Setelah materi BunSay ini, saya menjadi sangat yakin. Bahwasannya kegagalan ikhtiar komunikasi produktif saya ada pada pendeknya batas kesabaran saya. Dari kecil saya menyadari bahwa sesuatu yang tidak berjalan baik maka akan mengacaukan satu hari penuh. Misa ketika saya masih duduk di bangkh kuliah. Pagi saya awali dengan sangat teratur dan rapi. Semua tugas sudah dikerjakan, pakaian sudah disetrika, dan kamar sudah tertata. Saya anggap itu sempurna bagi seorang gadis. Ketika berkendara menuju kampus, ada orang yang membunyikan klakson keras-keras. Entah karena memang saya salah atau memang dia yang sedang terburu-buru,tetap saja hal ini membuat saya menilai bahwa hari ini sudah tidak bisa sempurna. Di otak saya tergambar kata “sempurna” yang ditimpa garis tebal. Sempurna coret, istilahnya.
Ternyata, kebiasaan saya ini tidak baik dipertahankan ketika haris mengasuh anak secara penuh dan sebagian besar dilakukan sendirian. Karena mau sampai kapan saya harus marah-marah dan mengeluh jika memang dunia ini Indah justru karena pengertian kita terhadap ketidaksempurnaan. Iya kan? Maka demi membiasakan komunikasi produktif, saya harus menekan standar sempurna bagi diri saya sendiri. Agar skala kesabaran saya bisa memanjang. Efeknya, tidak lagi mudah terpancing emosi.
Nah! Hari ini Sabtu tanggal 8 September 2018 dari awal saya sudah menawarkan kegiatan apa yang ingin dijalankan oleh Azka. Di sisi lain saya juga menyampaikan kegiatan yang harus saya selesaikan. Seperti mencuci piring, membersihkan rumah, dan menjemur baju di halaman belakang. Biasanya kami menjemur baji di teras depan. Hanya saja, jemuran di tempat itu penuh. Sehingga harus menumpang sejenak di jemuran pemilik kontrakan supaya sprei berlembar-lembar yang saya cuci sejak pagi bisa kering.
Azka menyampaikan bahwa ingin mandi lalu sarapan kemudian main. Mandi dan sarapan telah terlewati. Walaupun nafsu makannya belum juga kunjung datang. Sedih. Lalu, Azka mengajak saya ke kamarnya. Saya berinisiatif membawa beberapa majalah Bobo dan Mombi. Meskipun majalah ini sudah ada sejak tahun lalu, namun masih banyak aktivitas yang belum dikerjakan. Maka saya simpan. Menunggu sampai Azka meminta sendiri untuk mengerjakannya. Pagi ini, dengan mood terjaga dan kesadaran bahwa saya haris menahan emosi membawa keberhasilan dalam menemani Azka mengerjakan berlembar-lembar aktivitas. Di sela-sela menulis, saya berdongeng. Azka terlihat sangat senang.
Siang harinya, ketika matahari sangat terik saya mulai menjemur di halaman belakang. Azka yang tidak bisa membantu karena kabel jemuran yang sangat tinggi, memilih untuk bermain-main di pasir. Dia membawa ekskavator andalannya dan juga hotwheels Silverado favoritnya. Bermain mengangkut pasir tanpa rewel meminta perhatian saya. Mungkin dia tahu, bahwa saya yang ada di sampingnya ikut memperhatikan imajinasi serunya. Setelah saya selesai menjemur, saya hanya menemaninya main tanah sembari membaca buku.
“Mami, ayo buat rumah-rumahan”
“Dari apa?”
“Dari batu bata”
Dalam hati saya berkata, “Oke, hari ini jatahnya Azka memimpin permainan tanpa intervensi dan interupsi.”
Dimulailah aktivitas membangun rumah-rumahan dari batu bata sesuai dengan perintahnya. Masing-masing dari kami mengangkut batu bata dark halaman belakang menuju tangga yang bersandingan dengan pintu belakang rumah. Semua tatanan batu bata Azka yang mengatur. Tidak ada intervensi dari saya. Dia pun mulai menjelaskan yang mana atap, yang mana kamar, dan yang mana garasi. Lengkap.
Selesai bermain, saya memintanya untuk mengembalikan batu bata ke tempat semula. ya, meskipun mengembalikannya tidak sempurna, tapi belasan batu bata diangkutnya ke tempat semula.
No comments:
Post a Comment