi, saya pun bercerita kepada ibu. Dan ya ternyata, beliau juga mengalaminya. Akhirnya sata tahu, seluruh anggota keluarga pernah mengalaminya. Tapi kok diam saja, hahaha. Dianggap kejadian bisa, maka dari itu saya pun tetap menempati kamar yang sama.

Suara jangkrik
Sebenarnya ini kejadian yang terjadi belakangan. Mungkin sekitar tahun 2007 atau 2008. Ketika itu, saya sudah pindah ke kamar belakang, kakak saya pindah ke kamar atas, dan kamar depan ditempati oleh adik.

Salah satu saudara ada yang pulang dari haji dan memberikan oleh-oleh. Saat itu, adik saya masih SD sehingga diberi mainan yang dibeli di Arab Saudi. Bentuknya seperti kacang. Jika dibuka, di dalamnya terdapat dua jangkrik dan akan berbunyi "krik krik krik". Suara jangkrik akan berhenti jika kacang kembali ditutup. Mainan itu selalu ditempatkannya di kamar.

Suatu siang, kami sedang berada di ruang keluarga. Lalu ada suara, "krik krik krik" dari dalam kamar adik. Kami pun saling pandang. Jika mainan itu kesenggol dan menutup, masih wajar. Kalau tiba-tiba ada suara artinya mainan itu terbuka sendiri dong ya? Terus yang buka siapa? Masih menjadi teka-teki sampai sekarang.

Tamu tak tampak
Saya lupa kejadiannya tahun berapa. Suatu sore menjelang adzan maghrib. terdengar suara bel ditekan. "Ting Tong Assalamualaikum, Ting tong Assalamualaikum". Begitulah bel rumah kami berbunyi.
Saat itu, saya berada di ruang tengah. Tidak ingat mengapa saya sendiri di situ. Sebelum bel berhenti berbunyi, saya segera berlari menuju pintu. Seperti biasa, saya mengintip dari kaca patri yang letaknya di sebelah pintu. Tidak ada siapa-siapa. Saya pun membukanya. Betul ternyata, tidak ada seorang pun di luar. Saya pun tengak-tengok di jalan. Sepanjang mata memandang, tidak ada satu orang pun yang melintas.

Telpon itu dari siapa?
Kalau tidak salah ingat, ini terjadi malam hari. Sekitar pukul 19.00 WIB. Seluruh anggota keluarga sedang di rumah. Lalu terdengar dering telepon "Kriiiing kriiing". Saya duduk bersebelahan dengan pesawat telepon, maka otomatis saya yang mengangkat. Terjadilah percakapan ini. Saya (A) dan orang di seberang telepon (B)

A: "Halo Assalamualaikum"
B: "Selamat malam"
A: "Selamat malam, mau cari siapa ya?"
B: " Bisa bicara dengan Mbak XXX?" *mencari eyang yang dia sebut dengan panggilan Mbak
A: "Oh eyang ada di nomor satunya. Ditelpon aja di XXX" *saya menyebutkan nomor telepon paviliun
B: "Oh gitu. Baik Terima kasih"
*tut tut tut tut"

Ada perasaan penasaran dalam benak saya. Saya pun bergegas ke paviliun. Konfirmasi ke eyang (E) tentang telepon ini.

A: "Yang, tadi ada telpon?"
E: "Ora ki, seko sopo emange?" (Enggak tuh, dari siapa emangnya?)
A: "Oh ya udah, nggak tau dari siapa. Lupa nanya, makanya kesini mau nanya"

Sebenarnya saya sudah tahu telepon dari siapa. Ada tiga ciri yang mengarah ke seseorang. Pertama, bahasa yang digunakan baku, tertata, dan sangat sopan. Kedua, memanggil eyang dengan sebutan "Mbak". Ketiga, suara parau menandakan usianya yang sudah lanjut.

Sekembalinya dari paviliun, saya langsung menuju ke dapur. Menceritakan ke ibu tentang kejadian ini. Ciri-ciri pun saya sebutkan. Ternyata ibu sepaham dengan saya.

Suara itu berasal dari seorang kerabat yang belum lama meninggal dunia.



Si Balita sudah menampakkan energinya. Saya sudahi dulu ya.

Masih banyak cerita lainnya. Ada yang mirip dengan film The Conjuring juga. Bagaimana bisa satu orang ada di dua tempat? Bahkan hingga kami mengusahakan sebuah ritual hanya untuk  bisa pindah rumah.




Salam horor Hangat,




Astri