Qadarullah hari ini sakit yang saya kira sudah sembuh ternyata makin menjadi. Radang tenggorokan. Sakit sepele memang, tetapi efeknya luar biasa. Menelan susah, berbicara pun sama susahnya. Namun, apakah ini yang dinamakan tantangan? Ketika titik terlemah saya ada pada emosi dan Allah seketika memberi saya rasa sakit ketika berbicara.
Sedikit bercerita. Saya memiliki ayah yang terbiasa jika mengungkapkan rasa marahnya dengan panjang dan lebar. Bahasa kasarnya “ngomel-ngomel”. Saya tidak tahu pasti perasaan beliau bagaimana. Yang saya tahu sebagai pendengar tentunya saya merasa risih. Dua jam. Tiga jam. Bahkan berhari-hari satu topik bisa dibahas. Nah, masalahnya adalah saya menyadari bahwa saya tidak jauh dari beliau. Sehingga setelah menikah, saya selalu ingat untuk tidak memperpanjang rasa amarah. Sulitnya bukan main. Apalagi setelah memiliki anak. Terkadang sifat jelek ini keluar lagi dan saya harus segera sadar untuk menghentikannya. Semoga momen BunSay ini membuat niat saya untuk berubah menjadi sebuah kebiasaan yang tak lagi pudar hingga akhir hayat.
Azka hari ini bangun lebih lagi. Sebelum adzan subuh. Artinya, dia jelas tidak mau ketinggalan untuk ikut papinya shalat berjamaah di masjid. Saya kira, dia akan mengantuk lagi. Mengingat semalamnya pun baru terlelap pukul 22.00. Namun, kenyataan berkata lain. Azka justru bangun seharian dan melalaikan tidur siangnya.
Keterbatasan saya dalam berbicara membuatnya makin aktif dalam mencari perhatian. Eksperimen kesana-kemari. Menggaruk-garuk gabus dengan pinset menghasilkan serpihan serupa salju. Menghambur di sekitaran kasur dan semua pasti tahu kan bagaimana sulitnya membersihkan kekacauan ini? Toples makanan dibersihkan di kamar mandi. Tidak hanya bersih. Dia membawa toples keluar dengan bangga karena di dalamnya sudah ada pengharum ruangan. Memasukkan banyak benda padat ke dalam mesin cuci dan mencoba memutarnya. Percayalah, suaranya mirip ledakan. Dan sebagainya.
Satu-satunya cara adalah “membiarkannya”. Mau bagaimana lagi. Tenggorokan sakit bukan main. Andalan saya hanyalah tangan dan kepala. Menggeleng untuk melarang dan mengacungkan jempol untuk memuji. Alhamdulillah akhirnya hari ini bisa dilewati tanpa tantrum (kejadian yang sering terjadi akhir-akhir ini). Walaupun hampir sempat terpancing emosi sekitar pukul 15.00. Sakit pada tenggorokan mengingatkan saya untuk tidak marah. Batal niat saya untuk marah panjang-panjang. Toh tidak akan berguna.
No comments:
Post a Comment