Tuesday, September 25, 2018

Aliran Rasa Game Level 1 Bunda Sayang (Komunikasi Produktif)

Bismilahirrohmanirrohim,

Bagi saya yang baru sekali mengikuti kelas Bunda Sayang, menjalani game level 1 ini rasanya campur aduk. Terutama dalam hal aturan pengerjaan tugas. Awalnya saya bingung dengan sistemnya. Namun lama-kelamaan asik juga.

Mengerjakan tugas Bunda Sayang ternyata rasanya seperti menulis buku harian. Kalau ada rasa sebel, bisa segera redam karena hal yang membuat mengganjal tumpah semua di tulisan. Selebihnya saya rasa semua tulisan yang dikumpulkan bisa difungsikan sebagai memoar diri. Suatu hari nanti bisa menjadi memori yang mungkin membuat senyum-senyum sendiri. Saya jadi teringat lagu milik Tulus yang berjudul Monokrom.
"Lembaran foto hitam putih. Aku coba ingat lagi warna bajumu kala itu. Kali pertama dihidupku. Manusia lain memelukku.
Lembaran foto hitam putih. Aku coba ingat lagi wangi rumah di sore itu. Kue cokelat balon warna-warni. Pesta hari ulang tahunku."

Mungkin ketika saya kembali membuat tulisan yang saya buat, saya jadi teringat suasana rumah kala itu. Suasana kejar-kejaran menulis tugas karena kuatir Azka segera bangun dari tidur siangnya. Suasana ketika dalam waktu bersamaan ada tugas diklat pengurus IP yang harus dituntaskan. Celoteh batin yang terus mengingatkan bahwa sekarang sedang berlangsung tnatangan.

Untuk itu meskipun saya mengumpulkan tugas dengan link dari Gdocs, namun semua tulisan itu juga saya salin ke blog ini. Selain bertujuan mengukir keabadian, saya berharap tulisan saya bermanfaat bagi banyak orang.

Untuk komunikasi produktif sendiri, saya menganggapnya sebagai alarm ketika emosi. Ketika lelah melanda dan semua orang seperti membuat ulah, hati saya berdering, "Hayo! Komunikasi produktif lho!" Akhirnya tidak jadi marah-marah dengan panjang dan lebar. Ketika ingin berbincang dengan suami, alarm saya kembali berdering, "Hayo! Ingat komunikasi produktif!" Sehingga saya menunda membanjiri suami dengan kalimat bertubi-tubi apabila saya melihatnya lelah setelah seharian penuh bekerja.

Semangat terus untuk game level selanjutnya! Saya mohon didoakan ya :)

Monday, September 17, 2018

Es Krim Stoberi

"Good..."

"Hah?" aku tak mengerti dengan kalimatnya yang menggantung itu. Kuarahkan pandangannku padanya. Meminta konfirmasi. Sementara lidahku masih asik menjilat es krim stroberi yang baru saja dibelikan olehnya.

"Good to see you smiling."

"Hahaha...bahkan sekarang aku bisa tertawa," aku tertawa dengan penuh semangat. Sampai-sampai hidungku menyentuh ujung es krim yang sedang kunikmati. Mukaku pasti mirip badut.

"Kamu cantik kalau ceria. Ayolah...dunia tidak sekejam itu."

Aku terhenyak. Sejauh itukah dia memikirkan diriku? Kali ini aku hanya mengangguk-angguk sembari menatap matanya yang teduh. "Iya. Aku tahu," jawabku.

"Dari semua kisah hidupmu yang berat itu, semua pasti ada jalan keluarnya. Lagipula, ada aku."

"Hah?" lagi-lagi aku meminta konfirmasi darinya.

"Iya, ada aku. Ada aku yang bebas kamu ajak ke dalam badai hidupmu itu," katanya sembari merengkuh tangan kiriku yang dia bawa menuju dadanya yang bidang.

Es krimku mulai meleleh. Yeah, sebelas-dua belas lah dengan hatiku.

Saturday, September 15, 2018

Komunikasi Produktif Hari Ke-10

Sepertinya tanggal 13 September 2018 ini diawali pagi yang bisa disebut dengan kegagalan dalam komunikasi produktif. Mengapa? Karena saya terpancing emosi. Sebetulnya hari ini adalah jatah libur bagi suami. Artinya, Azka dan papinya bisa bermain bersama seharian penuh.

Biasanya, ketika hari libur tiba maka kami akan membersihkan rumah bersama. Atau, yah tetap saya sendiri yang membersihkan namun bebas tanpa gangguan. Terkadang saya juga menyanggupi masak menu rumit di hari-hari ini. Intinya, saya bisa mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga tanpa harus ada yang menarik-narik ujung baju. Pagi ini terasa berbeda. Azka dan papinya bermain di semua sudut dan meninggalkan kekacauan yang sulit saya toleransi. Dan sepertinya bagi mereka, kekacauan ini terasa biasa saja.

Contohnya, ketika Azka saya minta mandi. Dia menolak ditemani papinya. Baiklah, seperti biasa. Saya yang melakukannya. Tapi mengapa saat keluar kamar mandi, tidak ada satu pun barang yang kembali ke tempat semula. Suami saya hanya duduk-duduk dan seperti saya katakan sebelumnya. Kekacauan ini tidak masalah bagi dirinya. Begitu pula Azka. Masalah ini hanya milik saya sendiri.

Awalnya memang saya pendam. Mengingat menekan emosi adalah PR bagi saya. Namun, lama-lama saya mulai menebarkan amarah dengan mengatakan, “Duh kenapa sih, di sini berantakan. Di sana berantakan. Belum dibereskan yang sini, di sana sudah kacau.” Sebuah kalimat yang entah pangkalnya berada di mana, sehingga maksudnya pun sulit dijangkau. Sulit untuk papinya, apalagi anaknya yang masih balita.

Saya sedikit melirik suami. Dia tak menyadari lirikan saya. Saya merasa dia sedikit berpikir dan sepertinya dalam hatinya berkata, “Iya deh nanti dibantuin. Gitu aja pake marah-marah.”

“Mami marah?” kata Azka.

“Iya.”

“Nanti kita bersihkan ya,” suami saya ambil suara.

Setelah itu kami pergi ke minimarket yang tak jauh dari rumah. Sebelumnya, kami mampir sebentar ke ATM. Saya rasakan gejala sakit lambung. Deg! Bukan, ini bukan sakit lambung biasa. Ini gejala penyakit hati!

Saya tertekan karena saya punya masalah. Masalahnya adalah masalah saya bukan masalah bagi orang lain. Dan orang lain itu adalah keluarga saya. Orang terdekat saya. Saya makin tertekan. Namun…sejenak saya melakukan analogi-analogi.

Ini seperti kita sedang berada di sebuah pasar. Semua orang bergembira dan tertawa meskipun bau, berisik, becek, dan kotor. Lalu, kita datang membawa pemikiran bahwa pasar adalah mall yang bersih, dingin, diiringi musik, dan harum. Kita mengeluh. Mengapa pasar tidak seperti mall. Mengapa pasar harus berbau? Padahal mall bisa harum. Mengapa pasar becek? Padahal lantai mall selalu bisa bersih dan mengkilat. Dan sebagainya.

Apakah tempatnya salah? Apakah orang yang tertawa dan bergembira itu aneh? Jawabannya pastilah tidak. Kita menempatkan raga di tempat yang jauh dari pemikiran. Pikiran kita saja yang tidak berpadu dengan raga. Menghasilkan kekecewaan karena merasa apa yang dilihat tidaklah seharusnya.
Itulah yang saya renungkan selama perjalan pulang. Di atas motor sembari membawa galon Aqua. Mungkin saya memang butuh Aqua.

Sebelum motor tepat masuk ke dalam garasi, sakit lambung saya mereda. Saya paham, bahwa tidak mengapa sedikit bersantai dengan rumah yang berantakan. Toh suami sedang liburan dan tidak ada satupun protes keluar dari lisannya. Azka pun sedang bahagia menikmati waktu dengan papinya, yang sehari-hari selalu sibuk bekerja.

Muka saya lebih ceria. Dan saya turun tangan membereskan kekacauan. Namun, baru saja tangan ini akan memungut mainan dari lantai. Sudah ada suami yang lebih dulu membereskan. Semuanya. Ah senangnya.

Mengapa tadi saya harus marah-marah? 


Komunikasi Produktif Hari Ke-9

“Mami, mainan kota salju lagi yok,” kata Azka sembari menarik-narik tangan saya. Ini masih pukul 06.15. Sarapan untuk dirinya pun belum terhidang. Masa rumah sudah mau berantakan?

Pagi ini komunikasi produktif saya hampir gagal. Intonasi saya hampir meninggi. Hampir. Kalau saja benak saya tidak berbisik, “Hayo lagi BunSay.” Pasti saya sudah gagal betulan.

Ketika Azka menarik-narik saya itu bukan masalah. Namun masalahnya adalah jika sepagi itu rumah sudah berantakan, lantas siang hari nanti akan seperti apa?
Akhirnya, saya turuti permintaannya bermain kota salju dengan satu syarat. “Nanti Azka yang bereskan gabusnya ya.”

“Iya.”

Saya memasak sarapan sembari bolak-balik ke ruang tamu karena di sanalah Azka menumpahkan imajinasinya. Termasuk menumpahkan dua toples remah-remah gabus yang digunakannya sebagai tiruan salju. Bayangkan itu. Remahan gabus tentunya sangat ringan. Hembusan angin yang halus, sudah cukup membuatnya menyebar kemana-mana.

“Ayok! Sebelum makan, saljunya sudah dimasukkan toples ya.”

Ketika memasak, sedikit saya melirik ke belakang. Azka benar-benar memasukkan gabus ke tempatnya semula. Dia berlagak seperti ekskavator yang sedang memasukkan lumpur ke dalam dump truck.

“Sudah, Mi,” katanya sambil menunjukkan salah satu toples yang sudah separuh terisi.

“Belum itu. Tadi sebelum main kan penuh, sekarang dipenuhin lagi dong.”

Tanpa menjawab, dia meneruskan kerjanya. Alhamdulillah. Walaupun akhirnya saya turun tangan juga, namun Azka tidak langsung kabur. Dia tetap ikut membersihkan remahan gabus dengan ruas-ruas jarinya yang masih kecil.

Setelah itu, kami sarapan bersama. Semua berjalan menyenangkan. Tidak ada anak yang tantrum dan ibu yang emosi. Ketika matahari mulai sangat terik Azka berkata, “Ayo, Mi. Kita ke kebun cari ulat.”

“Hayo lagi BunSay,” sekali lagi benak saya berbisik.

Komunikasi Produktif Hari Ke-8

Hari ini tanggal 11 September 2018. Di saat yang lain merasakan hari libur atau malah libur akhir pekan super panjang, lain halnya dengan kami. Suami tidak libur dan seperti biasa saya hanya berdua dengan Azka.

Sama seperti kemarin, Azka terbangun ketika adzan subuh berkumandang. Dia langsung berteriak minta diajak ke masjid. Satu hal yang saya lihat perubahannya sekitar satu bulang belakangan. Azka selalu bisa terbangun dengan adzan dan dia seperti geragapan ketika bangun karena was-was sudah ditinggal ke masjid oleh papinya. Syukurlah hari ini ayah dan anak bisa bersama menuju masjid.

Sakit radang tenggorokan saya mulai membaik sejak memutuskan menemui dokter semalamnya. Setelah satu minggu bertahan mengusir penyakit dengan apa yang ada. Gagal. Harusnya dari dulu saja ya ke dokternya. Satu lagi masalah saya. Untuk penyakit, saya sering menganggap enteng. Seperti beberapa tahun lalu, saya sadar telinga sakit. Seperti berdengung dan ditekan kuat-kuat. Saya anggap itu hanyalah sakit biasa. Ternyata, saluran di telinga saya ada yg menutup. Untung bisa diobati dengan rawat jalan. “Dicoba obat ini dulu ya, kalau belum membaik harus operasi,” kata dokter sembari menulis resep. Tanpa memandang saya sama sekali. Saya juga tidak memandang beliau sebenarnya. Lebih tertarik dengan lampu yang melingkar di kepalanya. Mengingatkan tentang susur gua yang tidak pernah jadi.

Penyakit yang telah membaik, memudahkan saya untuk berkomunikasi dengan Azka. Yang harus selalu saya ingat bahwa emosi tidak menyelesaikan masalah. Pilih bahasa yang tepat. Tekan intonasi ke tempat yang seharusnya. Atur bahasa tubuh yang menarik serupa badut di pesta ulang tahun. Sisanya? Bersenang-senang.

Menjaga mood Azka adalah yang utama. Namun, ada hal yang sebenarnya lebih utama yaitu menjaga mood diri sendiri. Bagaimana kita bisa membahagiakan orang lain, sedangkan kita tidak berbahagia. Sebaliknya. Jika kita sudah bahagia, maka kebahagiaan itu sebenarnya sudah menjalar dengan sendirinya ke orang-orang di sekitar kita. Komunikasi produktif yang saya ceritakan hari ini berpusat pada diri saya sendiri.

Saya mengatur mood hari ini dengan memasak makan malam sesuai jadwal menu yang sudah saya susun. Balado terong yang baru saja dipetik dari kebun tetangga. Lauknya simple. Sate bakso. Berhubung bumbu halus selalu tersedia, sehingga tugas saya hari ini tinggal meracik. Tidak lebih dari lima menit, semua beres.

Alhasil, saya dan Azka bisa bermain kota salju. Dengan ruang tamu yang masih berserakan butiran gabus, kami pindah ke kamar Azka. Bernyanyi dan menari. Tertawa bersama. Hingga tiba waktu makan siang.

Sembari memasak makan siang, Azka bermain di halaman belakang. Dia menemukan seekor burung terluka. Dengan inisiatif sebisanya, dia menyelamatkan hewan malang itu. Diberinya makan pisang. 

“Kok nggak mau ya, Mi?” keluhnya.

“Coba ini ada beras,” kata saya sembari mengulurkan segenggam beras ke tangannya.

“Nggak mau juga, Mi.”

“Coba nanti Mami lihat setelah selesai masak ya.” Azka setuju. Tanpa reaksi perlawanan. Mood kami berdua terjaga. Itu alasannya kami bisa dengan mudah bekerja sama.

Ternyata betul adanya. Lelah adalah sumber masalah. Jika sudah lelah, seluruh teori komunikasi yang telah dipelajari bisa menguap di telan bumi. Tidak heran banyak orang yang terpancing emosi selepas pulang bekerja. Karena apa? Karena dia lelah. Terkadang di saat itu, seseorang merasa bahwa harus ada yang disalahkan. Malangnya, anak-anak berada di posisi terlemah. Menjadi objek sasaran kemarahan. Padahal sebenarnya, kita saja yang tidak tahu bagaimana cara mengusir lelah.

Satu lagi tugas untuk diri saya. Menjaga diri dan hati dari lelah. Jika mencuci piring adalah pekerjaan yang menguras waktu, maka masak menu sederhana dengan peralatan yang bisa digunakan berulang-ulang sebelum dicuci. Jika waktu sudah mepet dan belum terhidang makanan, ya beli saja. In sya Allah diberi Allah rizki untuk membelinya. Jika rumah berantakan, tentukan waktu pembersihannya. Jika baju basah belum dijemur, maka jemur saja malam harinya. Ketika anak sudah we time dengan ayahnya. Kata orang bijak, “hidup ini sederhana, samapai kita membuatnya menjadi rumit.”

Memang benar. Kebahagiaan ibu itu penting. Keluarga yang bahagia dimulai dari ibu yang bahagia, bukan?

Komunikasi Produktif Hari Ke-7

Qadarullah hari ini sakit yang saya kira sudah sembuh ternyata makin menjadi. Radang tenggorokan. Sakit sepele memang, tetapi efeknya luar biasa. Menelan susah, berbicara pun sama susahnya. Namun, apakah ini yang dinamakan tantangan? Ketika titik terlemah saya ada pada emosi dan Allah seketika memberi saya rasa sakit ketika berbicara.

Sedikit bercerita. Saya memiliki ayah yang terbiasa jika mengungkapkan rasa marahnya dengan panjang dan lebar. Bahasa kasarnya “ngomel-ngomel”. Saya tidak tahu pasti perasaan beliau bagaimana. Yang saya tahu sebagai pendengar tentunya saya merasa risih. Dua jam. Tiga jam. Bahkan berhari-hari satu topik bisa dibahas. Nah, masalahnya adalah saya menyadari bahwa saya tidak jauh dari beliau. Sehingga setelah menikah, saya selalu ingat untuk tidak memperpanjang rasa amarah. Sulitnya bukan main. Apalagi setelah memiliki anak. Terkadang sifat jelek ini keluar lagi dan saya harus segera sadar untuk menghentikannya. Semoga momen BunSay ini membuat niat saya untuk berubah menjadi sebuah kebiasaan yang tak lagi pudar hingga akhir hayat.

Azka hari ini bangun lebih lagi. Sebelum adzan subuh. Artinya, dia jelas tidak mau ketinggalan untuk ikut papinya shalat berjamaah di masjid. Saya kira, dia akan mengantuk lagi. Mengingat semalamnya pun baru terlelap pukul 22.00. Namun, kenyataan berkata lain. Azka justru bangun seharian dan melalaikan tidur siangnya.

Keterbatasan saya dalam berbicara membuatnya makin aktif dalam mencari perhatian. Eksperimen kesana-kemari. Menggaruk-garuk gabus dengan pinset menghasilkan serpihan serupa salju. Menghambur di sekitaran kasur dan semua pasti tahu kan bagaimana sulitnya membersihkan kekacauan ini? Toples makanan dibersihkan di kamar mandi. Tidak hanya bersih. Dia membawa toples keluar dengan bangga karena di dalamnya sudah ada pengharum ruangan. Memasukkan banyak benda padat ke dalam mesin cuci dan mencoba memutarnya. Percayalah, suaranya mirip ledakan. Dan sebagainya.

Satu-satunya cara adalah “membiarkannya”. Mau bagaimana lagi. Tenggorokan sakit bukan main. Andalan saya hanyalah tangan dan kepala. Menggeleng untuk melarang dan mengacungkan jempol untuk memuji. Alhamdulillah akhirnya hari ini bisa dilewati tanpa tantrum (kejadian yang sering terjadi akhir-akhir ini). Walaupun hampir sempat terpancing emosi sekitar pukul 15.00.  Sakit pada tenggorokan mengingatkan saya untuk tidak marah. Batal niat saya untuk marah panjang-panjang. Toh tidak akan berguna.

Komunikasi Produktif Hari Ke-6

Kalau boleh menamai hari ini dengan satu kalimat, maka tanggal 9 September 2018 ini akan saya namakan dengan “Hari harap sabar ini cobaan” mengapa? Karena kesabaran saya seakan diuji seiring dengan tantangan komunikasi produktif di kelas BunSay.

Awalnya, pagi ini terasa seperti biasa. Azka bangun pagi sekitar pukul 05.45 WITA. Lalu beraktivitas seperti biasa. Hanya saja tumben sekali dia meminta dibikinkan permainan yang dulu pernah saya buatkan namun saya buang karena sudah lusuh.

Azka meminta dibuatkan gambar pohon lengkap dengan buah apel yang bisa dipetik, lalu dimasukkan dalam gerobak Pak Tani. Gayung bersambut, saya mengiyakan.

Permainan ini hanya terbuat dari kertas hvs bekas dan sampul majalah bekas. Kertas hvs putih ditempelkan ke kertas sampul majalah agar tebal, lalu digambar pohon dan diwarnai layaknya sungguhan. Kemudian di beberapa titik dedaunan, saya lubangi untuk dimasukkan sedotan yang sudah dipotong-potong dan direkatkan menggunakan selotip di sebaliknya. Dengan sisa kertas sampul majalah, saya membuat gambar apel yang ranum merah sekali. Seperti sudah sangat siap panen. Saya juga menggunakan kertas amplop bekas untuk membuat bentuk gerobak pertanian.

Dulu, ketika permainan serupa ini saya buat tujuannya adalah untuk melatih motorik halus. Caranya dengan meminta Azka memasang atau melepas apel dari sedotan. Lubang yang saya buat di gambar apel tidak lah terlalu besar. Sehingga membutuhkan usaha khusus baginya untuk memasang dan melepas. Cara lain adalah dengan memasukkan apel yang sudah dipanen ke dalam gerobak pertanian.
Sekarang, saya ada ide lain. Apel tersebut saya buat sepuluh buah. Masing-masing apel saya tulis huruf alfabet “kecil”. Azka sudah sangat lancar membaca huruf kapital. Namun, untuk huruf “kecil” masih banyak yang terlewat. Maka dengan permainan ini, saya meminta Azka untuk memanen apel dan memasukkannya ke gerobak yang memiliki huruf yang sama.

Membuat permainan dadakan dengan bahan seadanya membutuhkan waktu. Memang saya sudah tidak melihat kesempurnaan. Namun rasanya bagi Azka menunggu saya mungkin serasa seribu tahun lamanya. Sembari menunggu, dia membuka semua barang-barang yang terlihat seperti terbungkus. “Unboxing!” katanya. Sabar pertama.

Kemudian, hati saya sedikit lega karena Azka mendadak mau turun tangan dan ikut mewarnai. Di tengah kesibukannya mewarnai dengan pantat yang tidak bisa menyentuh lantai, alias gerak kesana-kemari. Gelas berisi air sebagai perlengkapan mewarnai pun tumpah tersenggol lututnya. Sabar kedua.

Melihat hal itu, saya memintanya dengan halus untuk mengambilkan kain pel. Otak saya sudah sadar bahwa saya harus lulus tantangan komunikasi produktif. Mau tidak mau harus menekan emosi. Karena disitulah letak kelemahan saya. Mungkin karena output diri saya yang tidak terbawa emosi, menyebabkan Azka mau mengerjakan permintaan saya. Langsung!

Belum selesai air dibersihkan, dibukanya semua penutup sofa yang bahan kainnya seperti sprei. Padahal sofa kami berat bukan main. Terdiri dari beberapa busa pula. Tapi Azka berhasil mencopotnya. Semua! Ya Allah. Belum tepat pukul 11.00 pagi saya sudah mendapat sabar ketiga.

Daripada marah maka saya berpikir, mungkin ini saatnya mencuci penutup sofa setelah lama terundur. Alhamdulillah, tapi sambil elus-elus dada.

Jam sudah lewat dari pukul 11.00 namun saya belum menyiapkan makan siang dan malam. Bergegas lah. Menggunakan celemek, mengeluarkan seluruh amunisi. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk membuat semuanya menjadi siap dihidangkan. Seiring sejalan, tak lama juga bagi Azka untuk menumpahkan air karena dia sedang berusaha memasukkan air ke dalam botol. Sabar keempat ya, Saudara-Saudara.

Sebelum makan, saya meminta Azka untuk BAK namun berakhir dengan tantrum. Lamaaaaa sekali. Teriak-teriak, menjerit, berguling-guling di kasur, dan menolak memakai baju sendiri. Karena ini sudah sabar kelima dan takutnya saya gagal, maka disela tantrumnya saya langsung sholat.
Setelah sholat berjalan lancar. Hati sudah lebih dingin. Azka sudah mau memakai bajunya sendiri dan menghabiskan makanannya. Lalu, saya terasa ini hari pertama saya datang bulan. Artinya harus siap kram perut, lemas, dan sakit kepala.

Setelah makan, saya meminta Azka untuk tidur siang. Dia malah bermain kesana-kemari sampai hilang sendiri rasa kantuknya. Di sisi lain perut saya makin sakit, namun Azka masih terlihat aktif cerah berseri. Untuk itu saya namakan detik ini dengan sabar keenam.

Berhubung waktu sudah menujukkan pukul 14.30 artinya sudah tiga puluh menit lewat dari target waktu mulai bersih-bersih, saya langsung berkata pada Azka bahwa saya harus mulai menyapu dan mengepel. Hampir tantrum, namun dia meredakan sendiri emosinya dan mulai membantu saya membersihkan. Mulai dari memasukkan mainannya dan menyapu serta mengepel semampunya. Setelah selesai bersih-bersih, saya minta Azka untuk mandi lalu mengajaknya kembali tidur siang di pukul 15.30.

Ketika tulisan ini dibuat, dia baru saja tertidur kemudian saya menyadari satu hal. Benar bahwasannya jika sebelum beramal kita wajib berilmu. Dengan rentetan guncangan ujian kesabaran, satu-satunya cara adalah dengan ilmu. Otak kita akan menyadari secara penuh bahwa ini bukan sesuatu yang harus diselesaikan dengan meledak-ledak. Namun sebaliknya. Harus tenang dan tahu titik di mana harus bertindak. Coba jika tidak ada ilmu. Maka tantrum anak berujung murka orang tua. Padahal, murka orang tua akan sejalan dengan murkanya Allah. Naudzubilahimindzalik.

Semoga saya dan semua ibu terhindar dari rasa emosi yang menyebabkan lisan dan batin kita terbalik dari fungsinya semula. Aamiin.